Antara Waktu Sahur, Ketaqwaan dan Keshalihan Sosial

Suaramuslim.net – Terma “al-ashaar” (waktu Sahur), yaitu penghujung malam sebelum fajar shodiq/Shubuh, dua kali disebut di dalam Al Quran, yaitu QS. Ali Imron: 17 dan Adz-Dzaariyaat: 18.

Kedua ayat ini menjelaskan amalan terbaik di waktu Sahur, yakni beristighfar. Kedua ayat tersebut didahului oleh dua ayat yang di dalamnya sama-sama terdapat kata-kata “orang-orang yang bertakwa”. (QS. 3: 15, 51: 15)

Dari dua himpunan ayat ini dapat diketahui bahwa salah satu ciri dan bukti orang bertakwa dalam aspek keshalihan individual adalah beristighfar di waktu Sahur. Mereka beristighfar di waktu Sahur setelah sebelumnya “mereka sedikit sekali tidur di malam hari”. (QS. 51: 17)

Makna firman Allah subhanahu wa ta’ala yang berarti: Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam menurut Al-Hasan Al-Basri adalah mereka mendirikan sholat malam hari dengan keteguhan hati, karenanya mereka sedikit tidur di malam hari. Mereka melaksanakannya dengan penuh semangat hingga masuk waktu Sahur, sehingga mereka beristighfar di waktu Sahur.

Ciri dan bukti orang bertakwa

Dari kedua himpunan ayat itu juga bisa diketahui ciri dan bukti orang bertakwa dalam aspek keshalihan sosial, yaitu mengeluarkan sebagian harta di jalan-jalan ketaatan yang diperintahkan kepada mereka, bersilaturahmi, memberikan santunan, dan menolong orang-orang yang membutuhkannya (QS. 3: 17), dan membayar zakat, bersedekah dan bersilaturami (QS. 51: 19).

Baca Juga :  Bersedekah pada Akhir Ramadhan

Kedua aspek ini merupakan kunci masuk surga. Bukan salah satu aspek saja, aspek individual saja, atau aspek sosial saja. Hal ini juga dapat diketahui dari kedua kelompok ayat tersebut (QS. 3: 15,  51: 15).

Korelasi yang erat antara keshalihan indivual, keshalihan sosial dan surga ini juga bisa diketahui dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di bawah ini,

Artinya: “Sesungguhnya di dalam surga terdapat gedung-gedung yang bagian luarnya dapat dilihat dari bagian dalamnya, dan bagian dalamnya dapat dilihat dari bagian luarnya. Abu Musa Al-Asy’ari Ra. bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah gedung-gedung itu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: Untuk orang yang lembut dalam tutur katanya, dan gemar memberi makan (fakir miskin), serta melakukan salat malam harinya karena Allah subhanahu wa ta’ala di saat manusia lelap dalam tidurnya.” (HR. Imam Ahmad)

Dalam riwayat lain beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Wahai manusia, berilah makan, hubungkanlah tali persaudaraan, sebarkanlah salam, dan shalatlah di malam hari pada saat manusia lelap dalam tidurnya, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.”

Bulan Ramadhan adalah sebuah madrasah terbaik untuk mencapai derajat takwa. Ada tiga amal yang bisa dikerjakan di madrasah ini untuk mencapai derajat takwa. Ketiga amal tersebut adalah berpuasa di siang hari, Qiyamul lail dan bersedekah/berinfaq.

Baca Juga :  Di Balik Seruan Marhaban Ya Ramadhan

Semoga seusai menjalani proses tarbiyah di Madrasah Ramadhan tahun ini, kita berhasil mencapai derajat taqwa sebagai bekal untuk meraih kebahagiaan di dunia, terutama di akhirat.

Semoga setelah keluar dari madrasah ini kita tetap mampu mempertahankan derajat taqwa dengan jalan istiqomah mengerjakan ketiga amal tersebut. Sebagai tanda bahwa kita telah dan tetap berada pada derajat taqwa adalah kita mudah, senang dan ringan melakukan amal keshalihan individual dan sosial kapan pun dan di mana pun.

Wallahu a’lam bish-showab.

Penulis : Abdullah al-Mustofa*
Editor: Muhammad Nashir

*Anggota MIUMI Kediri Jawa Timur
*
Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.