Corona dan keimanan kita
Ilustrasi masker, virus, dan bumi. Foto: Pixabay.com

Suaramuslim.net – Sudah tiga pekan atau mungkin satu bulan kondisi pandemi Covid-19 melanda negeri Indonesia. Dunia sudah menyoroti negara kita dari jauh-jauh hari, akan tetapi pemerintah terus menerus memberikan statement bahwa Covid-19 tidak akan bertamu ke negara kita.

Ironisnya mulai tanggal 2 Maret 2020, setelah diumumkannya 2 orang WNI positif corona, sampai saat ini pasien dengan positif corona terus mengalami kenaikan dan rasio pasien yang meninggal di Indonesia karena Covid-19 atau biasa kita sebut virus corona ini 8%.

Ini membuktikan bahwa kita sebagai negara yang disebut Trump sebagai salah satu negara berkembang, gagap dalam menghadapi pandemi corona yang sedang melanda. Sebenarnya bukan berarti pemerintah tidak bergerak dalam menanggulangi masalah ini, karena elemen sebuah negara bukan hanya pemerintah saja, masyarakat juga harus terlibat dan ikut berkontribusi dalam memutus mata rantai penyebaran pandemi corona ini.

Kegelisahan dan perasaan ketidakpastian merajalela, alis-alis mata masyarakat Indonesia yang mendapatkan informasi kelonjakan kasus positif corona selalu terangkat menandakan bahwa ledakan penyebaran corona saat ini meresahkan. Arus deras informasi tentang corona berpacu dengan keimanan dan keyakinan kita kepada Tuhan YME. Sampai kapankah badai pandemi ini akan berakhir? Tak ada jawaban yang pasti, banyak prediksi, dan inilah yang terjadi.

Virus corona menjadi suatu pendemi yang ditakuti dan diwaspadai masyarakat global saat ini. Virus corona dan virus-virus lainnya tak ubahnya dengan setan-setan yang menggoda kita setiap hari. Seperti Nabi Ayyub yang pernah kena penyakit yang dibawa oleh Iblis, sampai Nabi Ayyub kewalahan dan hampir putus asa. Akan tetapi dengan keimanan dan tawakkal yang kuat kepada Allah, Nabi Ayyub mampu melalui ujian tersebut.

Sehebat apa pun godaan Iblis dan bala tentaranya, apabila bekal manusia yaitu keimanan dan tawakkal kuat, maka godaan iblis dan bala tentaranya terhempas dengan sendirinya.

Bayangkan apabila dunia kedokteran hanya berjalan di tempat, tanpa ada perkembangan dan kemajuan di bidangnya, maka dapat dipastikan dunia pasti tidak akan siap menghadapi virus corona saat ini.

Merefleksi dari kisah Nabi Ayyub ketika mendapatkan suatu penyakit, sebagai seorang yang mempunyai keyakinan kepada Allah, seyogyanya kita mampu melihat situasi ini dengan sudut pandang keyakinan kita yaitu dengan kesabaran.

Kesabaran bukan berarti hanya menjadi penonton yang fine dengan keadaan akan tetapi kesabaran yang diiringi dengan ikhtiar atau usaha. Usaha yang betul-betul kita bisa lakukan ialah menaati imbauan pemerintah tentang bagaimana memutus rantai penyebaran Covid-19, dan inilah wujud dari keimanan kita kepada Allah.

Dalam suatu hadis Nabi dijelaskan bahwa kesabaran seseorang dalam menghadapi penyakit, sudah termasuk setengah dari kesembuhan. Karena itu untuk menghadapi kondisi seperti ini atau untuk menghadapi Iblis dan bala tentaranya kesabaran adalah salah satu senjata yang ampuh. Sikap dalam menghadapi cobaan dan ujian yang disodorkan Tuhan itulah yang membuktikan kualitas keimanan seorang hamba.

Lalu sikap apakah yang akan kita ambil untuk menghadapi pandemi yang melanda negara kita, frustasi kah, stress kah, atau sabar???

Ihsan Firdaus
Barito Kuala, 02-03-2020

Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.