Etika Berbicara Kita Bisa mengantarkan ke Surga atau Justru ke Neraka
Ilustrasi balon dialog.

Suaramuslim.net – Berbicara adalah hal yang sangat manusiawi atau fitrah insaniyah. Sebagai ajaran yang syamil dan mutakamil (komprehensif dan utuh), Islam juga sangat memperhatikan dengan lisan sehingga memberikan arahan yang termaktub dalam adab berbicara. Allah berfirman, “Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir.” (QS. Al Balad 8-9). Karena akhlak seseorang itu sangat diitentukan kualitas ucapannya, maka kita harus memerhatikan aturan dan etika berbicara kita. Mulutmu bisa mengantarkan ke surga, juga bisa menjatuhkanmu ke neraka.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa lisan dapat membawa atau menyebabkan seseorang masuk surga atau neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi no. 2004 dan Ibnu Majah no. 4246).

Dan di hadis lainnya diingatkan bahwa setiap anak cucu Adam akan diminta pertanggungjawaban atas perkataan-perkataannya, baik yang sengaja maupun tidak. “Jika anak Adam memasuki pagi hari, sesungguhnya semua anggota badannya berkata merendah kepada lisan: “Takwalah kepada Allah dalam menjaga hak-hak kami. Sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau istiqomah, maka kami juga istiqomah. Jika engkau menyimpang (dari jalan petunjuk), kami juga menyimpang” (HR Tirmidzi, no. 2407).

Agar bisa meraih manfaat dari lisannya, seorang muslim harus mematuhi etika berbicara. Bicara harus diatur dan inilah etika dalam Islam. Karena mulutmu bisa mengantarkan ke surga, juga bisa menjatuhkanmu ke neraka.

1. Jelas dan mudah dipahami

Bila kita berbicara hendaknya kata-kata kita wadih alias jelas, tegas, lugas dan mudah dicerna atau difahami. Hadis Nabi saw. dari Aisyah r.a, “Adalah kata-kata Rasulullah jelas dan mudah dipahami oleh orang yang mendengar di sekitarnya.”

Apalagi tujuan komunikasi yang utama adalah memberikan pengertian atau kepahaman kepada orang yang diajak berkomunikasi. Rasulullah SAW selalu mencontohkan bagaimana berbicara dengan wadih, sampai-sampai sahabat-sahabat bisa menghitung kata-kata yang disampaikan beliau.

2. Sederhana dan tidak difasih-fasihkan

Hendaknya seorang muslim berbicara dengan bahasa yang sederhana, wajar tidak dilebih-lebihkan atau sok fasih. Seyogyanyalah kita melihat siapa orang yang kita ajak bicara apakah seorang yang terdidik atau bukan. Rasulullah SAW bersabda, “Berbicalah kepada manusia sesuai dengan kadar akal mereka.”

3. Menghindari pengulangan pembicaan yang bisa menimbulkan kejenuhan

Sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud biasa memberikan taushiyah atau nasihat setiap Kamis, sehingga sahabat yang lain pernah berkata padanya, “Hai Abu Abdurrahman, seandainya saja engkau bisa memberi nasihat setiap hari, niscaya kami akan senang.”

Namun Ibnu Mas’ud malah menjawab, “Kami hanya memberikan nasihat sekali-sekali saja, karena Rasulullah saw juga hanya sekali-sekali saja memberi nasihat. Pada saat kami berada di dalam majelis.”

4. Kata-kata yang digunakan hendaknya hanya kata-kata yang baik dan bernilai ibadah

Hindarilah kata-kata yang bersifat laghwi (tidak bermanfaat). Dalam hadis disebutkan oleh Rasulullah SAW: “Min husnil Islamil mar’i tarkuhu ma laa ya’ nihi ‘Termasuk di dalam kebaikan keislaman seseorang, maka ia meninggalkan hal-hal yang tidak berguna (termasuk perkataan sia-sia).’

Yang termasuk kategori kata-kata baik adalah salam, tegur sapa, nasihat, kata-kata yang memberi semangat, menghibur dan menghindari kata-kata laghwi (QS. Al Mukminun 3) sebagai ciri-ciri orang yang beriman.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.