Suaramuslim.net – Setiap organisasi besar selalu punya warisan. Tapi warisan tidak cukup hanya disimpan dalam dokumen, dikenang dalam acara, atau disebut dalam sambutan.
Warisan baru benar-benar hidup ketika ia diteruskan menjadi kebiasaan belajar, cara memimpin, dan keberanian menyapa zaman.
Dalam kondisi inilah ICMI memiliki ruang besar untuk terus bertumbuh sebagai rumah ilmu lintas generasi.
Kalau bicara tentang ICMI, nama Habibie hampir selalu menjadi pintu masuk. Beliau bukan sekadar pendiri, tapi penanda zaman. Dari beliau, banyak orang belajar bahwa ilmu dan iman tidak perlu berdiri di dua ruang yang berbeda. Keduanya bisa berjalan bersama, saling menguatkan, dan menjadi tenaga besar untuk membangun bangsa.
Habibie menunjukkan bahwa cendekiawan muslim bukan hanya orang yang pandai berpikir, tetapi juga orang yang mau memakai ilmunya untuk mengabdi.
Di situlah kepemimpinan ICMI punya akar yang kuat. Ia lahir dari semangat keilmuan, keislaman, keindonesiaan, dan pengabdian. Maka ketika zaman berubah, tugas ICMI bukan meninggalkan warisan lama, tetapi menerjemahkannya kembali dalam bahasa zaman yang lebih segar.
Bukan sekadar menjaga nama besar, tetapi merawat nilai besarnya. Bukan hanya mengingat Habibie, tetapi melanjutkan semangat belajarnya.
Habibie memimpin bukan dengan banyak gaya, tapi dengan keteladanan. Ia membangun budaya belajar di sekelilingnya.
Dalam konsep learning organization seperti yang dijelaskan Peter Senge dalam The Fifth Discipline (1990), organisasi yang sehat adalah organisasi yang terus belajar bersama.
Setiap orang di dalamnya merasa punya ruang untuk berpikir, bertanya, mencoba, dan berbagi. Pemimpin dalam organisasi seperti itu tidak merasa paling tahu. Ia justru membuka jalan agar pengetahuan mengalir, dari pusat ke daerah, dari senior ke junior, dari pengalaman kecil menjadi pembelajaran besar.
Gaya seperti ini sangat relevan dengan kebutuhan ICMI hari ini. Kita sepakat organisasi cendekia tidak cukup hanya punya banyak tokoh. Ia juga perlu punya kebiasaan yang membuat ilmu tidak berhenti di kepala orang per orang.
Setiap pengalaman perlu dicatat. Setiap kegiatan perlu meninggalkan pembelajaran. Setiap pertemuan perlu memberi jejak pengetahuan, meski sederhana. Karena dalam organisasi besar, yang sering membuatnya kuat bukan hanya keputusan besar, tetapi kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Zaman juga bergerak cepat. Teknologi berubah, cara orang bekerja berubah, cara anak muda belajar juga berubah. Karena itu, kepemimpinan ICMI perlu semakin adaptif.
Kepemimpinan cendekia
Ronald Heifetz dan Marty Linsky dalam Leadership on the Line (2002) menjelaskan bahwa kepemimpinan adaptif bukan sekadar kemampuan memberi arahan, tetapi kemampuan menjadi fasilitator, menolong orang menghadapi perubahan dengan kepala jernih dan hati yang tenang.
Pemimpin adaptif tidak buru-buru menyalahkan keadaan. Ia membaca situasi, melakukan analisis, mendengar banyak suara, lalu mengajak orang bergerak bersama.
Dalam konteks ICMI, ini penting sekali. Setiap daerah tentu punya tantangan yang berbeda. Ada daerah yang kuat jejaring akademiknya, ada yang kuat silaturahimnya, ada yang kuat gerakan sosialnya, ada pula yang sedang membangun kembali energi organisasinya.
Keragaman seperti ini bukan hambatan. Justru di sanalah kekayaan ICMI. Visi besar dari pusat bisa menjadi inspirasi, sementara pengalaman daerah bisa menjadi sumber pembelajaran yang memperkaya organisasi secara keseluruhan.
Maka hubungan pusat dan daerah sebaiknya dilihat sebagai ruang saling menguatkan. Pusat memberi arah besar, daerah memberi warna lapangan. Pusat merawat visi, daerah merawat denyut kehidupan organisasi.
Kalau dua-duanya saling mendengar, ICMI akan punya energi yang lebih utuh. Bukan organisasi yang berjalan karena instruksi semata, tetapi karena kesadaran bersama bahwa setiap wilayah adalah bagian dari rumah besar yang sama.
Lalu datang generasi baru. Mereka tumbuh dengan gawai, media sosial, informasi cepat, dan cara berpikir yang berbeda. Sebagian orang menyebut mereka Generasi Z. Ada juga yang menyebutnya generasi stroberi: tampak lembut, mudah terluka, tapi sebenarnya penuh warna dan potensi bila dirawat dengan benar.
Mereka mungkin tidak terlalu suka gaya komunikasi yang kaku. Mereka ingin didengar, diajak bicara, diberi ruang, dan dilibatkan dalam sesuatu yang bermakna.
