Bangkitnya Kesadaran Politik Umat

48
Bangkitnya Kesadaran Politik Umat
Fuad Amsyari bersama Sekum MUI Jatim dalam talkshow di radio Suara Muslim Surabaya 93.8 FM. (Foto: Suaramuslim.net)

Suaramuslim.net – Reuni Alumni 212 (2/12/2018) benar-benar ibarat super magnet yang luar biasa, sebuah magnet yang mampu menarik dan menghadirkan semua individu mukmin dari lintas organisasi masyarakat, tidak memandang suku, ras bahkan agama sekalipun.

Banyak kalangan berpendapat bahwa peristiwa politik yang terjadi pada 2018 dan 2019 akan menjadi momentum bagi umat Islam untuk menunjukkan jati dirinya di pentas politik nasional. Pendapat ini tak bisa dilepaskan dari fenomena politik 212 yang dianggap sebagai titik awal kebangkitan politik Islam di Tanah Air. Benarkah seperti itu? Radio Suara Muslim Surabaya mencoba mendiskusikannya bersama para pakar dalam talkshow Ranah Publik (7/12)

-Advertisement-

Gerakan Silaturrahim Nasional

Anggota Dewan Kehormatan Ikatan Cendekiawan Musim Indonesia (ICMI), dr Fuad Amsyari, Ph.D dalam talkshow Ranah Publik Suara Muslim Surabaya 93.8 fm (7/12) mengatakan, peristiwa reuni 212 merupakan hal yang sangat mengharukan, kegiatan itu dimaksudkan sebagai ajang silaturahim bagian dari upaya mempererat persaudaraan di antara sesama umat Islam.

“Saya melihat reuni 212 suatu kebangkitan kesadaran politik, ternyata umat Islam dapat guyub jika ada sesuatu yang dirasa menganggu,” tuturnya.

Fuad menjelaskan, kasus 212 awalnya dipicu seseorang melakukan penghinaan terhadap kaum Muslim yang sangat mengganggu dan memprihatinkan. Upaya yang seperti itu terus dikembangkan agar terbentuk kesadaran untuk mengekspresikan keprihatinan.

Baca Juga :  Aksi 212 dan Gerakan Perlawanan Simbolik

“Jadi kesadaran levelnya dimulai dari tahu, mau dan melangkah. Nah reuni 212 ini sudah pada tahap melangkah, segala yang mereka miliki digunakan pergi ke Jakarta untuk mengekspresikan kebersamaan, ada sesuatu yang dianggap tidak adil,” ungkap Wakil Ketua Penasihat MUI Pusat Periode 2000-2005 ini.

Fuad menilai, dalam Islam terdapat sebuah perintah jihad, sejarah Islam menyebutkan,  wahyu pertama Rasulullah SAW turun di bulan Ramadan surat Al Alaq ayat 1-5, dalam surat itu disebutkan perintah pertama dalam Islam adalah mengenal Allah SWT.

“Setelah itu, Nabi SAW mendapat surah Al-Mudattsir yang merupakan wahyu kedua. Artinya, ini sebuah proses perintah berjihad, bangunlah dan sampaikan, setelah mengenal Allah SWT maka diperintahkan berjihad, apa yang sampaikan? Besarkanlah Tuhanmu itu,” ungkapnya.

Perintah Jihad dalam Berpolitik

Proses jihad itu, Fuad menegaskan, ada dua sisi. Pertama,  jihad di masa damai, dia ingin menyampaikan perasaan hati, keyakinan hati agar orang lain memahami saat umat muslim diganggu. Tipe kedua, politik. Politik itu bagian dari pembelaan umat Islam yang diganggu.

“Sering terjadi pada zaman Rasul SAW, gangguan terjadi dari para pembesar yang mempunyai kekuasaan melakukan penekanan terhadap umat Islam. Sehingga dalam Islam politik masuk dalam ranah jihad, ini yang tidak banyak disadari oleh umat,” tegas Fuad yang juga Ketua Umum Syarikat Islam Politik.

Baca Juga :  Masjid Qiblatain, Saksi Sejarah Pindahnya Arah Kiblat

Fuad mengatakan, umat Islam pada umumnya lebih mengikuti syariat secara mahdah (ibadah rutinitas yang ditentukan), perintah untuk mengembangkan, menyadarkan umat, mengajak umat sering ditinggalkan. Di situlah 212 itu betul-betul merupakan sebuah proses kprihatinan umat Islam yang diungkapkan dengan sangat indah.

“Jangan sampai umat Islam menjadi kelompok yang selalu menjadi sasaran buruk atau pun tuduhan yang tidak benar,” tuturnya.

Fuad melanjutkan, apa yang diajarkan Allah melalui Al Quran adalah kebenaran yang harus disampaikan, alhaqqu min rabbika falaa takuunanna min almumtariina, kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali ragu.

“jadi apa yang diajarkan dalam Al Quran itu kebenaran dan harus disampaikan, tentang proses penyampaian itu bervariatif, salah satu bentuk proses penyampaian melalui dakwah (menasehati) politik,” ucapnya.

Misi Politik Islam

Fuad menilai, politik itu bagaimana mengurus, mengelola, sebuah masyarakat yang plural dengan kebenaran yang diajarkan Allah SWT. Politik itu how to govern, who will govern. Siapa yang akan mengurus dan bagaimana caranya mengurus sebuah masyarakat?

“Islam harus berpolitik, di samping dakwah dalam bentuk nasihat, dalam jihad ada politik, memakai kebenaran untuk mengelola sebuah negara. Di situlah esensi dalam Islam, memberikan sumbangsih dari Islam untuk masyarakat yang beragam,” jelas Fuad yang pernah menjadi Dewan Penasihat KAHMI Nasional (2009-2013).

Baca Juga :  Blue Print Kebangkitan Islam di Indonesia

Fuad mencontohkan, saat ada seseorang memerintahkan untuk tidak mengkonsumsi minuman keras, janganlan berjudi. Itulah yang dinamakan sumbangsih Islam untuk masyarakat luas, suku apapun, agama apapun, inilah diperlukan misi politik, tidak mungkin dapat menampilkan sisi Islam yang rahmatan lil alamin jika tidak melalui politik.

“Maka Islam politik adalah, sesuatu proses bagaimana Islam bisa menyumbangkan kebenaran di dalam proses  pengelolaan masyarakat plular, jika dalam mengelola masyarakat nilai-nilai keburukan yang dominan, maka yang hancur kan masyarakat,” ungkapnya.

Misi politik Islam ada dua sisi. Pertama,  agar jangan sampai yang menjadi pemimpin dunia plural adalah orang yang salah, sehingga membawa kehancuran bagi masyarakat. Kedua, di saat memimpin tokoh yang baik jangan sampai meninggalkan tuntunan Allah SWT.

“Misi Islam politik seperti ini banyak yang dilecehkan, dihinakan, padahal mau kita adalah kontribusi kepada masyarakat plural. Sebetulnya, Islam itu mau menyumbangkan untuk Indonesia, tidak cukup sepeser uang seribu, dua ribu. Tetapi konsep, bagaimana mengurus Indonesia yang majemuk ini menjadi jaya dengan khasanah yang diajarkan oleh Allah SWT,” pungkasnya.

Kontributor: Dani Rohmati
Editor: Muhammad Nashir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here