Anak itu Aset bukan Beban
Potret keluarga Misbahul Huda. (Dok. Pribadi)

Suaramuslim.net – Pernahkah merasa lelah mendidik anak? Pertanyaan senada sering dialamatkan pada saya segera setelah penanya tahu anak saya enam; “Gak repot mas?!” “Anakku hanya dua saja, duuh capeknya??” Itu adalah bukti bahwa Anda belum menikmati proses mendidik anak.

Berat atau ringan mendidik anak tidak ditentukan oleh berapa jumlah ananda, tetapi tergantung persepsi kita tentang anak. Segera ubah mindset dan persepsi kita tentang anak: bahwa anak-anak itu aset, bukan beban (biaya). Jika memposisikan anak sebagai aset, pasti terasa ringan dan akan dipentingkan. Sebaliknya jika anak kita anggap sebagai beban maka pastilah cenderung diabaikan atau bahkan disingkirkan, karena terasa melelahkan.

Anak salih yang bisa mendoakan orang tuanya, itu aset akhirat. Ketika kita meninggal, maka terputus semua amal dan kepemilikan. Yang masih tersambung hanyalah amal jariyah kita. Dan kepemilikan yang masih bisa dinikmati adalah anak kita, dialah yang paling berhak menshalatkan dan mendoakan kita, bukan lainnya. Itulah aset akhirat. Kalau anak adalah aset, maka pasti kita ingin memilikinya sedikit atau banyak.

Baca Juga :  Harmoni Mengawal Nilai dalam Mengasuh Anak

Hilangkan anggapan bahwa anak-anak itu beban. Anak-anak kita tidak numpang hidup pada kita, karena bayi terlahir sudah lengkap membawa rezekinya, Allah sudah menjamin mencukupkan kehidupannya. Janganlah Anda sombong, seolah-olah menjadi orang yang paling berjasa menafkahi dan menghidupi anak-anak dan keluarga.

Yang menjadi masalah adalah kita belum percaya pada Allah secara kaffah (utuh) bahwa Anak itu kekayaan di dunia dan akhirat. Pendapat yang tidak ingin punya banyak anak dengan alasan biaya hidup dan pendidikan mahal, itu pertanda masih menganggap anak sebagai beban (costly). Sekilas sepertinya logis, tapi itu bisa menjadi indikator bahwa iman belum berperan signifikan.

Rasulullah bersabda: “Kamu (anak lelaki) dan hartamu adalah ‘aset’ milik orang tuamu.” Artinya, walaupun sudah menikah, orang tua punya hak atas harta kita. Anak-anak yang kita dorong untuk menghafal Al Quran 30 juz kelak di hari kiamat yang mendapat keistimewaan bukan hanya anak itu, tapi juga orang tuanya akan menerima mahkota.

Apakah kita baru bahagia menunggu setelah anak kita sukses prestasinya, menjadi sarjana, mendapat kerja, berkeluarga dan kaya atau yang lainnya? Betapa hal itu terlalu lama untuk menderita menunggu datangnya hari bahagia. Apalagi kalau anaknya banyak.

Baca Juga :  Anak Pandai Mengancam, Salah Siapa?

Mendidik anak itu persis seperti menanam pohon. Allah berfirman dalam QS 3:35-37, besarkanlah anak dengan pertumbuhan yang baik. Allah juga berbicara (tanaman) ini ketika Rasul mendidik sahabat-sahabatnya. Dalam surat ini, belum panen saja Allah sudah memberikan kebahagiaan, apalagi ketika panen raya? Petani itu bahagia saat tanamannya tumbuh baik, padahal belum panen. Bahagia, saat hujan turun, padahal belum menanam. Jadi bahagia itu tidak harus menunggu panen, jangan menunggu sampai anak besar. Asal prosesnya baik, maka orangtua akan bahagia sepanjang pertumbuhan usia anaknya.

*Diambil dari buku “Bukan Sekadar Ayah Biasa” karya Misbahul Huda. Buku yang bercerita bagaimana pengalaman ayah hadir dalam pengasuhan anak.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.