Aset Masjid Sebenarnya
Jemaah shalat (Foto: bersamadakwah.net)

Suaramuslim.net РDalam terapan manajemen modern, setiap perusahaan dituntut untuk mendefinisikan apa aset terbaik mereka. Apa aset utama organisasi mereka. Penentuan ini jadi sangat penting, karena pada asetlah semua energi organisasi tercurah.

Mari kita menyimak masjid kita hari ini. Apa aset masjid sebenarnya? Apa yang sangat diperhatikan oleh Dewan Kemakmuran Majid (DKM)? Kemanakah perhatian dan energi DKM tertuju?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, ijinkan saya membangun analogi sederhana pada paparan di bawah ini.

Kita semua tahu perusahaan Go-Jek. Perusahaan ini mendigitalkan moda transportasi tradisional ojek ke dalam sebuah aplikasi smartphone. Anda bisa memesan ojek dari HP Anda, jelas tarifnya, jelas rider-nya, jelas jaraknya, bahkan Anda bisa memberikan penilaian pada pengendara.

Lalu mari kita simak, apa sebenarnya yang menjadi aset utama Gojek? Motornya punya mitra. Pengendaranya juga bukan karyawan, mitra. Mereka tidak punya motor dan bengkel sama sekali. Lalu apa aset utama mereka?

Inilah yang kita tidak sadari, aset utama Go-Jek adalah pengguna Go-Jek itu sendiri. Itulah aset utama mereka.

Setelah jutaan orang menggunakan Go-Jek, perusahaan ini lalu berkembang melayani apapun yang dibutuhkan pengguna. Lahirlah Go Food untuk pesan antar makanan, Go Massage untuk pesan pijat, Go Clean untuk bersih-bersih rumah, dan masih banyak lagi. Mungkin akan hadir ratusan layanan pada suatu masa nanti, dari perusahaan ini.

Baca Juga :  Menghadirkan Gagasan Pemberdayaan Masjid

Pada kebutuhan pembayaran pun, lahirlah GoPay. Hal ini akhirnya membuat perbankan ketar-ketir, karena GoPay bisa mendisrupsi perbankan sebagai terobosan fintech.

Intinya sederhana: di benak perusahaan GoJek, aset utama bisnis adalah pengguna. Karena pada marketlah uang berada. GoJek sangat paham dimana lokasi penggunanya, usianya, karakteristiknya, pola perilakunya. Jika Anda sudah memiliki pasar yang begitu detail datanya, Anda bisa berjualan apa saja kepada mereka. Itulah aset bagi mereka.

Wardah pernah mengalami kebakaran pabrik. Bu Nur bercerita kepada kami. Habis semua. Tak bersisa. Tak disangka, dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun, pabrik kembali tegak berdiri lagi. Bukan karena kuatnya modal, tetapi karena dukungan dari supplier.

Supplier mendorong Wardah untuk bangkit. Bahan baku kembali disupply. Pembayaran dipermudah. Semua bisa jalan baik. Mengapa? Karena Wardah memiliki aset utama yang tidak ikut terbakar: pelanggan.

Sebuah perusahaan yang memiliki pelanggan, bisa sangat mudah untuk bangkit, walau harus kehilangan pabrik, karena potensi cashflow ada pada market. Pabrik boleh terbakar, tetapi selama brand dan market masih eksis, dukungan vendor dan supplier adalah sebuah keniscayaan.

Baca Juga :  Hukum Dana Zakat untuk Pembangunan Masjid

Berbeda jika yang “terbakar” adalah market. Pelanggan pergi. Market tidak lagi percaya pada Anda. Walau pabrik Anda tegak kokoh, di situlah kebakaran sebenarnya. Percuma. Produk Anda susah terjual.

Kembali ke masjid. Apakah aset utama masjid adalah sound system? Sehingga seluruh energi DKM habis menjaga sound system. Apakah aset utama masjid adalah karpet tebal yang baru dibeli? Sehingga kegiatan di dalam ruang masjid tidak boleh terlalu banyak, sayang akan karpetnya. Lalu apa aset sebenarnya?

Merujuk pada paparan di atas, kita akhirnya sadar bahwa aset utama masjid adalah jemaah itu sendiri. Jemaahlah aset utama masjid. Dan inilah yang harus menjadi budaya pada sebuah masjid: Jamaah Focus Based, masjid yang berfokus melayani jemaah.

Masjid bisa saja kehilangan sound system, tetapi selama jemaah masih ada, dalam hitungan hari sound system bisa kembali. Masjid bisa saja mengalami kerusakan pada karpet, selama masjid punya jemaah loyal yang solid, karpet bisa diganti.

Maka di titik inilah sebuah masjid harus merevolusi pemikirannya. Para DKM harus menggeser pemahamannya terhadap jemaah.

Baca Juga :  Tiga Masjid di Surabaya Menjadi Saksi Dakwah Para Wali

Masjid yang meyakini jemaah sebagai aset utama, akan sangat menghargai jemaah yang hadir ke masjid.

Ibadah ritual akan dipastikan nyaman.

Parkiran dipikirkan.

Thaharah dipersiapkan baik.

Ruang ibadah utama sejuk.

Program taklim dan edukasi dihadirkan sesuai dengan kebutuhan jemaah, bukan asal silabus.

Wahana untuk anak muslim dipikirkan, karena mereka adalah generasi jemaah berikutnya.

Program untuk anak muda muslim dibuat serius, karena inilah potensi besar jemaah. Dan banyak hal lainnya.

Pada akhirnya, ketika sebuah masjid benar-benar mengelola dengan baik jemaah sebagai aset utama, insyaAllah kebangkitan diin (agama) ini akan segera tiba.

Risalah Masjid Cahaya
Rabu, 2 Januari 2019

Penulis: Rendy Saputra (Ketua Jejaring Masjid Titik Cahaya)

Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.