Identitas Islam: bagai memegang bara api

Identitas Islam: bagai memegang bara api

Tahapan Dakwah dalam Islam
Ilustrasi lelaki berjalan. (Foto: voa-islam.com)

Suaramuslim.net – Ujian terbesar umat Islam adalah gagalnya melahirkan pemimpin beridentitas Islam dan mengokohkan nilai-nilai Islam. Tidak sedikit identitas Islam mudah tercerabut, ketika umat Islam dituduh menggunakan politik identitas. Atribut-atribut Islam sering ditanggalkan demi mendapatkan julukan sebagai Islam moderat.

Padahal nabi dan para sahabatnya ketika berpegang pada Islam, tetap mendapatkan stigma buruk. Tetap istiqamah dengan menjalankan syariat Islam merupakan cara terbaik untuk memperoleh naungan dan petunjuk Allah.

Berbeda dengan generasi saat ini, ketika distigma radikal dan intoleran, sebagian umat Islam goyah sehingga rela melepas atribut Islam hingga secara perlahan jauh dari Islam.

Memegang teguh Islam seperti memagang bara api. Konsekuensinya, umat Islam harus rela direndahkan dan dihinakan oleh musuh-musuh Islam.

Kekafiran: meredupkan cahaya

Al-Qur’an menggambarkan berbagai upaya orang-orang kafir untuk menenggelamkan cahaya Islam di muka bumi ini. Mereka sangat membenci Islam dan menginginkan petunjuk Allah redup, namun Allah justru akan mengokohkan dan menyempurnakan sinarnya.

Hal ini diabadikan Allah sebagaimana firman-Nya:

يُرِيۡدُوۡنَ لِيُطْفِئُوا نُوۡرَ اللّٰهِ بِاَ فۡوَاهِهِمْ وَاللّٰهُ مُتِمُّ نُوۡرِهٖ وَلَوۡ كَرِهَ الۡكٰفِرُوۡنَ

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya. (Ash-Shaf: 8).

Istiqamah di jalan Allah menjalankan syariat-Nya telah dilakukan oleh para sahabat. Umat terbaik ini telah mengalami pengalaman-pengalaman pahit. Orang-orang miskin disiksa dan dianiaya. Muslim yang kaya ditutup aksesnya sehingga terhalang untuk menyambung hidupnya. Bahkan Nabi Muhammad mengalami berbagai intimidasi hingga ancaman pembunuhan ketika mengajak orang-orang kafir berpegang pada kebenaran. Tetapi Allah menolong agama-Nya dengan mengokohkan iman Nabi Muhammad dan para sahabatnya.

Istiqamah memegang teguh ajaran tauhid dan menolak tawaran-tawaran untuk meninggalkan agama ini, menghasilkan kemenangan setahap demi setahap. Menaati perintah untuk berhijrah dengan meninggalkan keluarga dan harta kekayaannya, berujung mendapatkan kemenangan dan kejayaan.

Dengan istiqamah dalam berpegang teguh pada kebenaran itu, maka Allah mengganjar dengan kemenangan-kemenangan yang tidak terduga. Dikatakan tidak diduga, karena para sahabat dalam kondisi lemah, jumlah yang sedikit, senjata apa adanya, namun bisa menaklukkan kota Makkah.

Sebagai orang beriman harus yakin bahwa berpegang teguh dan istiqamah berindentitas muslim akan mengalami hambatan dan halangan. Ancaman kemelaratan, tuduhan sok suci, kurang waras akan berakhir dengan kemenangan, ketika tetap berpegang teguh pada nilai-nilai yang dianut. Allah akan menyempurnakan kemenangan Islam ketika kaum muslimin taat dan patuh dan istiqamah dengan jalan ini.

