Ilustrasi: Suasana Pengajian di Masjid UI (Foto: Ahad.co.id)

Suaramuslim.net –

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Surah At-Taubah: 18)

Manusia itu seperti barang tambang. Itulah potongan filosofi pengkaderan yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara banyaknya manusia yang ada, hanya sedikit yang berkualitas, siap ditempa, siap untuk berbuat.

Pekerjaan rumah paling besar dari umat Islam Indonesia hari ini sebenarnya terletak pada titik ini. Kita harus menyadari bahwa kita gagal membangun kader muslim berkualitas selama 70 tahun kemerdekaan bangsa ini.

Masjid-masjid kehilangan penggeraknya.

Masjid-masjid kesulitan memenuhi jadwal khutbah.

Masjid-masjid kesulitan mencari pengisi yang bisa diterima oleh publik. Akhirnya setiap masjid merindukan ustaz nasional yang tentu terbatas dari segi waktu.

Baca Juga :  Pendusta Agama

Di sinilah masjid harus kembali memfungsikan diri untuk membentuk kader muslim terbaik yang siap bergerak melayani umat.

Jika manusia itu barang tambang, maka dari sekian banyak barang tambang mineral, emas ialah logam yang langka dan dicari. Tetapi begitu emas didapat, ia perlu diproses, dibentuk, bahkan dijadikan karya yang bernilai tinggi.

Begitulah muslim yang berjumlah 220 juta lebih di Indonesia. Masjid harus menjadi filter muslim emas terbaik. Selanjutnya, masjidlah yang mempoles, membentuk dan menyiapkannya menjadi kader emas terbaik.

Hanya orang beriman yang memakmurkan masjid. Manusia emas itu berada di shaf-shaf masjid, berada di antara azan dan iqamat, muslim emas itu berada di shaf-shaf Subuh berjamaah, menunggu-nunggu syuruq bakda Subuh.

Di titik inilah masjid berfungsi strategis. Ia adalah filter langsung dari langit. Masjidlah yang menjadi pusaran aktivitas orang-orang beriman. Ia adalah gardu langit yang menyalurkan energi takwa.

Jagalah masjid kita.
Makmurkanlah masjid kita.
Kuatkanlah pondasinya.

Risalah Masjid Cahaya
Sabtu, 5 Januari 2019

Penulis: Rendy Saputra

*Ketua Jejaring Masjid Titik Cahaya

Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here