Dalam teori generational leadership yang dapat dibaca melalui Neil Howe dan William Strauss dalam Generations: The History of America’s Future (1991), setiap generasi membawa pengalaman sosial yang berbeda, sehingga cara memimpinnya juga perlu disesuaikan.
Pemimpin yang efektif bukan hanya memahami struktur organisasi, tetapi juga memahami psikologi zamannya. Ia tahu kapan harus memberi arahan, kapan harus membuka ruang dialog, dan kapan harus memberi kepercayaan kepada generasi baru untuk mencoba.
Menyapa generasi baru
ICMI punya peluang besar di sini. Generasi baru bukan ancaman bagi tradisi, melainkan jalan agar tradisi tetap hidup. Mereka bisa membawa cara baru dalam menulis, berdiskusi, mengelola data, membuat konten, membangun jejaring, dan menyebarkan gagasan.
Tugas generasi senior bukan sekadar memberi nasihat, tetapi juga membuka ruang tumbuh. Sebaliknya, tugas generasi muda bukan hanya membawa ide baru, tetapi juga belajar adab, kedalaman, dan kebijaksanaan dari para pendahulu.
Kalau dua generasi ini bertemu dengan hati yang lapang, ICMI akan menjadi ruang belajar yang indah. Yang senior tidak merasa ditinggalkan, yang muda tidak merasa diabaikan. Yang lama memberi akar, yang baru memberi sayap. Yang berpengalaman menjaga arah, yang muda membantu mempercepat langkah. Inilah bentuk kepemimpinan cendekia yang lebih segar: tidak sibuk mempertahankan jarak, tetapi membangun jembatan.
Di era digital, ICMI juga perlu semakin serius merawat pengetahuan. Habibie dulu mengangkat martabat bangsa lewat teknologi dan ilmu. Kini ICMI dapat melanjutkan semangat itu dengan membangun budaya pengetahuan yang lebih terbuka. Misalnya dengan mendokumentasikan praktik baik daerah, membuat ruang berbagi antarwilayah, menulis gagasan secara rutin, dan menyimpan arsip organisasi dengan lebih rapi.
Tidak harus mulai dari yang rumit. Yang penting mulai dari kebiasaan sederhana yang konsisten.
Kita yakin ilmu yang tidak dibagikan mudah hilang. Pengalaman yang tidak ditulis mudah menguap. Kegiatan yang tidak direfleksikan mudah menjadi seremoni. Padahal ICMI punya begitu banyak potensi cerita baik: tokoh-tokoh yang menginspirasi, daerah yang bergerak, program yang bermanfaat, dan jejaring cendekia yang luas. Semua itu akan menjadi kekuatan besar bila dihimpun, dirawat, dan dibagikan sebagai pengetahuan bersama.
Evolusi kepemimpinan ICMI
Evolusi kepemimpinan ICMI akhirnya bukan soal mengganti generasi lama dengan generasi baru. Bukan juga soal mengganti cara lama dengan cara baru secara tergesa-gesa. Evolusi yang sehat adalah kemampuan merawat yang baik dari masa lalu, lalu melengkapinya dengan cara kerja yang lebih sesuai dengan hari ini.
ICMI tidak perlu kehilangan akar untuk menjadi modern. Ia hanya perlu membuat akar itu semakin hidup, agar bisa menumbuhkan cabang-cabang baru.
Maka pemimpin ICMI masa depan barangkali bukan yang paling keras suaranya, bukan pula yang paling banyak tampil di panggung. Pemimpin yang dibutuhkan adalah yang mau belajar, mau mendengar, mau mencatat, mau berbagi, dan mau memberi ruang bagi orang lain untuk tumbuh.
Ia tidak memimpin dengan rasa paling tahu, tetapi dengan kerendahan hati untuk terus mencari tahu. Di situlah ilmu menjadi cahaya, dan kepemimpinan menjadi jalan pengabdian.
Pada akhirnya, kepemimpinan cendekia bukan hanya urusan manajemen. Ia juga perjalanan ruhani. Allah mengajarkan doa yang sangat indah: “Rabbi zidni ‘ilma” — Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu (QS. Ṭāhā [20]: 114).
Doa ini luar biasa, maknanya dalam. Ia mengingatkan bahwa siapa pun yang memimpin tidak boleh berhenti menjadi pembelajar. Sebab semakin tinggi amanah, semakin besar pula kebutuhan untuk ditambah ilmu, ditata hati, dan dijaga niatnya.
Jika ICMI mampu merawat semangat ini, insyaallah organisasi ini akan terus punya napas panjang. Ia tidak hanya menjadi tempat berkumpul para cendekia, tetapi rumah ilmu yang menumbuhkan. Tempat generasi lama menitipkan kebijaksanaan, generasi baru menemukan ruang bertumbuh, dan semua pengurus belajar bersama untuk memberi manfaat yang lebih luas.
Dari situlah evolusi kepemimpinan ICMI menemukan maknanya: merawat ilmu, menyapa generasi baru, dan terus bergerak dengan iman yang hidup.
Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jawa Timur

