Belajar Dari Tongkat Ajaib Nabi Musa
Ilustrasi penggembala kambing di perbukitan.

Suaramuslim.net – Tongkat adalah sebagian dari “da’bus sholihin,” yaitu perilaku para Nabi.

Nabi Nuh bertongkat, Nabi Ibrahim bertongkat, Nabi Musa bertongkat , Nabi Sulaiman bahkan wafat berpangku dengan tongkat, Nabi Muhammad juga bertongkat.

Para salihin pun bertongkat seperti Imam Syafii. Beliau membawa tongkat, meski masih kuat.

“Kenapa Anda menggunakan tongkat sedangkan Anda masih kuat?” Tanya Al Muzani sang murid.

“Aku melakukakannya agar senantiasa ingat bahwa aku adalah seorang musafir ketika hidup di dunia,” jawab Imam As Syafi’i. (Manaqib As Syafi’i li Al Baihaqi, 2/169,170).

Nabi Musa pun terkenal dengan tongkatnya yang “sakti.” Nabi Musa ‘alaihissalam, menurut Ibnu Jarir at-Thabari, disebutkan adalah anak laki-laki dari Imran bin Yashar bin Qahits bin Lawi bin Yaqub. Dia bersaudara dengan Nabi Harun. Ibunya bernama Yukhebed.

Nabi Musa sebagaimana para nabi lainnya, selalu diberi mukzijat. Dan di antara mukzijat Nabi Musa adalah tongkat ajaibnya.

Pada awalnya tongkat itu di mata Nabi Musa adalah tongkat yang biasa saja, yang biasa digunakan untuk menuntunnya ketika berjalan.
Namun Allah menjadikannya sebagai tongkat yang ‘ajaib.’ Ini yang tersurat dalam QS Thaha 17-21;

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى (17) قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى (18) قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى (19) فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى (20) قَالَ خُذْهَا وَلا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الأولَى (21)

“Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Musa berkata, “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman, ”Lemparkanlah ia, hai Musa! “Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman, ‘Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”

Maka sejak itu Nabi Musa mengetahui bahwa tongkatnya menjadi ajaib. Dan tongkat ajaib itu digunakan terhadap hal-hal yang menakjubkan atas perintah-Nya, di antaranya;

Baca Juga :  Berbagai Komunitas Qur'ani Adakan Khataman dan Doa Bersama Untuk Bangsa

1. Menghadapi tukang sihir Firaun.

قَالَ أَلْقُوا ۖ فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ
وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ ۖ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ

Musa menjawab: “Lemparkanlah (lebih dahulu)!” Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan).”

Dan Kami wahyukan kepada Musa: “Lemparkanlah tongkatmu!” Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan.” (Al A’raf 116-117).

2. Memunculkan 12 sumber air dari batu.

وَإِذِ اسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِب بِّعَصَاكَ الْحَجَرَ ۖ فَانفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۖ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ ۖ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِن رِّزْقِ اللَّـهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” (QS Al-Baqarah: 60).

Dan perhatikan juga di Surat Al A’raf 160;

وَقَطَّعْنَاهُمُ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ أَسْبَاطًا أُمَمًا ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ إِذِ اسْتَسْقَاهُ قَوْمُهُ أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ ۖ فَانْبَجَسَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۖ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ ۚ وَظَلَّلْنَا عَلَيْهِمُ الْغَمَامَ وَأَنْزَلْنَا عَلَيْهِمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَىٰ ۖ كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ۚ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!”

“Maka memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa.”

“(Kami berfirman): “Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu.” Mereka tidak menganiaya Kami, tapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri.”

3. Puncaknya ketika membelah laut merah.

فَأَتْبَعُوهُمْ مُشْرِقِينَ (60) فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ (61) قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ (62) فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ (63) وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِينَ (64) وَأَنْجَيْنَا مُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ (65) ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ (66) إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (67) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (68)

“Maka Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, “Sesungguhnya kita benar­-benar akan tersusul.”

Musa menjawab, “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”

Lalu Kami wahyukan kepada Musa “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu, dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu.”

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat) tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (QS Asy Syu’ara 63-68).

Baca Juga :  Hakim: Saracen Tak Terbukti Sebarkan SARA

So, coba perhatikan kejadian Musa dengan tongkatnya, ada hal menarik dari kejadian tersebut yang bisa menjadi pelajaran bagi kita, yaitu;

1. Cepat mengambil keputusan untuk mengambil peluang yang bermanfaat dengan tetap bertawakkal kepada Allah.

Perhatikan Firman-Nya di atas;

قَالَ خُذْهَا وَلا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الأولَى

“Allah berfirman, ‘Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.” (QS Thaha 17-21)

2. Meski Nabi Musa mengetahui keajaiban tongkat, beliau masih menunggu perintah Allah untuk menggunakan tongkat itu.

Artinya beliau tidak bersandar kepada tongkat, tapi bersandar kepada kekuatan Allah.

Inilah tawakkal dengan kekuatan Allah melalui doa, ini pelajaran indah bagi kita.

3. Kisah Musa selalu menunggu perintah Allah untuk menggunakannya memberikan pelajaran bahwa menyelesaikan masalah itu harus tetap bersandar terhadap nilai dan norma Ketuhanan, yaitu Al Quran dan Sunnah.

4. Tongkat itu ada selalu dekat dengan Musa karena selalu di tangannya.

Ini memberikan pelajaran bahwa mencari solusi masalah itu justru dari yang terdekat dulu, yaitu apa yang ada di dekat kita, bisa keluarga. Bicarakan dengan keluarga dalam mencari solusi dari masalah bukan bicara lewat up date di medsos.

Baca Juga :  Sempat Memanas, Kini Keluarga Masjid Jogokariyan dan PDIP Yogya Sudah Berdamai

5. Solusi tetap dengan ikhtiar, bukankah tongkat itu sudah ada sejak belum jadi sakti?

Itu artinya, keajaiban dalam hidup itu bisa tercapai jika diawali dengan kekuatan alami kita melalui usaha diri.

Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.