Muslimah bercadar. Foto: pixabay.com

Suaramuslim.net – Media sosial tengah dihebohkan oleh kelompok Crosshijaber. Lalu siapa itu Crosshijaber? Crosshijaber adalah pria yang suka memakai baju muslim. Crosshijaber ini sering kali yang digunakan adalah baju panjang dan lebar. Terkadang, lengkap dengan hijab bahkan cadar. Sehingga tak ada yang tahu kalau sebenarnya mereka adalah pria.

Kelompok Crosshijaber ini sepertinya ingin eksis di dunia nyata. Hal ini terlihat dari keberanian mereka mengunggah foto diri di Instagram meskipun sejumlah akun Crosshijaber sudah dihapus di Instagram akibat menimbulkan kehebohan di dunia maya. Namun rupanya masyarakat menolak kehadiran Crosshijaber terutama perempuan. Sebab kebanyakan perempuan takut dengan crosshijaber. Para Crosshijaber mengaku tidak punya penyimpangan orientasi seksual. Mereka bahkan memiliki komunitas.

Perilaku ini kerap dianggap menyimpang. Beberapa bahkan menyebutnya sebagai penyakit seksual. Namun, jauh sebelum sekarang, Crossdressing telah digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu. Pada beberapa masa, Crossdressing bahkan menjadi budaya. Lalu bagaimana pandangan dari sisi psikologi tentang fenomena Crosshijaber?

Psikolog klinis mengatakan Crosshijaber berasal dari kata Crossdressing yakni aksi mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan jenis kelamin bawaan lahir. Crossdressing adalah salah satu jenis perilaku yang menyimpang.

Baca Juga :  Viral Cross Hijaber, Bagaimana Islam Memandang Laki-laki yang Berpakaian Wanita?

“Perilaku ini kalau dalam istilah medis dikenal dengan sebutan transvestisisme yakni perilaku yang sering kali dianggap sebagai suatu penyimpangan yang merupakan gangguan kejiwaan karena adanya keinginan dari seorang laki-laki atau perempuan yang mengenakan pakaian yang biasa dikenakan oleh jenis kelamin sebaliknya,” kata psikolog klinis dari RSUD Wangaya, Denpasar, Bali Nena Mawar Sari, Senin (14/10/2019).

Biasanya, kata Nena, perilaku transvestisisme berawal dari riwayat seseorang merasa tidak nyaman dengan identitas seksual yang dia miliki akibat adanya trauma di masa lalu. “Bisa jadi dia dulu mengalami pelecehan seksual sehingga dia merasa kalau memakai baju sebaliknya dia akan merasa nyaman,” katanya. Istilah Crossdressing tak sama dengan kondisi transgender. Seseorang yang melakukan Crossdressing disebut Nena bisa saja memiliki tujuan beragam mulai dari penyamaran untuk melakukan tindakan kriminal, hiburan atau ekspresi diri hingga mendapat kepuasan seksual.

Salah satu selebriti internasional yang pernah kedapatan beberapa kali melakukan Crossdressing adalah salah satu anggota dari grup vokal One Direction, Harry Styles. Dia pernah mengenakan jumpsuit wanita berwarna hitam yang dihiasi renda serta frills, pada ajang Met Gala 2019. Styles melengkapi penampilannya kala itu, dengan giwang mutiara pada telinga kanannya.

Baca Juga :  Viral Crosshijaber, MIUMI Kota Bekasi: Hukumnya Haram

“Yang perlu dipahami itu adalah motifnya dulu ya. Jadi yang terkait Crosshijaber atau Crossdressing perlu dicari tau dulu motifnya apa. Karena Crosshijaber tidak identik yang berbau seksualitas artinya memang apakah ini termasuk gangguan jiwa? Pasti. Artinya dia berlaku tidak seperti selayaknya.

Tetapi motif yang pertama, bisa jadi motifnya itu adalah motif seksual. Ini terkait dengan peenyimpangan seksualitas, gangguang kejiwaan. Jadi ada kepuasan seksual ketika ia memakai pakaian wanita, dalam hal ini karena sekarang hijaber sedang trending, sehingga yang dulu ia hanya sekedar senang memakai pakaian wanita pada umumnya, sekarang cenderung memakai hijab.

Sedangkan untuk motif yang kedua, motif non seksual, artinya mungkin bisa jadi ada faktor ekonomi. Misalnya, seperti artis Boby Tince, dia lelaki tulen, cukup religi, kehidupan keluarganya normal, kehidupan sosial masyarakatnya normal, tetapi ia memilih menjadi Crossdressing karena motif ekonomi. Dia laku dengan cara dia berakting sebagai perempuan.

Ada juga yang motifnya memang ingin viral. Tapi terlepas dari seksual atau non seksual, keduanya ini tentu memiliki problem kejiwaan karena berperilaku tidak wajar sebagaimana gendernya.” Tutur psikolog dari Surabaya, Nuri Fauziah yang saya temui (15/10).

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.