Apa Bedanya Mukmin dan Orang Beriman?

0
Ilustrasi laki-laki membaca Al-Quran. Ils: Pixabay.com

Suaramuslim.net – Setelah pasukan Badar memenangkan peperangan secara mutlak, dan menghasilkan ganimah (rampasan perang) yang banyak maka terjadilah keributan kecil terkait pembagian ganimah.

Namun setelah turun surat Al-Anfal ayat 1 yang menjelaskan bahwa pembagian ganimah itu dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka langsung sami’na wa atho’na (mendengar dan menaati).

Nah, sikap yang responsif positif itulah yang kemudian dipuji Allah sebagai mukmin sejati yang memiliki lima ciri. Allah mengungkapkannya di surat Al-Anfal pada ayat kedua hingga ayat keempat.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنفِقُونَ

أُو۟لٰٓئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُمْ دَرَجٰتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”

“(Yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.”

Di dalam Al-Qur’an, ketika menyebut “orang-orang yang beriman” itu menggunakan dua diksi , yaitu الذين امنوا (alladzina aamanu) kita menggunakan terjemahannya dengan ‘orang beriman’ dan المؤمنين (al-mukminin atau al-mukminun) kita menggunakan padanannya dengan ‘orang mukmin’ saja, karena agak sulit mencari padanan terjemahan yang pas.

Ini ada bedanya, kalau ‘orang beriman’ adalah mereka yang beriman, namun tidak menyifati jiwanya dengan keimanan yang melekat. Adapun orang mukmin adalah orang yang telah menyifati jiwanya dengan keimanan yang mantap lagi melekat dalam kehidupannya.

Ini bisa dipahami dari contoh perbedaan penyanyi dan yang bernyanyi atau pencuri dan yang mencuri. Yang pertama penyanyi dan pencuri mengesankan bahwa menyanyi atau mencuri adalah profesi yang bersangkutan yang melekat kepada dirinya atau telah berulang-ulang dia lakukan sehingga mendarah daging dan membudaya pada dirinya. Sedang yang kedua yang bernyanyi dan mencuri digunakan menunjuk seseorang walau baru sekali ia menyanyi atau mencuri. Karena itu tidak semua yang bernyanyi adalah penyanyi.

So… Itulah kenapa ketika menjelaskan sifat-sifat keimanan sahabat pada ayat di atas Allah menggunakan diksi ‘al-mukminun’ bukan ‘alladzina amanu.’ Karena seolah hanya yang mantap keimanannya saja yang memiliki lima sifat itu. Dan siapapun yang belum memiliki lima sifat itu maka tidak layak disebut ‘orang mukmin’ dia hanya sebagai ‘orang beriman.’

Ada sebuah riwayat yang menakjubkan dari seorang ulama tabi’in hebat, yaitu Syekh Hasan Al Bashri. Dikisahkan ada seorang yang bertanya kepada beliau;

“Wahai Abu Sa’id, apakah Anda seorang mukmin?” Maka beliau menjawab: “Iman itu ada dua. Kalau engkau bertanya padaku tentang iman:

  1. Kepada Allah
  2. Kepada malaikat-malaikat-Nya
  3. Kepada kitab-kitab-Nya
  4. Kepada rasul-rasul-Nya
  5. Kepada al-jannah (surga) dan an-nar (neraka)
  6. Kepada hari kebangkitan
  7. Dan kepada hari perhitungan amal

Maka aku beriman dengan semuanya. Akan tetapi jika engkau bertanya kepadaku tentang firman Allah surat Al-Anfal 2-4. Demi Allah aku tidak tahu apakah aku termasuk mereka atau bukan.”

Masya Allah, kalau seorang Hasan Al Bashri mengaku belum merasa ‘seorang mukmin’ bagaimana dengan kita?

Karena itu kita harus terus berproses meningkatkan diri untuk menjadi pribadi mukmin. Di antaranya dengan menyifati diri dengan sifat-sifat di bawah ini;

Memiliki rasa gentar hatinya kepada Allah

Allah berfirman:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka.” (Al-Anfal: 2).

Hanya orang yang berimanlah, yang jika disebutkan nama Allah, gemetar hatinya, ada rasa takut dalam hatinya. Rasa takutnya justru adalah sebagai bentuk mengagungkan asma Allah. Maka, jika ia berkeinginan melakukan perbuatan dosa atau maksiat, ia pun segara teringat Allah dan takut melaksanakannya. Dan juga ketika teringat nama Allah yang terjadi bergetar hatinya karena kerinduan yang tinggi sebagai buah cinta kepada-Nya.

Bertambah imannya jika dibacakan ayat Al-Quran

Allah berfirman pada lanjutan ayat:

وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا

“Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya).” (Al-Anfal: 2).

Hal ini menjadi bukti keimanan seseorang ketika Al-Qur’an dibaca, baik oleh dirinya ataupun orang lain.

Ketika dibacakan kepadanya ayat-ayat Allah, semakin yakin dan membenarkan kebenaran ayat-ayat-Nya. Sehingga semakin mantap untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Ketika dibacakan ayat hijab, bersegera menutup auratnya, ketika dibacakan ayat zakat, bersegera menunaikannya, ketika ada ayat ghibah ia membenarkan dengan menjauhinya. Inilah makna bertambahnya keimanan.

Bertawakkal hanya kepada Allah

Allah berfirman dalam lanjutan ayat:

وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal.” (Al-Anfal: 2).

Makna tawakal menurut ulama tafsir, Dr. Wahbah Az-Zuhaily ketika menafsirkan ayat tersebut, berpegang dan percaya serta menyerahkan segala sesuatu hanya pada-Nya.

Orang-orang yang hanya bertawakal dan mengadu kepada Tuhannya, tidak berharap kepada selain-Nya, tidak meminta berbagai kebutuhan kecuali kepada-Nya tentunya setelah berusaha dan mengambil sebab, siapa yang mengerjakan usaha-usaha yang dituntut darinya secara logika dan kebiasaan manusia lalu ia menyerahkan sepenuhnya kepada Allah, dan ia yakin bahwa segala sesuatu di tangan Allah, ia termasuk orang yang beriman.

Wahbah Az-Zuhaily melanjutkan, adapun orang yang tidak mau berusaha atau mengambil sebab, berarti ia tidak memahami (bodoh) pengertian dari tawakal. (Al-Munir, Wahbah Az-Zuhaily juz 5/260).

So… Kalau ada orang di saat pandemi Covid-19 ini masih belum berakhir, tidak berusaha mencegahnya dengan bermasker, mencuci tangan dan sosial distancing, maka ia termasuk orang bodoh yang tidak memahami syariat tawakal yang benar.

Menjalankan ibadah salat secara benar dan berkesinambungan

Yaitu salat khusyuk, salat yang secara minimalis menyempurnakan rukun-rukunnya, syaratnya baik terkait berdirinya, rukuk dan sujudnya.

Berinfak di jalan Allah

Inilah yang dimaksud Allah dengan firman-Nya: “Mereka yang menyifati dengan sifat-sifat di atas sebagai mukmin yang sebenarnya.”

Yang balasannya ada tiga;

  1. Derajat yang tinggi di akhirat.
  2. Ampunan Allah
  3. Rezeki yang mulia, sempurna dan terasa manfaatnya.

Wallahu A’lam

Disampaikan di Radio Suara Muslim Surabaya 93.8 FM dalam program Motivasi Al-Qur’an. Kamis 13 Agustus 2020-23 Zulhijah 1441 H.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here