Hadis Pemimpin yang Bodoh dan Tanda-Tanda Akhir Zaman
Ilustrasi pembunuhan |(Ils: Anton Fritsler/Dribbble)

Suaramuslim.net – ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah diingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai tanda-tanda akhir zaman. Kata beliau:

إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ، وَكَثْرَةُ الشُّرَطِ، وَبَيْعُ الْحُكْمِ، واسْتِخْفَافٌ بِالدَّمِ، وَقَطِيعَةُ الرَّحِمِ، وَنَشْوٌ يَتَّخِذُونَ الْقُرْآنَ مَزَامِيرَ، يُقَدِّمُونَ أَحَدُهُمْ لِيُغَنِّيَهُمْ وَإِنْ كَانَ أَقَلُّهُمْ فِقْهًا”.

“1. Kepemimpinan orang-orang bodoh, 2.Banyaknya syuroth (penolong, pembela penguasa dalam kelaliman), 3. Jual-beli hukum, 4. Meremehkan(urusan) darah, 5. Memutuskan shilaturrahim, 6. Jamaah (sekumpulan orang) yang menjadikan Al Quran seperti seruling, mereka mendahulukan (orang yang enak suaranya untuk membaca Al Quran) meskipun pemahamannya sangat kurang”. (HR Imam Ahmad, Thabrani).

Hadis ini akan diurai satu persatu dengan maksud supaya umat Islam bisa mawas diri dan berhati-hati ketika mengalaminya.

1. إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ (Kepemimpinan orang-orang bodoh)

Kalau kita benar-benar cermat dan mengikuti perkembangan berita, baik di tanah air maupun luar negeri, maka kita dapati bahwa apa yang dikatakan nabi ini benar-benar terjadi. Banyak sekali orang-orang yang sejatinya bodoh, tak ahli dalam bidangnya malah dijadikan pemimpin. Kepemimpinan orang bodoh ini berakibat banyak terjadi kerusakan di sana-sini, kezaliman merajalela, sistem menjadi rusak, dan terjadi huru-hara di mana-mana.

Baca Juga :  Kaget

2. كَثْرَةُ الشُّرَطِ (Banyak penyokong, penolong penguasa dalam kelaliman dan kezaliman)

Hal kedua ini juga sangat relevan dan aktual dengan kenyataan yang sedang kita alami sekarang ini. Banyak sekali penyokong penguasa, yang dalam hal ini seperti polisi dan lain sebagainya, bahu-membahu membela dan melindungi penguasa meskipun penguasa tersebut dalam kondisi salah. Akibatnya, hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

Hukum yang seharusnya ditegakkan menjadi melunak, masyarakat semakin menderita sebab hukum hanya ditegakkan hanya untuk rakyat kecil sedangkan orang-orang terpandang dan penguasa seakan kebal hukum. Kalau sudah demikian yang terjadi maka siap-siaplah menuju kehancuran.

3. بَيْعُ الْحُكْمِ (Jual beli hukum)

Ya Allah! Fenomena yang semacam ini sudah tidak asing lagi bagi kita. Hampir setiap hari di media masa, baik itu koran, berita di TV dan lain sebagainya menyuguhkan tentang jual beli hukum. Orang-orang kaya dengan seenaknya bisa membeli hukum yang sudah tetap. Hakim yang seharusnya membela keadilan malah bisa disuap sedemikian rupa sehingga keadilan tak terwujud malah kezaliman yang menjadi marak.

Baca Juga :  Politik dalam Pandangan Islam

Sogok-menyogok dan suap-menyuap kian menggejala di segenap lapisan masyarakat. Akibatnya muncul krisis kepercayaan di kalangan masyarakat. Mereka acap kali menjadi hakim sendiri, karena sudah tidak percaya lagi dengan hakim-hakim yang ada.

4. اسْتِخْفَافٌ بِالدَّمِ (Menyepelekan urusan darah)

Berita mengenai pembunuhan, pertumpahan darah sudah menjadi konsumsi publik. Nyawa yang seharusnya menempati posisi yang penting yang seharusnya dipertahankan malah disepelekan dan diremehkan.
Di mana-mana banyak terjadi pembunuhun, bahkan sajian berita secara global tak lepas dengan fenomena ini. Padahal di antara hal yang pertama kali diputuskan di akhirat kelak ialah urusan darah. Kita berlindung kepada Allah semoga dijauhkan dari perbuatan tercela tersebut.

5. قَطِيعَةُ الرَّحِمِ (Memutus shilaturrahim)

Poin lima ini juga sedemikian menggejala. Banyak orang yang terlalu sibuk dengan urusan duniawi mengabaikan urusan yang sangat penting ini. Sementara yang lain mencukupkan diri hanya asyik dalam dunia digital sehingga kurang memerhatikan hubungan dengan kerabat dan tetangga sekitar. Bahkan yang lebih parah ialah sampai memutus hubungan kekerabatan. Padahal Rasulullah bersabda dalam hadisnya:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ (رواه الحاكم

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus shilaturahim.” (HR Hakim).

Baca Juga :  Management by Heart (10): “Value Preposition”

6. وَنَشْوٌ يَتَّخِذُونَ الْقُرْآنَ مَزَامِيرَ، يُقَدِّمُونَ أَحَدُهُمْ لِيُغَنِّيَهُمْ وَإِنْ كَانَ أَقَلُّهُمْ فِقْهًا

Yaitu (sekumpulan orang) yang menjadikan Al Quran seperti seruling, mereka mendahulukan (orang yang enak suaranya untuk membaca Al Quran) meskipun pemahamannya sangat kurang).

Poin penutup ini pada intinya secara umum Al Quran sudah terlepas dari tujuan semula diturunkan. Seharusnya Al Quran dipikirkan, direnungkan dan diamalkan, malah hanya sekadar dilagu-lagukan dan dinikmati alunan nadanya yang merdu. Hal ini sangat jauh dan tak sejalan dengan tujuan Allah menurunkan Al Quran untuk dijadikan sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi kehidupan manusia.

Hadis di atas memberikan beberapa solusi untuk menghadapi fenomena akhir zaman: Pertama, bersegera melakukan amal salih. Kedua, bekerja sesuai dengan bidangnya. Ketiga, mengangkat pemimpin yang benar-benar layak dan ahli. Keempat, membela dan mendukung penguasa yang menjunjung dan menegakkan kebenaran.

Kelima, selalu menegakkan hukum walau pahit terasa. Keenam, menciptakan rasa aman sehingga tidak terjadi pertumpahan darah. Ketujuh, setia menjalin silaturahim yang harmonis. Kedelapan, merenungi, memahami, memikirkan dan mengamalkan isi Al Quran bukan hanya melagu-lagukannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here