Antara Kebutuhan Politik dan Kemanusiaan

Suaramuslim.net – Setiap orang pasti mempunyai kebutuhan. Kebutuhan manusia dalam pandangan Maslow ada bertingkat-tingkat. Mulai dari yang bersifat dasar, fisiologis sampai dengan yang tertinggi berupa kebutuhan untuk bisa beraktualisasi.

Saya mencoba mengambil cerita dari status sahabat saya, ustadzah Iin Indarti dari Magetan yang menuliskan cerita kebutuhan hukum dan kebutuhan kemanusiaan, tulisannya seperti ini:

“Helen… Seorang perempuan kulit hitam di Alabama tertangkap basah mencuri dari sebuah supermarket.

Denis… Polisi yang dipanggil untuk menahannya menemukan bahwa yang dicuri Helen hanyalah 5 butir telur. Ia tidak jadi menangkapnya.

“Aku mencuri ini sebab aku dan anak-anakku 2 hari ini belum makan”, ratap Helen yang membuat hati Denis teriris.

Polisi itu lalu mengantarnya pulang ke rumah setelah membelikan untuknya sekeranjang telur. Keesokan harinya, Denis dan rekan-rekannya sesama polisi datang ke rumah Helen dengan 2 mobil penuh makanan dan keperluan sehari-hari.

“Engkau tidak perlu melakukan ini”, kata Helen haru sambil memeluk polisi itu.

Denis berkata, “Kadangkala kebutuhan kita pada kemanusiaan lebih besar daripada kebutuhan kita pada hukum”.

Baca Juga :  Blangko E-KTP Kosong Dijual Bebas, Kriminalitas atau Politis

Moral cerita di atas adalah bagaimana kita melakukan kerja-kerja kita, tapi tidak boleh melupakan rasa kemanusiaan, sehingga kita akan selalu berhati-hati ketika akan berbuat.

Dalam kehidupan politik seringkali kita terjebak dalam kepentingan yang sempit, kepentingan pribadi, kepentingan kelompok atau golongan, kepentingan partai, padahal sejatinya politik bertujuan mewujudkan apa yang menjadi kebutuhan dan kepentingan rakyat. Kepentingan rakyat adalah kebutuhan kemanusiaan.

Kebutuhan politik kita tereduksi menjadi sempit, dan menjadi kawan vs lawan. Siapa pun yang tidak sama cara mencapai tujuan politiknya dengan saya, maka dia adalah musuh saya. Nah, apa yang terjadi sekarang ini, potret sempit dari cara berpolitik kita. Rakyat menjadi terbelah, saling menghujat dan melemahkan. Tak ubahnya kalau Anda menyaksikan tayangan wild animal dalam mata rantai kehidupan. Saling menikam dan saling memangsa. Lalu kita ini sejatinya mengikuti siapa? Apakah Pancasila mengajarkan seperti ini?

Tujuan Negara Mewujudkan Kebutuhan Kemanusiaan

Dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa tujuan bernegara kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mensejahterakan. Semestinya apa yang menjadi tujuan itu menjadi “guidance” bagi arah perpolitikan kita. Cara boleh berbeda, tapi juga harus dipahami bahwa perbedaan cara bukanlah berarti kemudian harus bermusuhan.

Baca Juga :  Politik dalam Pandangan Islam

Tujuan kemanusiaan hanya bisa dicapai kalau memggunakan cara-cara kemanusiaan. Cara kemanusiaan adalah cara mencapai tujuan dengan keadaban bukan dengan cara biadab. Menghalalkan segala cara dan menganggap musuh semua yang berbeda.

Mewujudkan kembali cara keadaban membangun negara sejatinya adalah teladan yang diberikan para pendiri bangsa. Bagaimana Buya Hamka, M. Natsir dan lain-lain bisa bersanding dengan Soekarno yang berbeda sudut pandang dalam meneguhkan keindonesaannya, tapi mereka tetap bisa berkawan.

Lalu kita ini meniru siapa? Kalau cara berpolitik kita seperti saat ini, menghalalkan segala cara, menebar kebencian, memusuhi mereka yang dianggap berbeda.

Merenungkan kembali kebhinekaan dan berpancasila, semoga menjadikan keindonesiaan kita berada di jalan yang benar.

*Ditulis di Surabaya, 6 Juni 2018
*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.