Seni Humor, antara Lucu dan Bermutu

Suaramuslim.net – Lucu. Itulah kata yang kini banyak dicari orang. Tayangan televisi yang mengandung muatan humor paling tinggi, maka ia akan menjadi tayangan favorit pemirsa. Masyarakat kita mulai meninggalkan tayangan sinetron yang banyak mengundang tangis air mata dengan konflik yang klise dan beralih mencari tayangan yang mengandung unsur lucu yang katanya dapat mengusir stress mereka.

Maka kini banyak stasiun televisi yang mulai berlomba memodifikasi acara dengan tingkat humor tinggi bahkan sering kali melampaui batas. Mulai dari tayangan audisi calon artis, panggung hiburan musik, jalan-jalan kuliner, tayangan anak bahkan hingga acara dakwah pun dikemas sedemikian rupa agar terkandung nilai humor yang menarik pemirsa. Pertanyaannya apakah masih ada mutu yang disajikan dalam acara?

Menurut Imam An-Nawawi Al-Adzkar dasar hukum dari bercanda adalah mubah. Rasulullah pun juga suka bercanda bersama para sahabatnya. Dari Abu Hurairah bahwa para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah sesungguhnya engkau telah mencandai kami.” Rasulullah Saw pun menjawab, “Sesungguhnya tidaklah aku berbicara kecuali yang benar.” (HR. Tirmidzi)

Syarat Bercanda dalam Islam

Hukum bercanda yang mubah itu berlaku selama rambu-rambu dalam bercanda tetap dipatuhi. Sebagaimana yang dikemukakan ‘Aadil bin Muhammad Al-‘Abdul ‘Aali dalam bukunya Pemuda dan Canda syarat bercanda dalam islam antara lain:

  1. Materi canda tidak berisi olok-olok atau mempermainkan ajaran islam
  2. Tidak boleh menyakiti perasaan orang lain
  3. Tidak mengandung kebohongan
  4. Tidak mengandung ghibah
  5. Tidak cabul
  6. Tidak melampaui batas yakni tidak membuat melalaikan kewajiban dan tidak menjerumuskan pada yang haram

Pertanyaannya sudahkan acara humor yang disajikan media kita memenuhi 6 standar syarat bercanda dalam islam di atas? Ataukah selama ini tayangan yang kita lihat hanyalah sampah yang sekilas memang menghilangkan kesuntukan, namun ternyata hanya sesaat. Efek jangka panjang yang berakibat fatal adalah matinya hati. Sebagaimana yang pernah disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa banyak tertawa akan mematikan hati.

Untuk semakin mengundang tawa dari para penonton tak jarang para pelawak itu berpenampilan sebagai banci. Mereka memakai aksesoris perempuan, bergaya dan berlenggak lenggok menyerupai wanita. Padahal Allah serta Rasul-Nya sangat melaknat orang laki-laki yang menyerupai wanita atau pun sebaliknya. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Dari Ibnu ‘Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang meniru wanita (banci) dan wanita yang meniru laki-laki, beliau bersabda:“Keluarkanlah mereka dari rumah-rumah kalian.” Maka Nabi SAW mengeluarkan fulan, dan Umar juga mengeluarkan fulan. (HR Al-Bukhari, At-Tirmidzi, dan Ahmad, – 2016, dishahihkan Al-Albani)

Jadi, pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, banci atau bencong diasingkan. Di zaman kita, bencong bisa menjadi pembawa acara kaya, dan sekarang ada contoh bahwa orang dengan gaya banci bisa juga menjadi ustadz yang terkenal, dan malah disukai oleh banyak orang awam, tanpa peduli pada pandangan agama terhadap pria yang bergaya bencong.

Mubaligh, dai, juru dakwah, apalagi kyai dan ulama adalah pribadi-pribadi mulia yang ilmu dan prilakunya menjadi teladan dan panutan setiap umat. Mereka adalah orang-orang tawadhu’, rendah hati, jauh dari glamour kehidupan dunia serta ikhlas. Mereka mendapat julukan mubaligh, dai, juru dakwah, kyai dan ulama bukan secara instan. Mereka mendapatkannya karena memang prilaku dan ilmunya sangat mumpuni.

Julukan-julukan itu didapatkan bukan karena skenario dan permintaan tetapi lebih karena adanya pengakuan dari masyarakat luas. Bandingkan dengan mubaligh karbitan, dai karbitan, dai instan atau ustadz fotocopy penyampai dakwah instan. Mereka adalah orang-orang yang glamour dan berprilaku lebih seperti selebriti dari pada mubaligh. Bicara agamanya dangkal dan dipaksakan oleh kepentingan komersial kapitalisme media televisi.

Mungkin yang lebih banyak terekam oleh para jamaahnya adalah gaya lucunya dari pada isi ceramah itu sendiri. Inilah ceramah yang tidak disampaikan dari hati, maka ia akan tidak akan membawa kemanfaatan berarti. Menguap begitu saja. Pagi hari acara pengajian yang ditonton namun beranjak siang acara gosip favoritnya. Malam harinya acara lawak pilihannya. Panggilan adzan pun dinomorduakan.

Seni Humor Rasulullah

Nabi adalah panutan mulia yang juga memiliki seni humor tinggi. Namun setiap apa pun yang disampaikan tidak pernah ada kebohongan. Bahkan selalu mengundang decak kagum pada orang yang dicandainya. Banyak contoh humor yang dilakukan Nabi mulai dari cara beliau menanggapi cara usil Ali kecil saat bersama memakan kurma hingga seorang nenek yang bertanya apakah dia kelak masuk surga.

Nabi sangat cerdas ketika memilih humor. Beliau kerap menggunakan teknik “bisosiasi” atau sebuah teknik mengemukakan sesuatu tak terduga pada akhir pembicaraan. Atau kata yang menimbulkan dua pengertian (Asosiasi ganda). Meskipun Rasulullah cukup humoris dan hangat terhadap keluarga serta para sahabat, namun beliau tidak pernah melupakan batas-batas dalam bercanda. Bahkan beliau tidak pernah tertawa terbahak-bahak, sebagaimana dikatakan Aisyah Radhiallhu’anha,

”Belum pernah aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan anak lidah beliau. Namun beliau hanya tersenyum. (Muttafaq ’alaih)

Itulah yang saat ini sangat kita rindukan. Lucu sekaligus bermutu. Lucu hanyalah pelengkap ibarat sambal dalam semangkok bakso. Tanpa sambal kita masih bisa menikmati bakso tapi tanpa bakso akankah kita mau melahap sambal saja. Maka mari kita tetap mengutamakan kualitas mutu dari pada hanya tampilan lucu. Sehingga apa yang kita lihat dan dengar tidak berujung kesia-siaan. Wallahu ’alam bishawab.

Kontributor: Santy Nur Fajarviana*
Editor: Oki Aryono

*Pengajar di MIT Bakti Ibu Madiun

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.