Suaramuslim.net – Pancasila bukan hanya sekadar urutan sila dari 1 sampai 5, tetapi sebuah alur pemikiran, alur nilai, bahkan alur pembangunan manusia dan bangsa.
Urutannya tidak asal dibuat. Ada input. Ada proses. Ada output.
Kalau dianalogikan seperti dunia teknik dan sistem, maka Pancasila sebenarnya adalah sebuah sistem besar yang saling terhubung.
Sila pertama dan kedua menjadi input nilai.
Sila ketiga dan keempat menjadi proses kebangsaan.
Dan sila kelima menjadi output akhirnya.
Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa.
Di sinilah akar itu ditegakkan. Bahwa manusia Indonesia dibangun di atas kesadaran ketuhanan. Bahwa hidup bukan sekadar soal dunia, materi, jabatan, atau kepentingan sesaat.
Karena sesuatu yang dibuat, pasti ada petunjuk penggunaannya. Manusia diciptakan Tuhan. Maka “manual book”-nya adalah nilai-nilai ilahi dan kitab suci agama masing-masing.
Menariknya, nilai ketuhanan dalam Pancasila tidak berhenti pada hubungan vertikal kepada Tuhan saja.
Buah dari ketuhanan, adalah kemanusiaan.
Seperti dalam Islam. Salat dimulai dengan takbiratul ihram.
Menghadap Allah. Fokus kepada Allah.
Namun di akhir salat, justru ditutup dengan salam ke kanan dan ke kiri.
Artinya jelas.
Ibadah yang benar, tidak membuat manusia egois.
Tidak membuat merasa paling suci sendiri.
Tetapi justru melahirkan kepedulian sosial dan kemanusiaan.
Karena Tuhan tidak mengajarkan ego. Ketundukan kepada Tuhan, harus memancar menjadi kasih sayang kepada manusia.
Maka lahirlah sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Kemanusiaan yang tidak liar tanpa arah. Tetapi kemanusiaan yang memiliki pijakan moral dan spiritual. Sebab kalau manusia hanya berbuat baik karena manusia semata, kadang ia mudah kecewa.
Sudah menolong, tidak dihargai.
Sudah membantu, tidak diingat.
Akhirnya lelah.
Tetapi ketika semua kebaikan dipersembahkan karena Tuhan, maka manusia menjadi lebih ikhlas. Karena orientasinya bukan pujian manusia. Tetapi ridha Sang Pencipta.
Di sinilah sila pertama dan kedua menjadi input utama bangsa.
Input nilai.
Input moral.
Input karakter manusia Indonesia.
Lalu setelah manusia-manusia yang berketuhanan dan berperikemanusiaan itu terbentuk, masuklah ke tahap proses kebangsaan.
Lahirlah sila ketiga, Persatuan Indonesia.
Indonesia terlalu besar untuk dibangun dengan ego kelompok.
Terlalu luas untuk dipertahankan dengan fanatisme sempit.
Ribuan pulau.
Ratusan suku.
Beragam bahasa dan budaya.
Maka perekatnya bukan sekadar kepentingan.
Tetapi nilai.
Dan orang yang mampu bersatu, biasanya adalah orang yang kuat sisi ketuhanannya dan matang sisi kemanusiaannya.
Karena orang yang dekat dengan Tuhan, tidak mudah merendahkan manusia lain.
Dan orang yang benar kemanusiaannya, tidak mudah memecah persaudaraan.
Sila ketiga ini adalah proses integrasi bangsa.
Menyatukan berbagai perbedaan menjadi satu sistem besar bernama Indonesia.
Namun persatuan tidak cukuup hanya menjadi simbol.
Ia harus dikelola.
Maka lahirlah sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
Artinya, bangsa besar tidak boleh dibangun dengan ego satu orang.
Harus ada musyawarah.
Harus ada hikmah.
Harus ada kebijaksanaan.
Bukan sekadar siapa paling keras suaranya.
Tetapi siapa yang paling jernih hati dan pikirannya.
Kalau sila ketiga adalah proses integrasi, maka sila keempat adalah proses pengambilan keputusan bangsa.
Processor-nya bangsa Indonesia.
Akhirnya, seluruh perjalanan itu bermuara pada sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Inilah output akhirnya.
Ketuhanan, melahirkan kemanusiaan.
Kemanusiaan, melahirkan persatuan.
Persatuan, melahirkan musyawarah yang bijak.
Dan semua itu, bermuara pada keadilan sosial.
Jadi sila kelima bukan berdiri sendiri.
Ia adalah hasil dari empat sila sebelumnya.
Kalau ketuhanan rusak, keadilan akan rusak.
Kalau kemanusiaan hilang, keadilan jadi kepentingan.
Kalau persatuan pecah, keadilan sulit ditegakkan.
Kalau musyawarah hilang hikmah, keadilan berubah menjadi kekuasaan.
Maka Pancasila sebenarnya seperti sebuah sistem yang saling terhubung.
Seperti dunia teknik.
Kalau input salah, proses akan bermasalah.
Dan kalau proses bermasalah, output juga tidak bisa diharapkan.
Karena dalam sistem apa pun:
Input menentukan proses.
Proses menentukan output.
Dan output menentukan masa depan bangsa.
Dr. Ir. Firman Arifin, S.T., M.T.
Dosen dan Wakil Direktur Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).

