Berguru Pada Percikan Cahaya, Dari Penjara Menghafal Al Quran

290
Buku Secercah Cahaya di Langit Sukamiskin (Dok Pribadi)

Judul Buku: Secercah Cahaya di Langit Sukamiskin
Editor : Muhammad Waldi
Penerbit : Era Adicitra Intermedia
Tebal : xlvii + 234 halaman
Cetakan : Pertama, 2017

Tak ada yang kebetulan. Begitu pula buku ini, “Secercah Cahaya di Langit Sukamiskin”. Saya mendapat informasi tentang buku ini dari sebuah grup WhastApp. Langsung saya jatuh hati untuk bisa menyentuh dan membacanya. Tapi saat itu saya sedang membaca buku lain. Plus buku ini sepertinya tidak mudah didapatkan di toko buku. Sepekan lalu, ternyata istri saya membawakannya. Dia bilang, dapat tugas dari gurunya. Langsung saja saya “ambil alih” tugas itu.

Buku ini adalah kisah perubahan drastis para penghuni Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sukamiskin semenjak program berQur’an diselenggarakan tahun 2014. Awalnya hanya beberapa orang saja, namun kini sudah ramai, sampai-sampai LP seakan berubah menjadi pesantren Qur’an.

Metode penulisan buku ini yaitu melalui “wawancara” kepada para penghuni LP Sukamiskin. Namun jangan dibayangkan tekniknya seperti wawancara di televisi. Yang dimaksud wawancara dalam penulisan buku ini yaitu eksplorasi antara pewawancara dengan narasumber yang berlangsung sepanjang penulisan buku ini sekitar empat sampai lima bulan.

Siapa saja yang diwawancara? Total ada 21 orang. Orangnya dipilih dari mereka yang punya status public figure terkenal, intensitas dalam program BerQur’an serta perubahan besar yang mereka hasilkan. Diantaranya yaitu OC Kaligis, Aqil Mochtar, Ilham Arief Sirajuddin, Sigit Pramono Asri, Ustadz Luthfi Hasan Ishaq, dll.

Penyusun buku ini adalah Tim yang menyebut “Tim SCLS Warna Sukamiskin”. Siapa saja orangnya tidak disebutkan secara detail. Hanya ada satu artikel di bagian pengantar yang ditulis oleh Didit Abdul Majid dengan judul “Catatan Pewawancara” yang sepertinya mewakili Tim Penulis. Penulis artikel tersebut mengurai bahwa ini adalah buku kelima yang dia gawangi dan berhasil diterbitkan dari dalam LP Sukamiskin.

Membaca kisah demi kisah membuat saya tertegun dan banyak-banyak tertunduk bahkan kadang hampir menangis. Kata demi kata terdengar jernih dari jiwa yang justru merasakan kemerdekaan yang sebenarnya. Benar fisik mereka “terpenjara”. Dan itu yang mereka rasakan di awal proses mulai dari penyelidikan, persidangan sampai jatuh keputusan yang membawa mereka ke tempat yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Baca Juga :  Lakukan Hal Ini Agar Istiqomah Membaca Al Quran

Terbayang betapa beratnya beban mereka secara pribadi menghadapi situasi demikian. Belum lagi kecintaan mereka kepada istri, anak, keluarga yang harus ikut menanggung sanksi sosial atas perbuatan yang mereka lakukan. Ada yang butuh waktu berbulan-bulan sampai akhirnya baru bisa menerima dengan lapang dada kehendak Ilahi ini.

Yang menarik adalah kisah bagaimana mereka yang jatuh ini kemudian bangkit berdiri ketika memulai interaksi mereka dengan Al Quran. Program pembelajaran Al Quran di LP Sukamiskin berlangsung setiap Senin dan Kamis sore dari Ashar sampai Maghrib. Ternyata, walau mereka dikenal sebagai pejabat yang kadang ikut mengajak anak buahnya, warganya, untuk dekat dengan Al Qur’an, mereka sendiri sebenarnya sama sekali belum bisa membaca Al Quran.

Di sinilah letak kehebatannya. Dengan usia yang tak lagi muda bahkan nyaris di ujung kehidupan, pangkat dan jabatan yang tinggi, kemewahan dunia yang pernah dirasakan ternyata tak menghalangi mereka belajar Al Qur’an dari ‘nol’. Perlahan-lahan mereka merangkak dari bawah. Menyadari kealpaan diri yang selama ini lalai dan jauh dari Al Qur’an. Hingga mereka merasakan kedamaian itu sedikit demi sedikit sampai akhirnya mereka tak bisa lepas lagi dengan Al Qur’an.

Baca Juga :  Memperlakukan Al Quran Digital Tidak Sama dengan Mushaf

Ada yang bersyukur akhirnya bisa membaca Al Qur’an dan menjadikannya sebagai hadiah kepada Ibunya. Sebelumnya Sang Ibu mengeluh karena si anak sulit sekali diajak belajar Al Qur’an. Ada yang baru pertama kali Khatam Al Qur’an seumur hidupnya, pertama kali tarawih semalam 2 Juz, merasakan sedih ditinggal Ramadhan 1438 tahun kemarin, dan banyak kisah sederhana namun dalam maknanya.

Rasanya saya ingin melihat buku ini dalam bentuk sebuah film. Demi menyaksikan manusia-manusia suci ini lahir ke dunia. Agar menjadi pelajaran bagi siapa saja yang belum merasakan kenikmatan hidup bersama Al Quran. Tanpa perlu mengalami kejadian seperti mereka terlebih dahulu baru kemudian Allah sadarkan.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here