Bergembira Dengan Sedekah di Bulan Ramadhan
Ilustrasi berbagi hadiah.

Suaramuslim.net – Ramadhan telah tiba. Dan apa yang perlu dirasakan ketika Ramadhan tiba? Sedih atau gembira? Terus untuk sedekah bisa bergembira? Tergantung dengan hati mana menangkap momen Ramadhan tersebut saat bersedekah.

Gembira bisa diungkapkan dengan ibadah apapun termasuk dengan sedekah. Sedekah yang mengandung kegembiraan tanda ada nilai keikhlasan puncak. Artinya, bergembira saat bersedekah bisa dalam dua kondisi. Gembira dengan Ramadhan dan gembira dengan sedekah itu sendiri.

Lebih semarak lagi jika kegiatan sedekah digebyarkan atau disemarakkan dengan berbagai kegiatan yang lain. Semacam festival sedekah atau pengumpulan dana yang nanti setelah terkumpul disumbangkan kepada yang membutuhkan. Bisa juga bekerjasama dengan lembaga zakat. Ini termasuk dengan menghidupkan Ramadhan dengan gebyar sedekah.

Bisa bersedekah merupakan karunia. Bertemu dengan ramadhan juga karunia. Dua karunia tersebut perlu dirayakan dengan suka cita. Jika ingin berkaca dengan ayat Allah berikut. “Katakanlah (Muhammad),”Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS Yunus: 58)

Menahan harta begitu kuat di bulan Ramadhan kurang pantas. Namun menghambur-hambur harta di bulan Ramadhan juga kurang pantas. Sehingga posisi pertengahan itu menjadi lebih baik. Selanjutnya, bagaimana rasa gembira itu bisa dihadirkan?

Baca Juga :  Refleksi dari Bulan Ramadhan untuk Bijak Berbelanja

Gembira, perasaan senang atau suka yang ditandai dengan senyuman dan dada yang berbunga. Kadang kala dibarengi dengan siulan dan wajah cerah. Gembira dengan kegembiraan sewajarnya tanpa ada unsur paksaan. Baik memaksa diri atau memaksa karena keadaan di luar diri. Gembira yang muncul dari dalam diri atau mengalir begitu saja.

Alasan bergembira dengan ramadhan. Bulan penuh berkah tersebut bulan di mana turunnya Al Quran. “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).”(QS Al Baqarah: 185).

Seorang mukmin yang bangga dengan Al Quran tentu bangga dengan Ramadan. Di balik kebanggaan tentu ada alasan untuk bergembira dan bersuka cita. Al quran petunjuk kepada yang membutuhkan petunjuk. Dan yang merasa muslim butuh akan petunjuk tersebut. Dan mereka yang butuh tersebut akan merasa berbesar hati dengan waktu dari turunnya Al Quran.

Bulan Ramadhan punya satu waktu di mana setiap hamba yang beribadah akan mendapat pahala lebih baik dari seribu bulan. Malam itu disebut dengan lailatul qadar. Keutamaan tersebut diperoleh dengan hitungan dari ibadah yang sama. Namun dilakukan dengan selama bulan tersebut bahkan lebih baik.

Baca Juga :  Tanya Jawab Fikih Puasa, Niat Puasa

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam qadr. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.” (QS Al Qadr: 1-5).

Seribu bulan sebuah ukuran yang nampak. Di balik ukuran tersebut ada pahala yang tidak nampak yang diberikan oleh Allah sesuai dengan kehendak-Nya.

Malam sesuai dengan ayat di atas malam penuh ketenangan. Malam di mana beribadah begitu nikmat. Kenikmatan tersebut dikarenakan kondisi alam yang dibuat sedemikian rupa. Seperti angin yang tenang. Cuaca dingin tidak terlalu dingin. Panas tidak terlalu panas. Malam yang gelap terpancar cahaya sehingga terlihat terang.

Beberapa alasan di atas tentu seyogianya mampu membawa jiwa untuk menikmati ramadhan dengan kegembiraan yang diluapkan dengan sedekah. Bulan Al Quran bisa diimplementasikan juga dengan sedekah. Bukankah dalam Al Quran juga ada perintah tentang sedekah. Tertulis dalam kitab-Nya,”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dikehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui.” (QS Al Baqarah: 261)

Baca Juga :  Bayar Hutang Dulu, Baru Bersedekah

Nah jika bisa bersedekah di waktu gembira kenapa harus di waktu susah? Kalau bisa bersedekah di waktu penuh berkah kenapa harus di waktu yang biasa-biasa saja? Kalau bisa bersedekah di saat lapang kenapa harus di saat sempit? Jika ada mudah kenapa harus sulit?

Sedekah bisa gembira sekaligus menggembirakan orang lain di momen Ramadhan yang penuh dengan kegembiraan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.