Belajar Kesalihan Sosial dari Semut

Suaramuslim.net – Semut dikenal sebagai jenis serangga yang memiliki rasa sosial yang tinggi. Dalam kehidupannya yang berkelompok, terdapat semut ratu, semut pejantan, dan semut pekerja.  Mari kita mencoba untuk menggali beberapa sisi kehidupan dari seekor semut.  Dalam bekerja dan berusaha, semut tidak pernah berputus asa. Perhatikan saja, ketika semut memanjat sebuah pohon untuk mencari makanan, kemudian dalam perjalanan tersebut ia menemukan sebuah rintangan, maka yang semut lakukan adalah mencari cara bagaimana agar ia bisa melewati rintangan itu atau mencari jalan lain guna mencapai tujuannya untuk sampai di atas pohon.

Jika fenomena cara semut dalam bekerja dan berusaha dikaitkan dengan keadaan kehidupan sehari-hari, seringkali kita menyerah ketika melangkah melewati sebuah rintangan, bahkan ada yang takut melangkah karena tidak siap melewati rintangan yang ada. Bukankah kita dianugerahi kekuatan dan akal pikiran agar dapat mencari jalan keluar dari berbagai macam permasalahan?

Uniknya lagi ketika kita memperhatikan semut, mereka tidak pernah berjalan mundur. Hal ini tentulah berbeda dengan manusia yang bisa berjalan mundur. Maksud berjalan mundur di sini tidak lain adalah menyerah dalam melakukan usaha. Kita terkadang belum berusaha saja sudah banyak mengeluh, apalagi ketika sudah melangkah dan mendapat rintangan. Tentulah sikap berjalan mundur tadi dapat disamakan dengan suatu sikap pesimis yang dapat membuat kita tidak berkembang atau bahkan melakukan suatu kemunduran. Seharusnya kita sebagai makhluk yang dianugerahi akal pikiran dapat memikirkan hal itu.

Baca Juga :  Praktik Filantropi Islam Berkeadilan Sosial Tumbuh Pesat

Selanjutnya fenomena ketika semut ingin menyeberangi sebuah genangan air atau sebuah selokan. Jika ia tidak mampu untuk menyeberanginya dengan kemampuannya sendiri, maka ia kembali ke sarangnya dan memanggil kawanan semut lainnya untuk saling membantu dan bergotong-royong agar semut itu bisa menyeberangi genangan air tersebut dan mendapatkan makanan.

Dalam bersosial, kita sering kali melupakan nilai gotong-royong. Sering kali ketika kita dihadapkan terhadap suatu hal yang di luar kemampuan, kita tetap ingin melewatinya sendiri dan terkadang enggan meminta pertolongan orang lain, padahal di saat itu kita juga memerlukan saran atau bantuan orang lain agar dapat melewati suatu hal yang sulit. Bukankah kita termasuk makhluk sosial yang tinggi dan diberikan akal? Lagi-lagi kita kalah dengan semut.

Jika kita mengamati lebih dalam lagi, ketika seekor semut berpapasan dengan semut lainnya, ia akan berhenti sejenak dan bersalaman seraya bertegur sapa satu sama lain, walaupun mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Dalam bersosial atau bermasyarakat kita sering kali tidak tahu-menahu terhadap orang-orang yang ada di sekitar kita. Fenomena tidak tahu-menahu tadi dapat mencederai kehidupan bersosial kita. Bayangkan saja ketika kita ditimpa sebuah penyakit atau musibah dan kita tidak saling mengenal dengan orang di sekitar kita, maka akan sulit bagi kita untuk mendapatkan pertolongan dari orang-orang sekitar.

Baca Juga :  Hikmah Kurban | Manajemen Kepanitiaan Kurban

Ketika berbicara masalah kepedulian, semut adalah termasuk binatang yang sangat peduli satu sama lain. Ketika seekor semut berjalan dan ia menemukan sebuah makanan besar, misalnya seekor belalang  yang telah mati. Semut yang menemukan belalang tadi bukannya ia langsung menghabiskannya sendiri, tetapi ia kembali ke sarangnya seraya memanggil semut lainnya untuk bergotong-royong mengangkut belalang tadi ke sarang mereka agar semut lainnya mendapat makanan yang sama.

Seperti yang kita ketahui, hari ini sangat berat rasanya ketika kita mendapatkan sebuah rezeki yang berlimpah untuk membagi-bagikannya kepada orang-orang yang ada di sekitar kita. Padahal jika kita menerapkan hal ini dalam bersosial, maka tidak ada lagi tetangga kita yang kelaparan dan kesusahan. Dari sini, lagi-lagi kita kalah dengan semut dalam bersosial.

Kemudian ketika semut merasa terancam oleh binatang lain, mereka bersatu-padu dalam menggigit guna mempertahankan kehormatan mereka. Mereka tidak berhenti menggigit sampai gangguan itu hilang dari mereka walau kematian mengancam. Jika kita kaitkan lagi dengan keadaan sekarang, diketahui bahwa keadaan kita sekarang sedang tercerai-berai satu sama lain seperti keadaan pada masa penjajahan dahulu. Kenapa Indonesia terjajah selama kurang lebih 350 tahun lamanya? Apakah kita merupakan bangsa yang kecil? Ternyata tidak.

Baca Juga :  Zakat Berpotensi Tingkatkan Kesejahteraan Indonesia

Kita dijajah selama 350 tahun karena kita kurang meneladani sisi filosofis kehidupan dari semut. Padahal jika kita bersatu-padu melawan penjajah pada saat itu kita akan bisa mempersingkat masa penjajahan yang 350 tahun itu menjadi 100 tahun atau lebih sedikit dari itu dan bisa lebih cepat melakukan pembangunan.

Dari berbagai cerita semut tadi, banyak hal yang dapat diambil pelajaran dan dapat kita terapkan dalam mendidik anak guna mempersiapkan generasi emas yang bersosial tinggi dan menjadi tolok ukur dalam berkehidupan yang baik terlepas dari sudut pandang perbedaan suku, ras, agama dan antar golongan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.