Bangsa Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Suaramuslim.net – Minggu malam ini (25/3/2018), saya menghadiri tasyakuran ulang tahun pernikahan sahabat saya Wawan dan Ega yang ke-7. Seperti pada acara-acara yang lain, doa-doa yang dipanjatkan adalah doa agar menjadi keluarga yang mawaddah wa rahmah, keluarga yang sakinah. Lantunan sholawat dan dzikir semakin menambah kekhusyukan acara.

Mengapa Bisa Sakinah, Mawaddah wa Rahmah?

Sakinah Mawaddah wa Rahmah adalah sebuah rangkaian peristiwa suci yang dirancang oleh Tuhan sebagaimana digambarkan dalam Al Quran. Diawali dengan sebuah kesadaran untuk mengakui adanya perbedaan, lalu memulai dengan perjanjian suci untuk membangun sebuah kesatuan bangunan. Di dalam bangunan yang disebut dengan pernikahan itu, Tuhan memerintahkan pengeloaan yang baik dengan kata-kata indah istrimu adalah bajumu dan kamu adalah baju istrimu, ada saling menutupi, mendukung dan saling melengkapi, sehingga bangunan itu akan terasa kokoh.

Tangguh menghadapi goncangan maupun hantaman baik dari dalam maupun dari luar. Sehingga bangunan itu menjadi bangunan yang setiap orang melihat akan merasakan sebagai bangunan yang menebarkan manfaat dan kebaikan bagi sekitarnya.

Baca Juga :  Dzikir Pagi Hari: Agar Lebih Semangat dan Dimudahkan Segala Urusan
Membangun Kesadaran Diri

Bagi saya kesadaran diri adalah persoalan fundamental dalam membersamai kehidupan. Kesadaran diri muncul karena setiap orang bisa menyadari bahwa apa yang dialami belum tentu juga dialami oleh orang lain. Sehingga setiap orang bisa mengukur dan menempatkan diri pada posisi masing-masing.

Inilah yang disebut dengan efektifitasnya sebuah kehidupan. Ibarat bermain bola, tidak semua harus menjadi striker, semua bisa berperan pada posisinya masing-masing, yang terpenting proses kerjanya baik, saya yakin hasilnya juga akan menjadi baik.

Menghargai Proses

Setiap orang harus disadari memiliki kelebihan dan kekurangan. Kekurangan adalah sebuah kelemahan, sedang kelebihan adalah sebuah kekuatan. Ketika kelebihan dan kekurangan itu sudah sama-sama menyediakan diri untuk menjadi “mahram”, maka disitulah energi besar sinergisitas akan menjadi daya dobrak dan daya ungkit yang dahsyat.

Melihat carut marut bangsa yang saling menghujat, melemahkan bahkan saling menjatuhkan, setidaknya menunjukkan kita sebagai bangsa yang gagal. Bangsa yang tidak lagi mampu memberikan kemanfaatan bagi rakyatnya, sehingga diperlukan lagi memahami konsensus sebagai bangsa.

Baca Juga :  Hiasi Mulut dengan Berdzikir kepada Allah SWT
Menyepakati Konsensus Bangsa

Bangsa ini dibangun atas dasar sebuah konsensus besar dan saling berkorban serta saling mengapresiasi. Silang pendapat dan saling menghujat yang terjadi seperti sekarang ini karena memang kita sudah kehilangan jati diri sebagai tauladan bangsa. Rakyat akhirnya menjadi korban.

Sebagai pengingat bahwa konsensus yang pernah dibangun oleh para founding fathers kita adalah menjadikan negeri ini bisa mensejahterakan rakyatnya. Kesejahteraan akan didapatkan melalui proses kerja yang saling melengkapi dan saling mengisi, bukan saling melemahkan ataupun menyingkirkan.

Nah, apa yang terjadi di Papua kelompok mayoritas menganggap minoritas sebagai musuh, bagi saya merupakan sebuah ketidakmampuan memahami bahwa sesama anak bangsa sudah mempunyai perjanjian suci yaitu membangun NKRI.

Jadikanlah Kebudayaan sebagai Penguasa

Sudah saatnya paradigma pendekatan kita bernegara diubah, bukan hanya hukum yang menjadi panglima, tapi jadikanlah kebudayaan sebagai penguasa. Sehingga tatanan hidup kita akan selalu diisi dengan perilaku berbudaya, perilaku yang bisa menghormati dan menghargai orang lain.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Q.S. Al-Hujurat: 13).

Baca Juga :  Reparasi Hatimu dengan Dzikir Kepada Allah

*Ditulis di Surabaya, 26 Maret 2016
*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.