Memurnikan Tobat Menuju Muslim yang Taat
Ilustrasi jemaah shalat (Foto: voa-islam.com)

Suaramuslim.net – Di antara konsekuensi orang yang percaya dan bertauhid kepada Allah Ta’ala adalah senantiasa melakukan muhasabah atas berbagai kelalaiannya dalam memenuhi hak-hak Allah. Ia hendaknya selalu mengingat yaumul hisab dan memperbanyak bekal sehingga tidak termasuk orang yang menyesal dan merugi pada hari penyesalan tiada lagi berguna.

Arti tobat secara bahasa adalah kembali. Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibn Faris dalam Mu’jam Maqayis al-Lugah. Adapun secara istilah tobat adalah kembali kepada Allah dengan cara meninggalkan perbuatan maksiat menuju ketaatan kepada-Nya.

Bertobat kepada Allah ada 2 macam, muqayyad dan mutlak. Tobat muqayyad adalah seorang hamba bertobat dari dosa-dosa tertentu yang telah ia kerjakan. Ada pun tobat mutlak adalah ia bertobat dari setiap dosa apakah ia ketahui atau pun tidak ia ketahui di mana ia senantiasa bertobat kepada Allah Ta’ala.

Ketika Allah SWT menginginkan kebaikan kepada seorang hamba maka Allah akan membukakan pintu baginya berupa pintu-pintu tobat, penyesalan, ketundukan, kehinaan diri di hadapan-Nya, rasa butuh kepada-Nya, permintaan tolong kepada-Nya, kejujuran rasa bergantung kepada-Nya, kesenantiasaan merendahkan diri di hadapan-Nya, doa, taqarrub dengan perkara-perkara yang memungkinkan dari perbuatan dan ucapan yang hasanah. Maka menjadilah kejelekan yang ada padanya sebagai sebab rahmat Allah SWT, sehingga berkatalah musuh kita semua yakni Iblis laknatullah ’alaihi: ”Duhai ruginya aku, aku tinggalkan dia sedangkan aku tidak mampu menggelincirkannya.”

Inilah makna sebagian perkataan salaf; ”Sesungguhnya seorang hamba sungguh telah berbuat dosa yang ternyata menyebabkannya masuk ke dalam surga dan sungguh seorang hamba telah berbuat kebaikan yang ternyata menjadikannya masuk ke dalam neraka. Bagaimana bisa demikian? Ternyata sebab perbuatan dosanya senantiasa menancap di kedua kelopak matanya dalam keadaan takut dari akibat dosa itu, dia rindu, menangis, menyesal, malu kepada Rabbnya, tertuntuk kepalanya di hadapan Rabbnya, hatinya hancur lebur, maka menjadilah dosa itu sebagai sebab kebahagiaannya dan keberuntungannya sehingga dosanya lebih bermanfaat dari ketaatan yang sangat banyak.

Baca Juga :  Ketika Manusia Mengandalkan Akal

Sebaliknya perbuatan baik yang telah dikerjakan senantiasa diungkit-ungkit, timbul kesombongan dengan sebab kebaikan itu dia lihat dirinya, dia ta’ajub dengan kebaikan itu dan dia katakan, ”Aku telah berbuat demikian, aku telah berbuat demikian.” maka akibatnya ujub, kibr, bangga mewariskan kepadanya, jadilah kebaikan yang dia lakukan sebagai sebab kehancurannya.”

Manusia yang baik bukanlah manusia yang tidak pernah salah, karena itu adalah perkara mustahil yang tidak akan pernah ada di alam ini. akan tetapi manusia yang baik adalah mereka yang merasa punya salah dan dosa lalu bersegera mencari ampunan Rabbnya, dan tidak terlena serta hanyut dengan kesalahan yang ia lakukan.

Rasulullah SAW bersabda: ”Setiap manusia pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah ia segera bertobat.” (HR Al-Hakim, Ahmad & at-Tirmidzi)

Saudaraku, mari kita segera bertobat dan meraih ampunan dari Rabb semesta alam, karena waktu terus berjalan dan beredar. Jangan sampai kita termasuk dari orang-orang yang lamban untuk mengejar ampunan Allah. sebab sesungguhnya Nabi Saw, mengingatkan kita melalui sabdanya: ”Barang siapa bertobat sebelum terbitnya matahari dari barat, maka Allah terima tobatnya.” (HR Muslim)

Baca Juga :  Begini Dahsyatnya Dosa Jika Terus Dilakukan

Dalam hadis yang lain Rasulullah SAW juga bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala menerima tobat hamba-Nya selama ruh belum sampai di kerongkongan.” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah & an-Nasa’i)

Sungguh betapa lembutnya Allah terhadap hamba-Nya yang berdosa, ia tutupi sang hamba ketika bermaksiat namun ia janjikan baginya ampunan apabila hamba tersebut meminta ampunan.

”Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, Kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S an-Nisa’ :110).*

Bersambung ke Memurnikan Tobat Menuju Muslim yang Taat (2)

*Opini yang terkandung dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial suaramuslim.net.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.