Anak kecil sedang salat. Ils: Pixabay.com

Suaramuslim.net – Sebagai seorang muslim, maka salat adalah tiang agama, penanda utama atas keislamannya.

Salat yang dilakukan oleh seorang muslim setidaknya memiliki dua dimensi, yang pertama adalah gerakan yang tampak dalam setiap gerakan salat (shuratun zahirah) dan nilai hakikat yang diperoleh dari setiap bacaan salat yang dilakukan (haqiqatun bathinah).

Apabila kita perhatikan setiap gerakan salat maka kita akan menjumpai bahwa setiap gerakannya membentuk sudut matematis.

Coba perhatikan, takbiratul ihram membentuk sudut 0 derajat, rukuk 90 derajat, i’tidal 180 derajat, sujud 45 derajat ( x 2 sujud = 90 derajat) maka apabila dijumlahkan dalam 1 rakaat terbentuk 360 derajat yang itu sama dengan satu lingkaran (putaran) utuh.

Berputar, adalah gerakan mistis yang dilakukan oleh alam semesta makrokosmos. Coba perhatikan pergerakan galaksi maka akan tampak gerakan berputar. Demikian pula dengan bumi kita yang berputar pada porosnya matahari pun demikian dan semua bintang pun demikian.

Bahkan pada gerakan mikrokosmos, kita akan menjumpai hal yang sama. Manusia berputar mengelilingi Ka’bah dan hal serupa kita jumpai dalam gerakan salat yang membentuk sudut berputar utuh.

Berarti berputar adalah gerakan kehidupan, tanda bahwa makhluk hidup itu berputar, bergerak dan itulah tanda kehidupannya. Artinya bahwa seseorang yang dianggap memiliki eksistensi dalam kehidupan apabila dia berputar yaitu terus bergerak dan bergerak tanpa henti. Ibarat roda yang digelindingkan dalam sebuah gerakan putaran, maka ia akan terus bergerak tanpa henti, kecuali apabila telah sampai pada titik yang menghentikannya. Itulah finish dari setiap pergerakan. Bagi makhluk hidup maka itulah kematiannya.

Gerakan salat yang membentuk sudut berputar dimulai dari takbiratul ihram dalam posisi berdiri juga memiliki sebuah pesan penting. Yaitu sekalipun berdiri maka pandangan harus tetap menunduk dan tertuju pada tempat salat.

Pesan yang ingin disampaikan adalah sekalipun seseorang memiliki kemampuan, kekuasaan, kekayaan, kehebatan dan apapun namanya, maka harus tetap bersikap tawadu, menunduk rendah hati serta harus tetap tertuju pada Allah serta peduli kepada masyarakat bawah.

Selanjutnya posisi ruku’ yaitu meluruskan punggung dengan menyejajarkan antara kepala dan pantat seraya tetap melihat pada tempat sujud serta berada membentuk posisi 45 derajat.

Hal ini memberikan sebuah kesan bahwa dalam menjalani kehidupan seseorang haruslah mampu bersikap seimbang yaitu menyeimbangkan antara usaha dan rasionalitas seraya tetap berfokus membangun kepedulian dan membantu masyarakat bawah.

Posisi sujud dengan meletakkan kepala lebih rendah daripada pantat seakan memberikan kesan bahwa dalam hubungan dengan Allah, manusia bukanlah siapa-siapa dan harus merendah serendahnya di hadapan Allah swt.

Rasionalitas haruslah diletakkan serendah-rendahnya bahkan lebih rendah dari pantat yang selama ini dianggap paling tidak berarti. Artinya dalam konteks hubungan ketuhanan maka dahulukan ketawakalan dan rendahkan rasionalitas. Karena ketetapan Allah melampaui rasionalitas bahkan di luar rasionalitas kemanusiaan.

Ketawakalan adalah sikap utama yang harus didahulukan. Untuk itu di saat seseorang menghadapi suatu masalah maka maka awal harusnya bukanlah mencari solusi melainkan dahulukan ketawakalan kepada Allah.

Duduk di antara dua sujud, berhenti sejenak untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dengan banyak berdoa dan berharap atas berbagai hal yang terjadi dan akan terjadi.

Suasana ini perlu dihadirkan dalam diri setiap individu agar hidup tetap merasa tenang sekalipun menghadapi realitas apapun.

Sementara pada duduk tahiyyat, iftirosy adalah wujud penghormatan dan pengesaan serta tanda terima kasih. Mengajarkan adab tentang pentingnya berterima kasih kepada Rasulullah dan Nabi Ibrahim, khususnya melalui selawat Ibrahimiyah.

Mengapa dengan Nabi Ibrahim? Hal ini karena beliaulah yang telah mendoakan anak cucu keturunannya termasuk terhadap kita agar menjadi keturunan terbaik yang beribadah kepada Allah serta beliau pulalah yang menyampaikan dan menitipkan salam kepada Rasulullah untuk umat Muhammad saat berada dalam perjalanan Isra Mikraj.

Pada sisi shuratun zahirah salat ini maka salat memiliki makna penting khususnya dari setiap gerakan yang tampak.

Setiap gerakan salat memberikan arahan bagi umat ini. Sehingga pantaslah bahwa salat menjadi solusi bagi umat manusia. Sebagaimana Firman Allah swt:

وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (Al-Baqarah: 45).

Jadikanlah salat sebagai solusi, maka kita akan menemukan jalan keluar atas setiap persoalan hidup.

12 Agustus 2020
Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.