Bawaan Bayi

Suaramuslim.net – Istilah “bawaan bayi”, atau dalam bahasa jawa sering disebut gawan bayi, mungkin sudah tidak asing di telinga kita. Sering kali ketika mendapati perilaku anak yang cenderung negatif apalagi ada perbedaan yang cukup menonjol di antara saudara-saudaranya yang lain, secara reflek sebagian orang langsung berkata “bawaan bayi”, atau dari sananya sudah begitu.

Lalu, adakah istilah “bawaan bayi” itu dalam perspektif islam? Dalam sebuah haditsnya, yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabir, Rasulullah Saw bersabda:

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah hingga ia fasih (berbicara), maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.”

Fitrah kebaikan dan keislaman adalah bekal yang diberikan Allah kepada setiap bayi yang terlahir ke dunia. Selanjutnya orang tua dan lingkunganlah yang berpengaruh untuk terjaganya fitrah tersebut atau justru menghilang secara perlahan. Maka tak adil rasanya bila kita mudah berujar ‘bawaan bayi’, ketika melihat hal negatif pada anak. Karena sejatinya ‘bawaan bayi’ mereka adalah fitrah keislaman.

Baca Juga :  Mendidik Anak Sesuai Fitrahnya

Hadirnya figur ayah dan ibu juga sangat diperlukan dalam proses pendidikan anak. Anak akan belajar bagaimana cara menyayangi, menghormati serta menyelesaikan suatu masalah melalui orang terdekatnya. Bila orang tua tidak mengambil peran dalam pendidikan ini, maka bisa jadi anak akan mengambil figur panutan melalui teman, atau bahkan artis televisi yang mereka idolakan. Dan kemudian yang terjadi orang tua hanya memandang, anak mereka sekarang tambah bandel, suka membantah atau sulit diatur.

Padahal secara tidak sadar orang tua sendiri lah yang telah membangun jarak dengan anak-anaknya, dengan tidak menghadirkan figur mereka di saat anak membutuhkan. Maka, sesibuk apa pun kita sebagai orang tua, berikan hak anak untuk dapat bermain, bercanda dan mengobrol santai. Bila memang kondisi badan kita kurang fit, capek atau banyak problem yang menyita perhatian, bicaralah dengan lembut kepada anak, bahwa hari itu kita tidak bisa menemani mereka bermain dan berjanji akan menemaninya di lain waktu saat tubuh, hati, dan pikiran kita sudah mulai jernih.

Baca Juga :  Meningkatkan Kecerdasan Adversity Anak di Era Milenial

Mendidik anak bukan hanya tugas ibu, tapi tugas bapak pula. Sebagaimana dalam Al Quran sosok ayah seperti Luqmanul Hakim, Ibrahim, Yaqub sangat berperan dalam mendidik putra-putranya. Tidak benar jika anaknya nakal maka yang salah hanya ibunya, tapi juga bapaknya. Banyak sekali pembentukan kepribadian seseorang itu adalah pada masa kecil dan pertumbuhannya. Mendidik anak di waktu kecil seperti mengukir di atas batu. Mendidik anak di waktu besar seperti mengukir di atas air. Kalau baik pendidikannya di masa kecil, maka insyaallah akan baik sampai dia dewasa.

Allah berfirman, “Laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwim”. Yang berarti, “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Mengapa menggunakan kata “kami”? karena ibu dan bapak terlibat dalam hal penciptaan anak. Oleh karena itu, mendidik anak adalah dari sejak pertemuan sperma dan ovum.

Dari perspektif islam, pendidikan kanak-kanak ialah proses mendidik, mengasuh dan melatih rohani serta jasmani mereka berdasarkan nilai-nilai baik yang bersumberkan Al Quran, hadits dan pendapat serta pengalaman para ulama. Ia bertujuan melahirkan “insan rabbani” yang beriman, bertakwa dan beramal saleh. Sebagaimana yang diajarkan Luqman pertama kali kepada putranya adalah ajaran tentang ketauhidan.

Baca Juga :  Bermain Bersama Ayah

Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS Luqman: 13)

Jangan sampai terlambat dalam mendidik anak, sehingga orang lain atau lingkungan yang akan membentuknya. Kita tidak tahu dan tidak bisa mengontrol secara langsung bagaimana jika mereka yang mendidik anak kita. Wallahu a’lam bishawab.

Kontributor: Santy Nur Fajarviana*
Editor: Oki Aryono

*Pengajar di MIT Bakti Ibu Kota Madiun

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.