Banjir Jakarta, Hanya Anies yang Disalahin
Banjir merendam kawasan Jalan S. Parman, Jakarta Barat, 1 Januari 2020. (Foto: CNN)

Suaramuslim.net – Mengawali tahun 2020 Indonesia disambut dengan kado banjir yang melanda ibukota dan sekitarnya. Tercatat ada 63 titik kawasan terendam banjir yang menyebar di Jakarta. Hal ini mengakibatkan hampir seluruh wilayah ibukota lumpuh karena banjir. Meskipun banjir ini bukan kali pertama namun menurut catatan dari BMKG banjir kali ini merupakan yang terbesar selama kurun waktu 24 tahun terakhir.

Banjir yang terjadi di Jakarta faktanya merupakan banjir musiman yang acap kali terjadi apabila musim hujan tiba. Hal ini terjadi bukan semata mata akibat faktor alam yakni tingginya curah hujan di kawasan tersebut, namun juga di pengaruhi oleh faktor lainnya yakni akibat ulah tangan manusia yang dengan atau tanpa sengaja merusak lingkungan. Salah satu contohnya pembangunan jor -joran yang kurang memperhatikan dampak lingkungan. Belum lagi adanya wacana penghapusan AMDAL untuk mempermudah investasi tentunya hal ini akan semakin memperparah keadaan dalam jangka panjang.

Selain itu tidak memungkiri bahwa dinegeri ini masih banyak masyarkat yang berada dalam kemiskinan sehingga tidak jarang mereka bermukim di daerah pinggiran aliran sungai yang bisa jadi salah satu faktor penyebab banjir karena tersendatnya aliran sungai. Belum lagi sampah yang di buang sembarangan baik disebabkan karena kesulitan membuang sampah atau karena kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Disisi lain pemerintah sebagai pemegang kekuasaan dan penentu kebijakan nyatanya terlalu longgar dalam memperhatikan persoalan ini. Mudahnya memberikan IMB untuk pembangunan gedung, perumahan, maupun industri, kemudian munculnya wacana penghapusan AMDAL melalui omnibus law untuk mempermudah investasi menandakan bahwa pemerintah kapitalistik, lebih berpihak pada pemilik modal dari pada nasib rakyatnya. Sehingga Tata kota dan pembangunan infrastruktur diserahkan pada kemauan kaum kapitalis yang hanya berorientasi untuk memenangkan bisnis tanpa perduli kerusakan apa yang akan terjadi.

Tentunya banjir yang kerap kali melanda negeri ini menjadi perhatian bersama. Bagamaina fokus dan usaha negeri ini dalam mengatasinya, baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun negara sebagai pengampu kebijakan. Tentu saja bukan hanya solusi pragmatis yang hanya fokus pada penanganan jangka pendek yakni teknis mengatasi masalah ketika banjir terjadi, namun juga bagaimana jangka panjang yaitu usaha pencegahan  agar banjir tidak lagi melanda.

Tidak lain dengan solusi yang sistematis, ideologis. Yaitu perubahan menyeluruh, di mana kita membuang jauh pandangan kapitalistik penyebab semua kerusakan ini terjadi, di mana manusia lebih berorientasi pada kemanfaatan atau keuntungan sementara tanpa memerhatikan kerusakan akibat perbuatannya, beralih pada sistem yang menerapkan aturan – aturan Allah yang insyaAllah akan membawa keberkahan dan rahmat bagi seluruh alam. Di mana manusia sadar akan hakikat dirinya dan tujuaanya hidup dunia, sehingga ia menjalani hidupnya terikat dengan aturan rabbnya, tidak akan ia melakukan sesuatu hanya berorientasi pada keuntungan semata tapi bagaimana Allah akan meridhainya, begitupun dengan pengusanya tidak akan sekali kali diberi ruang untuk berpihak pada pemilik modal namun dituntut untuk sepenuhnya bertanggung jawab atas seluruh rakyatnya dan apa yang terjadi padanya.

Maka dari peristiwa bencana banjir ini hendaklah menjadi muhasabah bersama dan menjadi moment untuk taubatan nasuha, baik dari individu, masyarakat maupun negara untuk kembali menerapkan aturan Allah dan membuang seluruh pandangan kapitalis yang merusak kehidupan.

Wallahu a’lam bisshowwab.

Oleh: Khusnul Aini S.E

Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.