Cina dan Pembersihan Etnis Muslim di Uighur
Seorang Muslim Uighur mengumandangkan azan di Xinjiang dalam foto tahun 2008. (Foto: bbc.com)

Suaramuslim.net – Pembersihan etnis muslim di Uighur telah berlangsung lama, dan saat ini menjadi puncak gunung es. Kamp konsentrasi untuk mencuci otak sekaligus menghilangkan muslim Uighur menjadi saksi sejarah. Uighur menjadi sasaran dan target bukan saja karena ingin memusnahkan Islam tetapi juga karena disana terpendam kekayaan alam yang sangat menjanjikan. Semangat untuk menghancurkan Islam semakin besar karena diamnya dunia yang tidak menyuarakan adanya pelanggaran HAM atau pentingnya kebebasan beragama.

Perjuangan muslim Uighur akhir-akhir ini semakin besar karea harus menghadapi pembersihan identitas muslim. Mereka dilarang puasa dan shalat, serta harus menjauhkan dari simbol-simbol Islam, seperti Al Quran, jilbab dan jenggot . Hal ini mirip pembersihan Islam dari bumi Andalusia di Spanyol. Umat Islam saat itu diberi pilihan untuk masuk agama Nasrani atau keluar dari wilayahnya, sebagaimana muslim Uighur yang bisa bertahan dengan identitas Islam tapi harus keluar dari Cina atau tetap bertahan dengan risiko mati.

Sejarah Kekerasan Terhadap Muslim Uighur

Pembantaian terhadap umat Islam di Uighur sudah berlangsung lama. Dalam catatan International Social Support and Invention : The Uighur Movement Xinjiang : Province China yang ditulis Isabella Steinhauer (2017) mengatakan bahwa telah berabad-abad relasi Xinjiang dan Beijing mengalami pasang surut. Tahun 1948 setelah Partai Komunis Cina memenangkan perang sipil, Beijing secara resmi mengklaim Xinjiang sebagai wilayahnya. Pemerintah memberikan status sebagai wilayah otonom. Xinjiang menyimpan cadangan minyak dan mineral yang cukup besar, sekaligus sebagai pintu masuk Cina ke Asia Tengah dan Timur Tengah. Dua daerah ini menjadi satu dari dua lumbung investasi Cina.

Untuk memuluskan perjalanan investasinya, Cina meluncurkan berbagai macam proyek pembangunan. Tahun 1954 Cina mendirikan Xinjiang Production and Construction Corps (XPCC) untuk menggarap pemukiman dan pertanian. Proyek ini berlangsung setengah abad. Awal 1990-an, Zona ekonomi khusus diberlakukan di Xinjiang dimana Beijing mensubsidi petani kapas lokal dan merombak sistem perpajakan. Pemerintah pusat mengucurkan modal untuk proyek-proyek infrastruktur dengan membangun Tarim desert Highway dan jalur kereta ke Xinjiang Barat.

Xinjiang berbatasan dengan Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Pakistan, dan Afghanistan, sehingga sangat strategis bagi pemerintah Cina untuk melakukan diversifikasi usaha, baik politik atau ekonomi.

Tingginya arus pembangunan memicu kedatangan pekerja migran ke Xinjiang, khususnya etnis Han, yang tidak lain suku terbesar di Cina. Populasi Han di Xinjiang meningkat dramatis dari 6,7 persen (220.000) tahun 1949 menjadi 40 persen (8,4 juta) tahun 2008. Dalam jangka panjang dari migrasi suku Han menimbulkan gesekan sosial. Akses masyarakat Uighur terhadap air bersih dan tanah kian terbatas. Kesenjangan ekonomi meningkat akibat perekrutan pekerja yang diskriminatif. Etnis Han makin kaya sedang orang Uighur kian miskin di tanah leluhurnya sendiri.

Salah satu pemicu gesekan itu adalah larangan Beijing terhadap masyarakat Uighur untuk berpuasa ramadhan dan mengenakan cadar. Tidak hanya itu, pemerintah Cina juga meruntuhkan bangunan sebagian masjid dan bangunan kuno milik kaum muslimin Uighur di Kashgan. Tahun 2009 etnis Uighur dan Han terlibat bentrokan besar setelah tewasnya 2 pekerja Uighur di Guangdon. Akibat bentrokan itu, 197 orang tewas, lebih dari 1600 orang terluka, dan 718 orang ditahan. Situasi bertambah buruk dengan kemunculan gerakan separatis seperti East Turkestan Islamic Movement (ETIM) yang sudah eksis sejak tahun 1990 an, dan oleh Beijing ETIM dikategorikan sebagai teroris dan diklaim berafiliasi dengan Al Qaeda sehingga layak diperangi.

Pasca 911 seiring masifnya perang melawan terornya George Bush, “Beijing mulai meningkatkan kewaspadaan di Xinjiang. Mereka menangkapi pihak-pihak yang diduga terlibat “Keagamaan ilegal”, juga membungkam para ulama di Kashgan yang dicap menyuarakan pesan-pesan ekstremis hingga tak ragu menutup masjid di Karakash.”

Atas tragedi kekerasan terhadap warga muslim Uighur kurang memberi greget bagi dunia untuk menyuarakan pentingnya penghentian pembantaian. Mereka seolah kompak tak bereaksi melihat tragedi kemanusiaan secara terang-terangan. Reaksi dunia akan berbeda jika tragedi kemanusiaan ini menimpa kelompok non-muslim, tragedi di Uighur tidak menggerakkan aktivis HAM untuk bersuara kritis. Seolah mereka tidur dan senyap menikmati pembantaian warga muslim. Hanya kaum muslimin di berbagai dunia terus meneriakkan adanya pembantaian itu. Negara selevel Amerika saja tidak bersuara.

Negara Cina yang dikenal anti agama, dan terus membantah adanya tragedi itu, seraya terus melanjutkan aksi pembersihan etnis muslim Uighur. Kaum muslimin dipaksa mengucapkan sumpah setia kepada presiden Cina, Xi Jinping. Mereka juga ditahan tanpa batas waktu yang jelas, serta orang-orang Cina memperlakukan layaknya sumber penyakit sampai didorong seraya menyerukan slogan-slogan partai komunis. Bahkan, pemerintah Cina juga mengawasi gerak-gerik masyarakat Uighur secara ketat lewat pemantauan kartu identitas di pos pemeriksaan.

Penderitaan muslim Uighur tidak akan terhenti dengan teriakan dan hujatan terhadap pemerintah Cina, tetapi harus dilakukan tekanan lewat diplomasi pemimpin negara, baik secara langsung maupun tidak langsung. Diamnya pemimpin negara-negara adi kuasa dan lembaga-lembaga dunia seperti PBB dan persekutuannya akan semakin memuluskan pemerintah Cina untuk membersihkan etnis muslim Uighur.  Mudah-mudahan hal ini tidak terjadi.*

*Surabaya, 19 Desember 2018   
*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.