Cara Menasihati ala Rasulullah, Agar Nasihat Tak Sekadar Lewat

Cara Menasihati ala Rasulullah, Agar Nasihat Tak Sekadar Lewat

Cara Menasihati ala Rasulullah, Agar Nasihat Tak Sekadar Lewat
(Foto: pray4hui.com)

Suaramuslim.net – Nasihat, ibarat obat yang diberikan untuk menyembuhkan suatu penyakit. Namun tentunya bukan penyakit fisik melainkan suatu perilaku yang perlu diperbaiki karena kurang sesuai dengan ajaran agama atau norma yang berlaku di masyarakat. Namun, seringkali nasihat yang diberikan hanya lewat begitu saja, tanpa membekas di hati pendengarnya, apalagi direalisasikan dalam perbuatan nyata. Menyalahkan pendengar tentunya bukanlah hal yang bijak untuk memperbaiki keadaan. Perlu introspeksi dalam diri agar nasihat tak sekadar lewat.

Berikut adalah beberapa cara menasihati berdasarkan ajaran Rasulullah yang dapat kita renungkan bersama.

  1. Memulai nasihat dengan nama Allah

Hal ini bertujuan untuk menarik perhatian orang yang mendengarkan karena pentingnya apa yang akan diucapkan untuk dikerjakan atau dijauhi.

Al Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:

” Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman. Dikatakan, “Siapa wahai Rasulullah?” Sabda Rasulullah saw, ”Orang yang tidak memberi rasa aman kepada tetangganya karena kejahatannya.”

  1. Mencampur nasihat dengan canda

Hal ini bertujuan untuk menggerakkan rasio, menghilangkan jemu dan menimbulkan daya tarik.

Abu daud dan At Tirmidzi meriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Ia berkata:

“Sesungguhnya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. Meminta seekor sapi jantan dari harta sedekah, untuk dibawa di atasnya harta bendanya. Maka Rasulullah Saw, bersabda, ”Sesungguhnya aku akan membawamu di atas anak unta.” orang itu berkata, ”Ya Rasulullah, apa yang akan aku perbuat dengan anak unta?” Rasulullah Saw bersabda, ”Apakah unta melahirkan hanya unta betina?”

  1. Sederhana dalam nasihat agar tidak membosankan

Rasulullah jika beliau berkhutbah tidak ngelantur dan tidak menjemukan.

Abu Daud meriwayatkan dari Jabir bin Samrah, bahwa:

”Rasulullah Saw, tidak memperpanjang nasihat pada hari Jum’at, (namun) hanya merupakan kata-kata yang sederhana.”

  1. Nasihat dengan memberikan perumpamaan

Untuk memperjelas nasihat dan pengajarannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sering menggunakan perumpamaan dengan apa yang dapat mereka saksikan dengan mata kepala dan berada dalam jangkauan mereka, sehingga nasihat dapat lebih membekas pada hati dan akal.

An Nasa’i meriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:

”Perumpamaan orang mukmin yang suka membaca Al Quran adalah seperti buah al-utrujjah (nama buah-buahan yang menyerupai jeruk), baunya semerbak, rasanya enak. Perumpamaan orang mukmin yang tidak suka membaca Al Quran adalah seperti kurma, rasanya enak tapi tidak berbau. Perumpamaan orang durhaka yang suka membaca Al Quran adalah seperti tumbuh-tumbuhan yang harum baunya tetapi rasanya pahit. Perumpamaan orang durhaka yang tidak membaca Al Quran adalah seperti buah paria, rasanya pahit dan tidak berbau. Perumpamaan teman yang jahat adalah seperti tukang pandai besi, jika hitamnya tidak mengenaimu, maka paling tidak asapnya akan mengenaimu.”

  1. Nasihat dengan memperagakan tangan

Jika Rasulullah menghendaki ketegasan suatu masalah yang penting, beliau memperagakan kedua tangannya, mengisyaratkan bahwa masalah penting itu harus diperhatikan dan diamalkan.

Al Bukhari meriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad As-sa’idi, ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Saya bersama orang yang memelihara anak yatim di surga seperti kedua jemari ini.” dan beliau mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya.

  1. Nasihat dengan memperagakan gambar

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menggariskan telunjuknya di tanah, di hadapan para sahabatnya untuk memperjelas sebagian pemahaman yang penting dan mendekatkan kepada akal mereka sebagian gambaran yang bermanfaat.

Al Bukhari dalam sahihnya meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :

Rasulullah membuat garis untuk kami berupa segi empat, dan menggariskan sebuah garis di luarnya, dan menggariskan garis-garis kecil membentang di tengah dari kedua sisi dan beliau bersabda, ”ini adalah manusia. Dan ini adalah ajal yang meliputinya. Dan garis yang di luar ini adalah harapannya. Dan garis-garis kecil yang membentang ini adalah kejadian dan malapetaka yang datang tiba-tiba. Maka jika yang ini salah, akan digigit (dipatuk) oleh yang ini, dan jika mempersalahkan semuanya maka akan ditimpa kelemahan.”

  1. Nasihat dengan amalan praktis

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, memberikan contoh kepada para sahabatnya dengan contoh yang hidup mengenai metode pendidikan, pengajaran dan pembinaan.

Al Bukhari dalam sahihnya meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:

Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian shalat dua rakaat yang di dalam shalat itu jiwanya tidak memikirkan perihal dunia sedikit pun, niscaya ia akan diampuni segala dosanya yang terdahulu.”

 

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment