Antara Bipang dan Jipang

Antara Bipang dan Jipang

Ilustrasi Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Ilustrator: Ana Fantofani
Ilustrasi Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Ilustrator: Ana Fantofani

Suaramuslim.net – Maunya mengklarifikasi untuk membela Presiden soal Bipang, namun apa yang dilakukan Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman justru membelokkan apa yang dipromosikan Presiden.

Berkaitan dengan larangan mudik lebaran, Presiden mengajak masyarakat untuk bisa menikmati jajanan kampung dengan memesan secara online. Presiden menyebut salah satu makanan itu adalah Bipang Ambawang dari Kalimantan. Bipang itu tidak lain adalah babi panggang khas Kalimantan Barat. Sementara Fadjroel Rachman sebagai Juru Bicara (jubir) Presiden mengklarifikasi bahwa Bipang yang dimaksud adalah makanan khas Pasuruan dari beras.

Apa yang dilakukan Jubir Presiden bukannya mengklarifikasi tetapi justru mengaburkan dan ingin menutup-nutupi serta meredam gejolak masyarakat terhadap Bipang.

Bipang dan Jipang

Video Presiden Joko Widodo awalnya mengingatkan saat ini pemerintah melarang mudik lebaran demi keselamatan warga di tengah pandemi Corona. Saat ini Jokowi mengimbau warga yang rindu kampung halaman untuk memesan kuliner khas daerah secara daring. Salah satu yang disebut adalah Bipang Ambawang dari Kalimantan Barat, yakni makanan babi panggang.

Masyarakat pun heboh membincangkan apa yang dipromosikan Presiden tentang Bipang Ambawang. Sebagai masyarakat mayoritas muslim tentu sangat heran dengan promosi babi panggang di mana makanan itu diharamkan untuk dimakan, namun Presiden justru mempromosikan di tengah masyarakat.

Terlebih lagi, apa yang dilakukan oleh Fadjroel dengan mengatakan bahwa Bipang yang dimaksud adalah Jipang, makanan dari beras khas Pasuruan, justru mengaburkan dan menutup-nutupi apa yang disampaikan presiden. Bisa jadi sebagai Jubir ingin meredam gejolak yang terjadi di tengah masyarakat tentang makanan yang tak layak disebut di kalangan kaum muslimin.

Namun klarifikasi ini bukannya membuat masyarakat lega dan menerimanya tetapi justru membuat masyarakat semakin kuat dugaan bahwa presiden tidak memiliki sense of religion terhadap umat Islam.

Sebagai presiden berpenduduk mayoritas muslim, seharusnya memberi ide atau gagasan yang mengajak masyarakat untuk berperilaku dan bersikap yang mencerminkan agamanya. Ajakan memakan Bipang Ambawang jelas jauh dari sikap mengedepankan nilai-nilai agama.

Bisa jadi apa yang dilakukan presiden sebagai bentuk pluralitas masyarakat akan pilihan makanan dari berbagai daerah. Namun sebagai seorang muslim, apa yang dipromosikan jelas akan menyinggung perasaan umat Islam, babi merupakan makanan haram yang dilarang untuk dikonsumsi.

Babi memang menjadi makanan halal bagi kelompok non-muslim, dan makanan itu sudah diketahui sebagai makanan yang harus dijauhi oleh kaum muslimin. Sementara ajakan Presiden tidak mencerminkan aspirasi di tengah masyarakat yang mayoritas muslim.

Dengan adanya promosi ini, kaum muslimin justru semakin curiga keberagamaan Presiden yang tidak mencerminkan seorang muslim.

Ketika Fadjroel Rachman mengatakan bahwa yang dimaksud Presiden adalah Jipang, makanan khas dari Pasuruan berupa beras, maka makanan itu jelas kurang layak. Makanan Jipang itu hanyalah jajan biasa dan tidak semua masyarakat mau menikmatinya. Karena Jipang adalah jajanan di era tahun 70-an dan saat itu masih belum ada makanan yang lebih enak. Sementara saat ini, sangat banyak makanan yang bisa diandalkan.

Sementara Jipang bagi generasi milenial, tidak dikenal. Mereka menganggap bahwa Jipang hanyalah jajanan untuk orang-orang terdahulu, sebagai sebagai jajanan nostalgia.

Saat ini sudah banyak jajanan yang lebih enak dan nikmat serta layak untuk dinikmati keluarga ketika lebaran. Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh Jubir Presiden hanya mengalihkan isu dari Bipang ke Jipang. Hal ini sebagai uapaya untuk meredam opini yang berkembang di masyarakat bahwa Presiden mempromosikan Bipang (babi panggang).

Masyarakat sudah cerdas dengan realitas yang berkembang, dan mereka sudah bisa menilai bahwa Bipang bukan hanya makanan tak layak bagi kaum muslimin, tetapi justru makanan yang wajib dijauhi karena makanan larangan (haram) yang harus dijauhkan dari generasi Islam.

Sebagai Presiden yang penduduknya mayoritas muslim sudah selayaknya menghindari pernyataan yang kontraproduktif sehingga membuat masyarakat semakin tidak simpati. Dan yang tak layak dilakukan oleh Jubir Presiden, bukannya mengklarifikasi apa yang menjadi gejolak di masyarakat, tetapi justru menutup-nutupi realitas guna melindungi Presiden dari opini publik yang menganggap Presiden tidak aspiratif terhadap umat Islam.

Surabaya, 8 Mei 2021
Dr. Slamet Muliono Redjosari
Opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan, dapat memberikan hak jawabnya. Redaksi Suara Muslim akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment