Esensi Problem Kristenisasi di Indonesia

40
Esensi Problem Kristenisasi di Indonesia

Judul                : Berebut Indonesia Pergumulan Kultural Misi Kristen dan Dakwah Islam di Indonesia
Penulis             : Arif Wibowo
Penerbit           : PSPI Publising 2018
Tebal                : 280 halaman
Genre               : Agama dan Kebudayaan
Harga               : 80.000

Suaramuslim.net – Apa yang terbersit di benak pembaca ketika mendengar kata ‘kristenisasi’? Ternyata, pada faktanya, kristenisasi bukan sekadar masalah konversi atau pindah agama. Jawabannya, bisa dibaca dalam buku berjudul “Berebut Indonesia Pergumulan Kultural Misi Kristen dan Dakwah Islam”.

-Advertisement-

Buku ini ditulis oleh Ustaz Arif Wibowo. Intelektual muslim muda ini terlahir di Purworejo 5 Februari 1971. Penulis yang juga berprofesi sebagai bakul beras ini sempat aktif di berbagai organisasi seperti GPI (Gerakan Pemuda Indonesia), PBB (Partai Bulan Bintang), dan DDII (Dewan Dakwah Islamiah) Surakarta.

Saat ini, beliau menjadi Direktur PSPI (Pusat Setudi Peradaban Islam) dan peneliti INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization). Selain menulis buku, beliau juga aktif menulis artikel di berbagai media online.

Baca Juga :  Bagaimana Islam Bisa Mengatasi Kapitalisme yang Jahat Tapi Cerdik (2)

Buku ini terdiri dari empat belas bab yang tema intinya demikian: Pertama, Mengenal Misi Kristen. Kedua, Penginjilan Dunia Islam. Ketiga, Nusantara Sebelum Kristen Datang. Keempat, Kedatangan Katolik dan Protestan. Kelima, Abad Misi dari Penginjilan ke Kristenisasi. Keenam, Jawa, Sebuah Eksperimen. Ketujuh, Penginjilan Kebudayaan. Kedelapan, Kebatinan, Penginjilan Jalan Memutar. Kesembilan, Kristenisasi Akar Rumput. Kesepuluh, Merespon dengan Dakwah. Kesebelas, Melanjutkan Dakwah Peradaban. Keduabelas, Perlawanan Muhammadiyah. Ketigabelas, Muhammad Natsir Modus Vivendi dan DDII. Keempatbelas, Nahdlatul ‘Ulama Garda Depan Dakwah Kultural.

Melalui buku ini, pembaca akan dibawa pada suatu kenyataan yang selama ini barangkali belum terpikirkan, bahwa: misi Kristen yang akrab dikenal orang dengan kristenisasi, ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Menurut pengalaman Arif Wibowo, dalam pendahuluan buku barunya ini (2018: XVII) misi Kristen bukan sekadar prosilitisasi, diakonia atau konversi keagamaan. Lebih dari itu, misi Kristen juga pada tingkat peradaban.

Selain itu, dengan membaca buku ini, pembaca akan dibawa pada konsep inti kristenisasi hingga upaya-upaya mereka secara strategis sampai dalam ranah peradaban yang diperjuangkan di bumi pertiwi.

Baca Juga :  Waspada Bahaya Orang Munafik

Sejak kedatangannya pertama kali di nusantara dan kemudian disokong oleh penjajah dan sampai berkembang sedemikian rupa hingga sekarang, umat Islam seharusnya jangan menganggap remeh masalah ini. Tokoh-tokoh muslim Indonesia seperti Hamka, Natsir, Ahmad Dahlan dulu sudah berusaha mengatasi problem ini. Sedangkan ormas seperti Muhammadiyah, NU dan DDII misalnya, juga berupaya membendung arus deras kristenisasi dengan caranya masing-masing.

Penyajian buku dengan bahasa populer membuat buku ini gampang dicerna dan dipahami. Meski tema-tema yang diangkat kadang-kadang hal yang serius dan berbobot, namun karena kepiawaian penulis dalam mengolah kata, maka isinya menjadi renyah dan gurih untuk dibaca. Bagi siapa saja yang menginginkan bacaan bermutu dan ‘tidak biasa’ terkait kristenisasi maka disarankan membaca buku ini.

Secara umum buku ini berkonten menarik, inspiratif, dan mencerahkan. Hanya saja, adanya kesalahan-kesalahan pengetikan huruf (seperti: pengawasa [hal. 262] seharusnya ‘penguasa’, kecenderingan [hal. 264] harusnya kecenderungan dan lain-lainnya) atau penulisan kata, misalnya: lahirpun [hal. 15] seharusnya dipisah ‘lahir pun’.

Selain itu misalnya, kata yang seharusnya Najasyi pada hal 16 ditulis “Najyasi” (dalam catatan sejarah, Najasyi itu sebutan gelar raja di Habasyah bukan nama raja. Seperti halnya gelar raja di Persia disebut Kisra atau di Romawi disebut Kaisar) dan lain-lain  namun masih bisa dimengerti.

Baca Juga :  Menjadi Muslim Negarawan: Sumbangsih Pemuda Islam dalam Kebangkitan Peradaban Islam pada Era Nation-State (1)

Sisi lain yang menurut peresensi kurang begitu bagus dari buku ini adalah cetakan bukunya karena penjilidannya kurang kuat. Pada hal IV misalnya, kertasnya hampir copot karena jilidannya kurang kuat dan ada pula bekas-bekas lem yang membuat bercak cokelat sehingga terlihat kurang bersih.

Mengingat Kristenisasi juga merambah sampai ke ranah peradaban, di akhir pembahasan (Hal: 264-269) ada beberapa usulan mendesak yang diajukan penulis: Pertama, mendesaknya dakwah berbasis riset. Kedua, merajut Islam dengan kebudayaan lokal. Ketiga, penguatan lembaga sosial politik dan kemasyarakatan umat Islam. Keempat, tim dakwah ke kalangan non muslim.

Akhirnya, dengan kehadiran buku berbobot ini, mudah-mudahan umat Islam semakin sadar mengenai kristenisasi. Selain itu, langkah-langkah yang diambil ke depan untuk menghadapinya lebih strategis dan menyentuh ranah yang jauh lebih esensial.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here