Belajar dari Biografi Singkat Imam Nawawi

Suaramuslim.net – Siapa yang tidak kenal dengan nama Imam Nawawi? Ahli hadits yang mempunyai nama lengkap Muhyiddin Abu Zakariya Yahya ibnu Syaraf ibnu Muri ibnu Hasan ibnu Husein ibnu Muhammad ibnu Jum’ah ibnu Hizam ibnu Muhammad ibnu Jum’ah an-Nawawi as-Syafi’i ad-Dimasyqi. Imam Nawawi lahir pada hari Ahad 10 Muharram 631 H (16 oktober 1233 M) di Nawa, Jawlan, 70 km selatan kota Damaskus, Suriah.

Sejak kecil Imam Nawawi gemar belajar, terbukti dengan ia rela hijrah ke Damaskus. Banyak karya terkenal yang dihasilkannya, antara lain: Riyadh as-Salihin, at-Tibyan Fi Adab Hamalatil Qur’an, al-Arba’in an-Nawawiyah, Syarah Shahih Muslim, al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab.

Menurut muridnya, Syekh Ala’uddin ibn Athor (654-724 H), Imam Nawawi mempunyai beberapa karomah yang diceritakan oleh Syekh Al Arif Waliyuddin Abul Hasan Ali, “Saya sakit di kakiku. Suatu ketika Syekh Muhyiddin (an-Nawawi) menjengukku. Ketika sudah berada di sampingku ia mulai menasehatiku tentang kesabaran. Ketika ia bicara ternyata sakitku hilang sedikit demi sedikit. Terus ia berbicara sampai seluruh sakit yang aku rasakan hilang. Seperti tidak pernah sakit sama sekali. Padahal sebelumnya aku tidak bisa tidur semalam suntuk karena sakit itu. Akhirnya aku sadar bahwa hilangnya penyakitku itu karena berkah dari Imam an-Nawawi ra.”

Baca Juga :  Al Quran pada Periode Mutaakhirin (Abad 4 – Abad 12 H)

Dan pada malam Rabu tanggal 24 Rajab 676 H (22 Desember 1277 M), Imam Nawawi meninggal dunia diusianya yang masih muda yaitu 45 tahun.

4 Hal yang bisa kita tiru dari Imam Nawawi

1. Optimalisasi Waktu

Imam Nawawi ra. sejak kecil suka menyendiri dari teman-temannya yang suka bermain. Ia banyak menghabiskan waktu kecilnya untuk membaca dan mempelajari Al Quran.

Selain itu, Imam Nawawi juga menghabiskan waktunya untuk ilmu dan amal, seperti menghabiskan untuk mengarang, mengajar, sholat, tilawah dan amar ma’ruf nahi mungkar. Bisa dihitung dalam satu hari Imam Nawawi menghabiskan 12 mata pelajaran yang dipelajari maupun yang diajarkan.

2. Produktif dalam Melahirkan Karya

Imam Nawawi pernah berkata, “Seseorang yang telah mampu mengarang hendaklah menggunakan sebagai waktunya untuk mengarang. Karena dengan mengarang seseorang akan lebih banyak membaca dan meneliti. Dan dengan itu seseorang tidak lagi terbelenggu oleh ikatan taqlid. Tapi jika belum mampu janganlah ia berlagak pandai, karena ia akan menyesatkan orang lain”.

Baca Juga :  Kriteria Pemuda Ideal Menurut Islam
3. Seorang yang Wara’

Beliau tidak pernah meminta kepada manusia dan bahkan ketika menerima sesuatu dari orang lain, Imam Nawawi sangat teliti hingga yakin bahwa yang diberikan itu halal (tidak bermasalah).

Selain itu, saking tingginya sifat wara’ yang ada pada diri Imam Nawawi, Ia tidak mau memakan buah yang berasal dari kota Damaskus, karena menurut Imam Nawawi hukum buah tersebut Syubhat.

4. Dakwah dan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Imam Nawawi pernah berpesan, “Untuk mencapai ketinggian di sisi Allah swt. seseorang harus ikhlas, berakhlak mulia dan jangan busuk hati”.

Suatu ketika Sulthan al-Zahir Baibars (659-676H/1233-1277 M) memerlukan dana untuk menghadapi pasukan Tartar yang hendak menggempur Syam. Imam An Nawawi berkata kepadanya: “Dahulu Anda adalah budak belian. Kini Anda seorang raja. Anda memiliki tidak kurang dari 1000 budak yang masing-masing dilengkapi dengan berbagai pakaian kebesaran berhias emas kemegahan Anda. Anda juga mempunyai 1000 dayang yang sekujur badan mereka penuh pula dengan hiasan emas dan permata. Jika Anda bersedia menanggalkan pakaian emas 1000 budak dan 1000 dayang itu dan menggantikannya dengan baju biasa, saya akan mempergunakan pengaruh saya kepada rakyat supaya mereka mau berkorban”.

Setelah mendengar jawaban Imam Nawawi, Sultan murka dan mengusirnya dari kota Damaskus, kota yang telah ditempatinya selama 28 tahun.

Baca Juga :  Modal Bahagia dalam Al Quran

Maka dari itu, sebagai seorang muslim harus berani mengatakan yang haq dan jangan pernah takut akan resiko yang ditanggungnya. Karena Allah tidak akan pernah tidur.

Kontributor: M. Ali
Editor: Oki Aryono

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.