Inilah 4 Cara Rasulullah Berbisnis

Suaramuslim.net – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri mengungkapkan jumlah pebisnis di Indonesia semakin meningkat. Angka yang sebelumnya 3,1 persen pada 2016 naik menjadi 3,4 persen pada tahun ini. “Walaupun naik dan melebihi standar internasional dua persen, kita masih kalah dengan yang lain,” ujar Hanif dalam acara Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna EXPO 2017 di Malang.

Hanif menyatakan, pencapaian Indonesia masih kalah dengan Malaysia yang sudah mencapai lima persen. Kemudian dengan Thailand sebesar empat persen dan Singapura sebanyak tujuh persen. Terlebih lagi dengan Cina yang sudah menggapai 10 persen dan Jepang sekitar 11 persen (Republika online, 14 Oktober 2017). Berbicara dunia bisnis, Sayangnya, langkah-langkah merintis dan mengembangkan roda bisnis yang diajarkan di sekolah dan perguruan tinggi, jarang mengangkat junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bukan hanya dikenal sebagai kepala negara dan Panglima perang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga seorang pebisnis. Kapankah Rasulullah mulai berbisnis? Sedari umur 12 tahun sudah merintis sebagai pebisnis. “Jarang sekali ada Nabi seperti ini” tulis Hermawan Kartajaya dalam buku Syariah Marketing, (Mizan: 2006). Dalam Rahasia sukses bisnis Rasulullah, (Great publisher, 2010) Malahayati menyatakan Rasul berbisnis dengan pamannya, Abu Thalib di 3 wilayah diantaranya: Suriah, Yordania dan Lebanon.

Dalam perjalanan dagang ke syam (kini Suriah), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditemani oleh Maisarah, seorang yang selama ini membantu Siti Khadijah. Menurut Quraish Shihab dalam Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. (Lentera hari, 2002), ketika itu ada banyak hal yang dilihat oleh Maisarah menyangkut Rasulullah.

Misalnya di siang hari dengan cuaca yang panas, Maisarah melihat dua Malaikat yang menaungi Rasul dari sengatan matahari saat dia mengendarai untanya. Apa yang dilihat Maisarah, diceritakannya kepada Khadijah sehingga menambah kekaguman wanita terhormat ini terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bagaimana cara Rasulullah berbisnis? 

Pertama, beliau mendapatkan barang dagangan dari konglomerat yang bernama Siti Khadijah. Kelak dari perjumpaan dengan Siti Khadijah inilah cinta mulai bersemi dan berlanjut ke pelaminan.

Kedua, filosofi bisnis bukan hanya Profit, tetapi mengedepankan berkah.

Ketiga, bisnis butuh Brand atau ciri khas. Brand yang dimiliki Rasulullah ialah “Kejujuran”. Dengan modal ini, timbullah kepercayaan. Orang berbisnis idealnya menjaga kepercayaan dengan menepati janji. (QS Al Maidah: 1)

Keempat, tidak menutupi cacat barang yang dijual, “Tidak halal bagi seseorang menjual sesuatu, melainkan hendaknya dia menerangkan kekurangan (cacat) yang ada pada barang itu”. (HR Ahmad)

Perlu diingat, berbisnis dalam Islam merupakan wasilah untuk meraih keberkahan. Keberkahan bisa didapatkan dengan jalan “kepercayaan” dan transparansi. Rasulullah saw. telah mempraktekkan hal itu. Sepanjang hidupnya, beliau tidak pernah menjual barang-barang yang diharamkan: khamr, babi, bangkai dan darah. (QS. al-Maidah: 3)

Sudah sepatutnya pengusaha Muslim yang terjun ke dunia bisnis meniru jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Wallahu’allam.

Kontributor: Fadh Ahmad Arifan*
Editor: Oki Aryono

*Penulis adalah alumnus Fakultas Syariah UIN Malang

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.