Tips Agar Senantiasa Memiliki Sifat Rendah Hati

103
tips Agar Senantiasa Rendah Hati

Suaramuslim.net – Sebagai manusia, acapkali dihinggapi perasaan ingin diperhatikan, ingin dipuji, ingin dianggap orang yang paling baik di mata orang lain. Padahal, perasaan yang muncul tersebut justru akan mendatangkan sifat sombong dan menjauhkan sifat rendah hati. Bagaimana cara agar senantiasa rendah hati ?

Rendah hati, atau yang lebih dikenal sebagai tawadhu adalah sifat yang sangat dianjurkan untuk dimiliki oleh setiap muslim. Buktinya, ada banyak nash-nash baik Al Quran yang menyuruh pada sikap tawadhu, antara lain dalam surat Asyura Ayat 215, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman,” (QS Asy Syuara: 215).

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Iyyadh bin Khimar, dia berkata bahwa  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendahkan diri sehingga salah seorang dari kalian tidak saling membanggakan atau yang lain dan salah seorang dari kalian tidak mendzalimi yang lain (HR. Muslim). Rasulullah menyuruh agar umatnya bersifat tawadhu’ dan agar disenangi oleh yang lain, beliau sering membuat perumpamaan. Misalnya, ‘Kamu jangan memuji aku sebagaimana orang-orang Nasrani memuji putera Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah hamba Allah dan utusannya.’”

Agar Senantiasa Rendah Hati dan Tawadhu

Rendah hati pun butuh trik. Pertama, dengan cara mengenal Allah subhanahu wa ta’ala. Setiap manusia akan bersikap tawadhu’ seukuran dengan pengenalannya terhadap Rabbnya. Orang yang mengenal Allah dengan benar, akan menyadari bahwa Allah yang Mahakuasa, Mahakaya, dan Mahaperkasa yang tidak membutuhkan apapun dari makhluk-Nya.

Karena, bila mendapatkan kebaikan maka ia memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya, sebab pada hakikatnya ia tidak mampu mendatangkan kebaikan kepada dirinya kecuali atas izin-Nya. Orang yang mengenal Allah akan mengakui bahwa dirinya kecil dan lemah, sehingga ia akan tawadhu’ dan merasa tidak pantas berlaku sombong.

Kedua, pikirkan tentang asal-usul manusia. Seseorang apabila ia melihat asal-usulnya maka ia akan merasa bahwa ia adalah makhlukyang paling hina. Cukuplah ia melihat asal diciptakannya manusia yaitu berasal dari sperma (air mani) yang hina yang selalu dibasuh jika terkena pakaian dan badan. Kemudian manusia lahir ke dunia dalam keadaan tanpa daya dan tidak mengetahui apapun.

Allah berfirman, ”Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya.” (QS. ‘Abasa:18-19).

Ibnu Hibban mengatakan, ”Bagaimana mungkin seseorang tidak bersikap tawadhu’ padahal ia diciptakan dari setetes mani yang bau kemudian akan kembali menjadi bangkai yang bau busuk sedangkan ia di antara keduanya sedang membawa kotoran.”

Ketiga, kenali aib (cacat/kekurangan) diri. Seseorang dapat terjebak kepada kesombongan bila ia tidak menyadari kekurangan dan aib yang ada pada dirinya. Boleh jadi seseorang mengira bahwa dirinya telah banyak melakukan kebaikan padahal ia justru telah melakukan kerusakan dan kezhaliman.

Allah telah berfirman, “Dan bila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’” (QS. Al-Isro’:11).

Oleh karena itu, setiap muslim harus selalu melakukan intropeksi diri sebelum melakukan, saat melakukan dan setelah melakukan sesuatu sebelum ia dihisab oleh Allah kelak. Hal itu agar manusia menyadari kekurangan dan aib dirinya sejak dini. Sehingga ia akan bersikap tawadhu’ dan tidak akan sombong terhadap orang lain.

Allah berfirmaan dalam Al Isra’ ayat 37, ”Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”

Kontributor: Mufatihatul Islam
Editor: Muhammad Nashir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here