Meniti Jalan Perjuangan

4
Meniti Jalan Perjuangan

Suaramuslim.net – “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (QS An Nisa: 95)

Melangkah ke alam perjuangan berarti rela dengan kepahitan. Biarlah diri menangis, terluka, kecewa asal tetap berada di jalan Allah, daripada mati tanpa syahid. Mungkin kita tidak sanggup selamanya terluka, tapi ingatlah setiap tetesan peluh dan darah dari luka dan air mata itulah mahar surga. Kenapa perjuangan itu pahit? Karena surga itu begitu manis.

-Advertisement-

Bila perjuangan itu belum menghasilkan apa-apa, maka janganlah berhenti. Karena berhenti adalah kekalahan sejati yang tak terlihat. Maka tetap melangkah tanpa kenal lelah adalah pilihan terbaik.

Bila perjuangan itu harus kalah, maka janganlah bersedih. Karena sikap menerima dengan hati terbuka adalah kemenangan sejati yang tak akan tertukar. Maka evaluasi dan introspeksi adalah sebuah keharusan yang harus dilakukan.

Bila perjuangan itu belum menunjukkan keberhasilan, maka janganlah berhenti berharap. Karena harapan adalah bahan bakar untuk tetap berada pada koridor perjuangan. Tak ada kata menyerah selama raga masih bisa melangkah.

Andai perjuangan ini mudah pasti banyak yang menyertainya. Andai perjuangan ini singkat, pasti banyak yang istiqomah di dalamnya. Andai perjuangan ini menjanjikan kesenangan dunia pasti banyak yang tertarik padanya. Tapi memang hakikat perjuangan memang tidak begitu.

Dalam setiap lelah ada cita-cita untuk menggapai khusnul khotimah. Dalam setiap peluh ada harapan untuk mendapat naungan Allah yang teduh. Dan dalam setiap derai air mata ada kerinduan untuk mencapai surga. Janji Allah adalah pasti. Kita hanya diminta bersabar sebentar di dunia, untuk kemudian menikmati berbagai hidangan surga yang kekal abadi selama-lamanya.

Meniti jalan perjuangan adalah kerja panjang, yang capaiannya tak akan pernah berujung. Bahkan mungkin kita tak akan menikmati hasil dari jerik payah serta cita yang kita perjuangankan ketika di dunia ini. Namun hati harus selalu yakin bahwa kerja kita untuk Allah, maka hanyalah Allah yang sanggup membalas dengan bayaran terbaik-Nya.

Mengutip perkataan Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani, ”Jalan Allah amatlah panjang, untunglah kita tidak diperintahkan untuk harus sampai ke ujungnya. Tugas kita hanyalah mati di atasnya. Meniti jalan Allah adalah safar panjang yang tak tampak garis akhirnya.”

Wallahu a’lam bishawab.

Santi Nur Fajarviana
Pengajar di SMPIT Bakti Ibu Madiun, aktif mengajar mulai pendidikan tsanawiyah. Penulis buku Sedekah Itu Indah, serta beberapa buku antologi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here