Harta dan Anak: Menghinakan atau Memuliakan

Harta dan Anak: Menghinakan atau Memuliakan

Ilustrasi ayah menggandeng anak. (Foto: Unsplash/@zsilviabasso)

Suaramuslim.net – Harta, kekayaan, dan anak bisa membuat manusia mulia, namun sebaliknya bisa membuat hina dan terjerumus dalam kerusakan. Allah menguji hamba-Nya bukan hanya dengan kekurangan dan kemiskinan, tetapi juga dengan harta dan kekayaan. Manusia mungkin selamat ketika diuji dengan kekurangan dan kemiskinan. Namun tidak jarang tersungkur dan terjerembab dalam lubang kemaksiatan ketika berlimpahan harta.

Kekayaan dan tersebarnya kemaksiatan

Allah menggambarkan karakter dan watak buruk orang kafir ketika memperoleh kenikmatan harta dan anak. Mereka justru melakukan berbagai kemaksiatan dan penyimpangan. Harta dan anak yang dianugerahkan kepadanya bukannya bersyukur dan menciptakan jalan kebaikan, tetapi justru hidup bermewah-mewahan dan aktif menumbuhkan kemaksiatan. Hal ini dgambarkan Allah dengan firman-Nya:

وَيَوۡمَ يُعۡرَضُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَلَى ٱلنَّارِ أَذۡهَبۡتُمۡ طَيِّبَٰتِكُمۡ فِي حَيَاتِكُمُ ٱلدُّنۡيَا وَٱسۡتَمۡتَعۡتُم بِهَا فَٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ بِمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَبِمَا كُنتُمۡ تَفۡسُقُونَ

“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (seraya dikatakan kepada mereka), “Kamu telah menghabiskan (rezeki) yang baik untuk kehidupan duniamu dan kamu telah bersenang-senang (menikmati)nya; maka pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan karena kamu sombong di bumi tanpa mengindahkan kebenaran dan karena kamu berbuat durhaka (tidak taat kepada Allah).” (QS. Al-Ahqaf: 20).

Allah menggambarkan karakteristik buruk orang kafir. Ketika memiliki harta dan anak, tersibukkan dengan perilaku menyimpang. Alih-alih melakukan rasa syukur, orang kafir justru lupa terhadap pemberi nikmat. Mereka membanggakan diri serta berlaku sombong di tengah masyarakat. Kekayaan harta dan dan anak dipergunakan untuk melawan kebenaran dan menutup cahaya Allah.

Alih-alih mendirikan gedung untuk kemaslahatan manusia, seperti lembaga pendidikan atau layanan kesehatan masyarakat tetapi justru menginvestasikan hartanya untuk mendirikan pusat-pusat lahirnya kemaksiatan, seperti pabrik minuman keras, pusat-pusat perjudian, rumah-rumah bordir untuk memfasilitasi perzinaan. Dengan menginvestasikan hartanya di jalan ini, harta dan kekayaannya semakin melimpah dan bertambah cepat.

Allah menggambarkan jauhnya hubungan mereka dengan Allah kegelisahan Nabi Nuh yang putus asa melihat kaumnya, sehingga berdoa kebinasaan mereka. Hal ini sebagaimana firman-Nya:

 قَالَ نُوحٞ رَّبِّ إِنَّهُمۡ عَصَوۡنِي وَٱتَّبَعُواْ مَن لَّمۡ يَزِدۡهُ مَالُهُۥ وَوَلَدُهُۥٓ إِلَّا خَسَارٗا

“Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya.” (QS. Nuh: 21).

Harta dan anak-anak dimanfaatkan untuk mengajak manusia berbuat menyimpang secara terang-terangan. Mereka menunjukkan kesombongan dengan harta dan anak mereka agar menjauhi ajaran Nabi Nuh.

Demikian jahat sifat dan perilaku orang kafir, hingga Nabi Ibrahim berdoa agar orang kafir tak diberi kenikmatan dunia guna menghukum mereka, sebagaimana firman-Nya:

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِـۧمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا بَلَدًا ءَامِنٗا وَٱرۡزُقۡ أَهۡلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ مَنۡ ءَامَنَ مِنۡهُم بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُۥ قَلِيلٗا ثُمَّ أَضۡطَرُّهُۥٓ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلنَّارِۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,” Dia (Allah) berfirman, “Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah: 126).

Nabi Ibrahim menganggap orang kafir tak tahu diri terhadap kenikmatan Allah yang demikian besar, namun mereka justru tak mau taat dan tunduk pada aturan Allah. Namun Allah menolak doa Nabi Ibrahim dan menjelaskan bahwa harta kekayaan hanyalah menikmatan dunia yang sifatnya sementara, dan mereka akan memperoleh azab di akhirat kelak.

Harta dan kekayaan sebagai amanah

Allah mensugesti kaum muslimin agar memanfaatkan harta kekayaan, dan anak untuk kebaikan. Ketika memanfaatkan harta, kekayaan, dan anak untuk kebaikan, maka Allah akan membalasnya dengan kenikmatan yang berlipat ganda. Hal ini sebagaimana firman-Nya:

وَمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُم بِٱلَّتِي تُقَرِّبُكُمۡ عِندَنَا زُلۡفَىٰٓ إِلَّا مَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ جَزَآءُ ٱلضِّعۡفِ بِمَا عَمِلُواْ وَهُمۡ فِي ٱلۡغُرُفَٰتِ ءَامِنُونَ

“Dan bukanlah harta atau anak-anakmu yang mendekatkan kamu kepada Kami; melainkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda atas apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).” (QS. Saba: 37).

Kenikmatan dunia bersifat sementara, dan akan menghancurkan siapa saja ketika tidak memanfaatkannya dengan baik. Qarun, umat Nabi Musa, merupakan contoh manusia yang menyombongkan diri. Dia merasa harta dan kekayaan yang dimilikinya dianggap sebagai hasil usaha dan kepintarannya. Sikap inilah melahirkan sikap sombong, dan menganggap orang lain rendah dan hina. Qarun dengan kekayaannya ingin diapresiasi dan dibangga-banggakan oleh masyarakatnya. Namun Allah justru menghinakan dengan menenggelamkan harta kekayaannya tertelan bumi.

Pengakuan terhadap Allah sebagai Tuhan yang menganugerahkan harta, kekayaan, dan anak, serta memanfaatkannya untuk kebaikan merupakan bentuk ketundukan seorang hamba. Manusia memiliki sejumlah keterbatasan. Ketika kesombongan sampai pada puncaknya, akan runtuh dan lenyap, seiring dengan lahirnya perbuatan-perbuatan maksiat.

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment