Informasi Pendidikan

Tanyakanlah kepada para pelajar kita, ”Sebutkan contoh satu negara maju!” Apa jawaban yang keluar dari mulut mereka? Adakah mereka menyebut bahwa negara terbaik dan termaju adalah negara Madinah di masa Nabi Muhammad saw! Beliau pernah bersabda, bahwa zaman terbaik adalah zamanku.

Anak-anak sekolah sudah dijejali informasi bahwa negara maju adalah negara yang pendapatan perkapitanya tinggi, dan ukuran-ukuran materi lainnya. Tidak ada kriteria iman, takwa, dan akhlak mulia untuk menentukan kemajuan suatu bangsa! Padahal, QS 7: 96 sudah menentukan, bahwa jika penduduk satu negeri beriman dan bertakwa, pasti Allah kucurkan berkah dari langit dan dari bumi.

Begitu banyak anak yang menghafal Al Quran, tetapi mereka tidak paham bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki prestasi peradaban yang sangat tinggi dalam membangun satu negara pertama yang punya konstitusi tertulis. Beliau SAW juga berhasil mewujudkan masyarakat pembelajar, masyarakat benci miras, dan nyaris bebas korupsi. Sebab, informasi yang mereka terima tentang kriteria kemajuan satu negara selama ini adalah versi sekuler dan materialis!

Anak-anak pelajar juga dijejali dengan informasi bahwa manusia itu merupakan tahapan tertinggi dari makhluk bernama Hominid, sebangsa monyet. Karena merupakan jenis binatang, maka manusia pun -kata mereka- memiliki kebutuhan primer berupa sandang, pangan, dan perumahan. Tidak ada kebutuhan primer berupa ibadah dan berzikir kepada Allah!

Apa akibatnya? Jangan heran, jika begitu banyak pelajar yang memiliki persepsi bahwa tujuan hidup itu adalah untuk cari makan (liya’kuluun). Bahwa, sukses itu adalah sukses materi. Bahwa sukses yang utama adalah sukses di dunia; bukan sukses di akhirat. Akhirnya, mereka didorong untuk menjadi pemuja jabatan, pemuja kekayaan, pemuja kecantikan, kepopuleran, dan sebagainya.

Mereka dilupakan oleh tipu daya dunia, sehingga tidak menjadikan keselamatan dan kebahagiaan di akhirat sebagai tujuan hidup yang utama. Begitu deras informasi dalam dunia pendidikan yang mengarahkan mereka untuk berpikir secara empiris-rasional, melupakan ilmu wahyu (revealed knowledge), sehingga memunculkan sikap cinta dunia dan melupakan akhirat.

Berguru itu Belajar Adab dan Ilmu Kepada Guru

Mengapa begitu banyak kasus pelecehan terhadap guru terjadi di dunia pendidikan? Tak perlu heran, sebab para pelajar dan wali murid mendapatkan informasi bahwa guru adalah ”tukang ngajar bayaran”. Dan dunia pendidikan menempatkan murid sebagai konsumen! Konsumen adalah raja! Karena merekalah yang membayari sekolah dan guru-gurunya. Jadi, wali murid dan murid merasa berhak mengatur dan mendiktekan kemauan mereka kepada para guru!

Padahal, seharusnya, kedudukan guru adalah mujahid intelektual. Guru adalah pejuang intelektual. Guru bukan ”tukang ngajar bayaran”. Tapi, itu pun tergantung pada cara lembaga pendidikan memandang dan memperlakukan guru-guru mereka; dan juga tergantung pada guru itu sendiri. Apakah dia memahami dirinya sebagai pejuang intelektual atau ”tukang ngajar bayaran”?

Contoh terakhir, kini beredar begitu banyak daftar ranking sekolah dan universitas terbaik. Anehnya, banyak kaum muslim terpelajar menerima daftar ranking sekolah dan universitas itu sebagai kebenaran. Padahal, kriteria iman, takwa, dan akhlak mulia, tidak dimasukkan dalam kriteria penilaian ranking sekolah atau kampus tersebut.

Setiap muslim, seyogianya memiliki cara pandang Islami terhadap realitas (Islamic Worldview). Al Quran sudah mengajarkan, bahwa orang paling mulia adalah yang bertakwa. Sekaya apa pun seorang pelacur atau koruptor, sepopuler apa pun pelaku maksiat, dan setinggi apa pun jabatan orang kafir, fasik dan zalim, derajat mereka tidak lebih tinggi dari seorang guru ngaji yang ikhlas dan salih di pelosok-pelosok kampung.

Bagi seorang muslim, sekolah dan kampus terbaik adalah yang mendidik para murid dan mahasiswanya menjadi manusia beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan pejuang penegak kebenaran di tengah masyarakat. Itu kriteria utama. Yang lain adalah tambahan.

Maka, sungguh sangat bermakna pesan KH Imam Zarkasyi, pendiri pesantren Gontor Ponorogo: “Kalian akan kami didik menjadi kader-kader pemimpin dan juga belajar menjadi orang besar. Apa itu orang besar? Apakah mereka yang jadi pengusaha besar? Atau jadi ketua partai; ketua ormas Islam yang besar? Bukan itu yang saya maksud orang besar. Orang besar itu adalah mereka yang lulus dan keluar dari pesantren ini kemudian dengan ikhlas mengajarkan ilmunya kepada orang-orang di pelosok-pelosok desa, sampai di kaki-kaki gunung, di mana pun mereka berada, di bukit-bukit, atau di kolong-kolong jembatan sekali pun. Itu yang saya maksud orang besar!”

Maka, kita ingat sekali lagi peringatan Allah subhanahu wa ta’ala: “Dan demikianlah kami jadikan untuk setiap nabi ada musuh, yaitu setan dari jenis manusia dan setan dari jenis jin, yang mereka membisikkan kata-kata indah (zukhrufal qauli) untuk menipu manusia!” (QS Al An’am: 112).

Perintah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sangatlah jelas: ”Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim!” Maksudnya, carilah ilmu yang bermanfaat (al-Ilmu al-nafi’). Agar mendapat ilmu yang bermanfaat; dan agar tidak tertipu oleh informasi menyesatkan, carilah ilmu yang benar, dengan cara yang benar, dan kepada guru-guru yang benar pula. Sebab, berguru itu belajar adab dan ilmu kepada guru, bukan kepada tembok!**

Depok, 27 Februari 2019

Penulis: Dr Adian Husaini*

*Direktur At-Taqwa College, PP At-Taqwa Depok
**Opini yang terkandung dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial suaramuslim.net.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.