Ingatlah, kepada Siapa Kita Bermaksiat?

Suaramuslim.net – Telah menjadi adat kebiasaan bagi sebagian besar muslim Indonesia, setelah menunaikan shalat Idul Fitri, bersalam-salaman. Sepanjang jalan, dari masjid ke rumah mereka bersalam-salaman. Nah, pada momen itulah penulis mendengar ucapan yang “menarik”. Seorang jemaah remaja putra berusia SMA bersalaman dengan remaja putri seusianya. Sambil berjabat tangan, ia berucap, “Gak papa salaman, nanti kalau wudhu dosanya juga luntur.” Reaksi kawan yang berjalan di sampingnya hanya tertawa. Entah ia mengiyakan ucapan tersebut, atau malah tak menganggapnya penting.

Memang ada benarnya, apa yang disampaikan oleh anak tadi. Salah satu fadhilah wudhu adalah membersihkan dosa-dosa kecil. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Apabila seorang hamba berwudhu, saat berkumur-kumur akan keluar dosa-dosa (kecil) dari mulutnya; apabila menghirup dan mengembuskan air dari hidungnya, keluarlah dosa-dosa (kecil) dari hidungnya, apabila membasuh wajah, keluarlah dosa-dosa (kecil) dari wajahnya hingga keluar dari kelopak matanya; apabila membasuh kedua tangan, keluarlah dosa-dosa (kecil) dari kedua tangannya hingga dari kuku-kukunya; apabila mengusap kepala, keluarlah dosa-dosa (kecil) dari kepalanya hingga keluar dari kedua telinganya; dan apabila membasuh kedua kaki, keluarlah dosa-dosa (kecil) dari kakinya hingga kukunya, kemudian berjalan ke masjid dan shalat sunnah (juga menghapus dosa).”

Baca Juga :  Memurnikan Tobat Menuju Muslim yang Taat (2)

Namun, hendaknya hal tersebut tidak menjadikan pembenaran baginya untuk melanggar aturan Allah swt. Oleh karena itu, nasihat Bilal bin Sa’ad rasanya sesuai untuknya. Beliau berkata, “Janganlah engkau melihat kecilnya maksiat, tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.”

Ya, ia mengabaikan kepada siapa dosa tersebut ia lakukan. Ia lupa, perintah siapakah yang ia langgar. Ia hanya menilai besar kecilnya dosa yang ia lakukan. Jika kecil, ia berani melanggarnya karena merasa pede akan diampuni oleh Allah. Memang Allah Maha Pengampun. Banyak sekali amal ibadah yang mengajukan penghapusan dosa. Namun bukan berarti ia bisa seenaknya sendiri sengaja melanggar aturan Allah. Apalagi Allah swt telah berfirman dalam surat Annisa ayat 17, “Sesungguhnya tobat itu untuk orang-orang yang bermaksiat karena kebodohan mereka. Kemudian mereka segera bertobat.” Dalam ayat tersebut Allah menegaskan, tobat bagi orang yang bermaksiat karena ia tidak tahu bahwa itu perbuatan maksiat, bukan karena unsur kesengajaan.

Cobalah kita renungkan analogi berikut. Di tempat kerja, kita pasti memiliki pimpinan. Kita pasti berusaha sesempurna mungkin untuk melaksanakan perintah atasan kita tersebut. Bukan hanya tugas besar, bahkan tugas-tugas kecil yang sifatnya rutinitas pun kita lakukan sesempurna mungkin. Apa sebabnya? Karena kita sadar, bahwa nasib karir kerja kita berada di tangan pimpinan kita. Oleh karena itu, kita berusaha untuk menaati perintahnya, menyenangkan hatinya, dan menghindari perbuatan yang membuatnya tidak suka.

Baca Juga :  Zina, Kesenangan yang Menyengsarakan

Demikian pula kiranya hubungan kita dengan Allah. Kita adalah hamba-Nya, dan telah diberi tata tertib aturan hidup berupa syariat-Nya. Kita pun harus hidup di dalam aturan-aturan itu. Dapatkah kita bayangkan, alangkah beraninya kita jika dengan sengaja melanggar aturan-Nya. Dan tentu membuat Allah tidak menyukai perbuatan kita tersebut. Padahal Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Berkuasa dalam menentukan kehidupan kita. Lebih berkuasa bila dibandingkan bos kita di tempat kerja. Bahkan diri kita pun milik Allah. Kita hidup berdasarkan jalan ketentuan-Nya. Rezeki yang kita nikmati pun berasal dari-Nya. Lantas, jika kondisinya seperti itu, masihkah kita berani bermain-main dengan perintahnya. Jika perintah bos di tempat kerja kita saja begitu kita perhatikan. Maka sepatutnyalah, kita lebih mengutamakan perintah Allah. Agar Allah tak murka kepada kita.

Lepas dari itu, tak sepatutnya kita meremehkan dosa kecil. Sebagaimana nasihat para ulama, “Tidak ada dosa kecil apabila dilakukan terus-menerus, tidak ada dosa besar apabila diiringi dengan istighfar.” Sekecil apapun dosa, apabila kita melakukannya terus-menerus, maka dosa-dosa tersebut akan menjadi kumpulan yang besar. Dan jika dosa tersebut telah menjadi kebiasaan kita, maka resiko yang terjadi adalah matinya hati kita. Kita tak peka lagi terhadap maksiat yang kita lakukan. Laksana kaca yang bening, lama-lama akan menjadi buram bila terus menerus terkena kotoran di atasnya.

Baca Juga :  Al Ghaffar

Bagaimanapun juga, dosa yang kita lakukan besar atau kecil tetap akan membuat hati kita menjadi sakit bahkan mati. Sesuai sabda Rasulullah Saw, “Sesungguhnya seorang mukmin, jika melakukan satu perbuatan dosa, maka ditorehkan di hatinya satu titik hitam. Jika ia bertaubat, berhenti dan minta ampun, maka hatinya akan dibuat mengkilat (lagi). Namun jika ia makin sering berbuat dosa, maka titik-titik itu akan bertambah sampai menutupi hatinya.”

Kesimpulanya, janganlah kita meremehkan dosa. Baik itu dosa kecil, terlebih besar. Dan jika setan atau nafsu mengajak kita bermaksiat, maka segera ingat, kepada siapa maksiat tersebut kita lakukan.

Kontributor: Mohammad Efendi *
Editor: Oki Aryono

*Pendidik di SD Al Hikmah Full Day School Surabaya

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.