Belajar Bahasa Asing Sejak Dini Ternyata Asyik Lho!
Ilustrasi anak-anak (Foto: Freepik)

Suaramuslim.net – Belajar bahasa asing sangatlah asyik dan menyenangkan. Namun, jika belajar bahasa asing sejak usia dini, bagaimana, ya? Apakah asyik dan menyenangkan juga? Untuk menjawab kedua pertanyaan di atas, begini pengalaman pribadi penulis saat belajar bahasa asing pada usia dini tetapi seperti tidak merasa bahwa sedang belajar bahasa asing. Lho, kok bisa sih? Mau tahu bagaimana ceritanya? Yuk simak paragraf berikutnya.

Sebelum belajar bahasa asing, sejak usia dini penulis telah dikenalkan dengan bahasa pemersatu bangsa yaitu bahasa Indonesia di rumah. Penggunaan bahasa Indonesia dalam keluarga adalah sebagai sarana untuk pembentukan karakter dan pengenalan budaya bangsa kita. Oleh karena itu, bahasa pengantar yang digunakan untuk berkomunikasi dalam keluarga adalah bahasa Indonesia. Intinya, sebelum belajar bahasa asing yaitu bahasa Inggris, harus bisa berbahasa Indonesia terlebih dahulu.

Ketertarikan belajar bahasa asing bermula dari seringnya ibu membeli buku-buku cerita bergambar. Di setiap halaman pada buku-buku tersebut, terdapat satu gambar dan satu kalimat. Tentu menyenangkan sekali membolak-balik halaman yang ada pada buku tersebut. Di setiap halaman penulis selalu bertanya kepada ibu, “apa nih?”, kemudian dijawab menggunakan bahasa asing, lebih tepatnya bahasa Inggris dan langsung dilanjutkan dengan bahasa Indonesianya.

Baca Juga :  Menjemput Asa di Hamparan Tandus Pendidikan

Misalnya, di dalam buku tersebut terdapat gambar apel merah dan dibawahnya terdapat tulisan “red apple”, maka ibu akan mengatakan “red apple” dengan menunjuk pada gambar apel merah. Kemudian penulis selalu menirukan apa yang dikatakan oleh sang ibu. Sang ibu tidak menunjuk pada tulisan “red apple”, karena bermaksud memberitahu bahwa gambar tersebut adalah “red apple”. Konsentrasi ditujukan pada gambar, bukan pada tulisan karena pada saat itu penulis masih berusia 18 bulan, jadi masih terlalu dini untuk belajar memahami dan membaca tulisan.

Pada saat penulis menirukan ibunya mengucapkan “red apple”, tentu saja pengucapannya merefleksikan anak usia 18 bulan, jadi agak cadel sehingga terdengar sangat lucu. Hal tersebut membuat ibu saya tertawa gemas, tapi beliau merasa senang karena bisa menirukan beliau.

Selain nama buah-buahan, saya juga mengenal nama sayur-sayuran, binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan dalam bahasa Inggris secara bertahap dengan menggunakan teknik listen and repeat. Penulis menyimak ibunya mengucapkan kata-kata, kemudian penulis mengulang kata-kata tersebut. Langkah berikutnya, ibu saya mengenalkan nama-nama benda yang ada di sekitar rumah seperti kursi, meja, lemari pakaian, lukisan, jam dinding, televisi, sapu, alat-alat tulis, ruang tamu, ruang makan, kamar tidur, kamar mandi dan dapur dalam bahasa Inggris.

Baca Juga :  Anak-Anak Kita Bukan Pemain Sirkus

Pada saat usia 24 bulan, ibunya mulai mengenalkan buku cerita berbahasa Inggris yang berjudul “Noddy” dengan menggunakan teknik storytelling. Ia membacakan satu kalimat kemudian menunjuk gambar yang ada pada buku. Hal ini dilakukan lebih dari satu kali karena ingin mengetahui apa reaksi penulis ketika mendengar kalimat bahasa Inggris.

Sewaktu kecil, penulis selalu meminta kepada sang ibu untuk membacakan cerita “Noddy” setiap hari sepulang dari tempat kerja. Ada kalanya meminta beliau untuk membacakan cerita “Noddy” sebelum tidur malam. Ibunya mengatakan bahwa ketika beliau membacakan cerita tentang “Noddy”, penulis selalu menyimak layaknya seperti seseorang yang sedang mendengarkan penjelasan orang lain.

Yang dilakukan tidak hanya menyimak, penulis juga menjadi memperhatikan ekspresi wajah ibunya. Setiap hari selalu memegang buku cerita “Noddy” ketika dibacakan, bahkan penulis selalu meletakkannya di tempat tidur setelah selesai mendengar cerita. Suatu hari, betapa terkejut dan senangnya sang ibu ketika melihat penulis membuka setiap halaman buku cerita “Noddy” dan mulai bercerita dalam bahasa Inggris seperti yang ibu penulis lakukan kepada penulis setiap hari.

Baca Juga :  Yuk Lebih Santun Berbahasa

Dari pengalaman pribadi penulis ini, dapat disimpulkan bahwa belajar bahasa asing sejak dini dengan menggunakan teknik listen and repeat dan storytelling ternyata sangat mengasyikkan.

Kontributor: Devi Putri 
Editor: Oki Aryono

26 COMMENTS

  1. Strategi yang diberikan seperti diatas sangat berguna untuk anak-anak dalam pembelajaran bahasa asing

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.