Allah mendeklarasikan bahwa kaum muslimin hanya diperintahkan untuk mengikuti petunjuk rasul-Nya. Ketundukan pada perintah rasul ini akan mendatangkan bantuan Allah untuk memenangkan agama ini meskipun orang-orang kafir membencinya. Allah mengabadikan hal itu sebagaimana firman-Nya:

 هُوَ الَّذِىۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَهٗ بِالۡهُدٰى وَدِيۡنِ الۡحَـقِّ لِيُظۡهِرَهٗ عَلَى الدِّيۡنِ كُلِّهٖ وَلَوۡ كَرِهَ الۡمُشۡرِكُوۡنَ

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya.” (Ash-Shaf: 8).

Umat Islam Indonesia mengalami berbagai penindasan, penjajahan, dan upaya pemurtadan. Hal itu terjadi sejak zaman kolonial hingga saat ini dengan berbagai pola dan model. Namun Allah campur tangan untuk meredupkan upaya jahat itu dengan menjaga agama ini telah terbukti.

Sinar Islam tetap terjaga ketika umat Islam masih istiqamah menjalankan syariat Islam. Mereka berjuang untuk menegakkan identitas muslim dengan menjalankan syariatnya secara istiqamah. Hal inilah yang akan mendatangkan pertolongan Allah. Sebaliknya alergi dengan identitas muslim hanya akan menjauhkan pertolongan Allah dan menghinakan diri kaum muslimin sendiri.

Betapa banyak kaum muslimin yang rela melepaskan identitas Islamnya, dengan menolak syariat Islam, serta ragu untuk menerapkan ajaran Islam. Alih-alih berani beridentitas Islam, mereka justru berpaling dari nilai-nilai agamanya. Namun yang terjadi sebaliknya, ketika mereka rela melepas atribut agamanya, justru agamanya dihinakan dan kaum muslimin dilecehkan.

Orang kafir senantiasa berupaya untuk memadamkan cahaya Allah ketika melihat tanda-tanda adanya kebangkitan identitas Islam.  Dan sebaliknya, orang-orang kafir akan menunjukkan kekuatannya, ketika umat Islam tidak lagi berpegang teguh pada agamanya. Ketika umat Islam melepas identitas agama ketika berpolitik, maka orang-orang kafir justru berani menunjukkan identitas agamanya.

Betapa banyak politisi muslim yang mengalami sindrom ketika membangun basis politik dengan mendasarkan pada nilai-nilai agama. Sindrom itu ditandai dengan tidak beraninya menyebut kriteria pemimpin harus muslim dan taat kepada agamanya. Politisi muslim justru terjebak dengan mengedepankan popularitas, ketokohan, dan merakyat sebagai syarat pemimpin. Kriteria beragama Islam dan ketaatan pada ajaran agamanya tidak lagi dipersyaratkan, dan diganti dengan kemampuan teknokrasi dan keahlian duniawi.

Ketika tiga syarat itu terpenuhi, maka tersingkirlah orang-orang muslim yang jujur, berpendidikan tinggi, profesional, dan latar belakang serta track record yang jelas dalam membangun bangsanya. Ketika terpilih pemimpin dengan kriteria mengedepankan popularitas, ketokohan, dan merakyat, justru memukul balik umat Islam, dan memarginalisasi nilai-nilai apapun yang berlatar belakang dan berbau Islam.

Berpegang teguh di atas nilai-nilai Islam seperti memegang bara api, sehingga ketika seorang pemimpin Islam melepaskannya, maka akan lepas pula seluruh atribut Islam dan berganti dengan atribut lain yang menyingkirkan Islam.

Pemimpin yang mengandalkan popularitas, ketokohan, dan merakyat seraya menyingkirkan kejujuran-amanah, keahlian, dan moralitas, hanya akan menciptakan tatanan negara yang tak berkeadilan dan tak berperikemanusiaan.

Surabaya, 4 Februari 2023

Dr. Slamet Muliono R.
Dosen Prodi Pemikiran Politik Islam
Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
UIN Sunan Ampel Surabaya

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment