Dua Pengguna Grabwheel Meregang Nyawa, YLKI Batasi dan Kendalikan
Pada 9 Mei 2019 lalu di The Breeze BSD City, Sinarmas Land bersama dengan Grab meluncurkan GrabWheels sebagai solusi mobilitas inovatif ramah lingkungan di BSD City. (Foto: Kompas.com)

JAKARTA (Suaramuslim.net) – Dua orang pengguna skuter listrik Grabwheel Ahad (10/11) dini hari meregang nyawa karena ditabrak mobil di area Gelora GBK. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyampaikan duka yang mendalam atas kecelakaan tersebut yang mencerabut nyawa dua orang penggunanya itu.

Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi mengritik keras managemen Grab atas kejadian itu. Memang manajemen Grab telah menyampaikan duka cita dan akan memberikan dukungan yang lain pada keluarga korban. Namun ini tentu saja sangat tidak cukup.

“YLKI menduga kuat manajemen Grab belum/tidak memberikan edukasi/juknis yang kuat kepada pengguna Grabwheel, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, terutama terkait aspek safety. YLKI meminta manajemen Grab menghentikan sewa skuter listrik, sebelum memperbaiki aspek safety kepada calon penggunanya,” ujar Tulus dalam rilis yang diterima Suaramuslim.net (14/11).

YLKI, imbuh Tulus, mendesak Pemprov DKI Jakarta bahkan Kemenhub, untuk segera mengatur secara ketat keberadaan skuter listrik, sebelum meluas menjadi masalah/wabah baru.

“YLKI mendukung Dishub DKI Jakarta yang akan mengatur hal ini, agar secara cepat disahkan oleh Gubernur DKI Jakarta. Poin-poin penting yang perlu diatur, antara lain: perizinan yang ketat, penarifan, dan juga jaminan asuransi. Intinya keberadaan skuter listrik harus dikendalikan dengan kuat,” jelas Tulus.

Baca Juga :  Agar Hewan Kurban Aman, Ini Imbauan YLKI

Tulus menyebut YLKI meminta dan mendesak pihak-pihak yang menyewakan skuter listrik, terutama Grab, untuk memastikan dan menjamin bahwa pengguna skuter tersebut telah paham terkait rambu-rambu lalu lintas, dan aspek yang lebih detail, terutama dari sisi keselamatan. Mengingat dari sisi infrastruktur belum memberikan dukungan yang memadai untuk jalur skuter. Dan belum pula ada sosialisasi yang memadai kepada penggunanya, yang bisa jadi masih minim literasi terkait kepatuhan berlalu lintas.

“Bandingkan dengan pengguna sepeda di Belanda, yang 40 persennya telah mendapatkan edukasi sejak dini, terkait aspek safety dalam berlalu lintas menggunakan sepeda,” tutup Tulus.

Sumber: YLKI
Editor: Muhammad Nashir

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.