Bug terbesar bernama kebiasaan: Ketika manusia menolak menginstal petunjuk Allah

Menyikapi Ujian

Suaramuslim.net – Sudah beberapa waktu ini, setelah salat Subuh saya membiasakan diri tidak hanya membaca Al-Qur’an, tetapi juga berhenti sejenak untuk merenungkan maknanya.

Karena tujuan mengaji bukan sekadar menambah jumlah halaman yang dibaca.

Lebih dari itu, Al-Qur’an hadir untuk dipahami, dihayati, lalu mengubah cara kita berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan.

Pagi ini, saya merenungkan Surah Al-Baqarah ayat 150–170.

Sekilas, ayat-ayat tersebut membahas berbagai tema. Mulai perubahan kiblat, sabar dan salat, Safa dan Marwah, tanda-tanda kebesaran Allah, makanan yang halal lagi baik, hingga larangan mengikuti jejak nenek moyang tanpa ilmu.

Awalnya tampak seperti pembahasan yang berdiri sendiri.

Namun setelah dibaca berulang-ulang, saya justru melihat satu benang merah yang menghubungkan semuanya.

Allah sedang mengajarkan bahwa petunjuk bukan sekadar untuk diketahui.

Petunjuk harus mengubah kebiasaan.

Dari sanalah lahir sebuah renungan yang saya beri judul “Bug Terbesar Bernama Kebiasaan.”

Dalam dunia teknik, memperbaiki sebuah sistem tidak selalu berarti mengganti perangkat keras.

Sering kali yang diperbarui adalah perangkat lunaknya.

Firmware diperbarui.
Sistem operasi diperbarui.
Algoritma diperbaiki.
Bug diperbaiki.

Tujuannya satu.
Agar sistem bekerja lebih baik.

Namun ada satu masalah yang sering terjadi.
Update sudah tersedia, tetapi tidak pernah diinstal.

Akibatnya, bug yang sama terus muncul.
Bukan karena sistemnya tidak memiliki solusi.
Tetapi karena penggunanya memilih tetap menggunakan versi lama.

Bukankah kehidupan juga sering seperti itu?

Allah mengirimkan “update”

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 150–170, Allah mengawali dengan perubahan arah kiblat.

Sekilas hanya perubahan arah salat. Padahal hakikatnya jauh lebih besar.

Allah sedang mengajarkan bahwa ketika petunjuk datang, manusia harus berani mengubah arah hidupnya.

Tidak cukup mengetahui mana yang benar.

Yang lebih penting adalah bersedia mengikuti kebenaran itu.

Karena hidayah bukan sekadar informasi. Hidayah adalah transformasi.

Setiap update akan diuji

Mengubah kebiasaan tidak pernah mudah. Karena itu, setelah perintah tersebut, Allah langsung mengajarkan tentang sabar dan salat.

Kemudian disampaikan bahwa manusia akan diuji dengan rasa takut, lapar, kekurangan harta, kehilangan, dan berbagai kesulitan.

Mengapa?

Karena setiap perubahan selalu memiliki harga.
Tidak ada pembaruan tanpa penyesuaian.
Tidak ada transformasi tanpa ujian.

Jangan menyembunyikan kebenaran

Setelah mengetahui petunjuk, manusia juga diingatkan agar tidak menyembunyikan kebenaran.

Ilmu bukan untuk disimpan.
Petunjuk bukan untuk ditutupi.

Seseorang yang telah mengetahui jalan yang benar memiliki tanggung jawab untuk menyampaikannya dengan hikmah.

Gunakan akal

Kemudian Allah mengajak manusia memperhatikan langit, bumi, pergantian siang dan malam, hujan, lautan, dan berbagai tanda kekuasaan-Nya.

Artinya, iman tidak bertentangan dengan akal. Justru akal digunakan untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah.

Seorang insinyur mempelajari hukum alam. Seorang mukmin melihat hukum alam sekaligus mengenali Sang Penciptanya.

Bug terbesar bernama kebiasaan

Lalu sampailah pada dialog yang sangat menarik.

Ketika diajak mengikuti petunjuk Allah, sebagian manusia menjawab,

“Kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.”

Di sinilah letak bug terbesar.

Bukan karena petunjuknya kurang jelas.
Bukan karena algoritmanya salah.
Bukan karena sistemnya gagal.

Tetapi karena manusia lebih nyaman mempertahankan kebiasaan lama.

Dalam dunia teknologi, sistem yang tidak pernah diperbarui akan tertinggal. Dalam kehidupan, hati yang menolak petunjuk juga akan sulit berkembang.

Debugging kehidupan

Artikel sebelumnya membahas bahwa ibadah adalah input, sedangkan akhlak adalah output.

Ketika output tidak sesuai harapan, kita perlu mencari bug pada prosesnya.

Hari ini kita menemukan satu bug yang sangat besar.

Kebiasaan yang enggan berubah.

Kita sudah tahu ilmunya.
Kita memahami dalilnya.
Kita mengerti mana yang benar.

Namun kita tetap memilih cara lama karena merasa lebih nyaman. Padahal Allah telah mengirimkan pembaruan melalui wahyu-Nya.

Songsong perubahan

Seorang programmer yang baik tidak takut melakukan update ketika menemukan versi yang lebih baik.

Seorang insinyur tidak mempertahankan desain lama jika terbukti kurang efektif.

Maka seorang mukmin pun semestinya tidak takut memperbarui dirinya ketika petunjuk Allah datang.

Karena hidayah bukan sekadar untuk diketahui.
Tetapi untuk dijalani.

Dan mungkin, bug terbesar dalam hidup kita bukan karena kurangnya ilmu.

Melainkan karena kita belum benar-benar bersedia meninggalkan kebiasaan lama demi mengikuti petunjuk Allah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Dr. Ir. Firman Arifin, S.T., M.T.
Dosen dan Wakil Direktur Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).

Bug adalah suatu error, cacat, atau kesalahan pada perangkat lunak (software) maupun perangkat keras (hardware) yang menyebabkan sistem tidak berfungsi atau tidak merespons sesuai dengan harapan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.