teknis proses taaruf
Foto: nurhudayantisaleh.wordpress.com

Suaramuslim.net – Gerakan hijrah untuk jadi lebih saaat ini semakin marak. Banyak kalangan muda yang hijrah dari gaya hidup hedonis kemudian hijrah menjadi lebih islami dan religius. Sebut saja Laudya Chintya Bella atau Dewi Sandra. Mereka berubah gaya hidupnya. Menutup tubuhnya dengan jilbab. Termasuk dari gaya pacaran lalu berhijrah menuju taaruf tanpa pacaran. Di artikel ini kita akan ulas teknis proses taaruf demi menemukan jodoh yang baik menurut agama.

Lalu gerakan hijrah ini juga menyentuh ke perilaku hubungan pria dan wanita muslim. Dari yang sebelumnya pacaran dan berdua-duaan, kemudian mereka hijrah dan mengikuti proses taaruf. Proses taaruf ini merupakan gerakan ‘perlawanan’ terhadap gaya hidup pacaran yang mengumbar syahwat. Tujuan taaruf untuk saling mengenal menuju jenjang pernikahan dengan cara yang halal dan sesuai syariat. Mari kita ulas teknis proses taaruf itu dalam ikhtiar jodoh islami ini. 

1. Kenalilah calon suamimu atau calon istrimu

Cara mengenali dalam proses taaruf sangat berbeda dengan pacaran. Kalau orang pacaran biasanya berduaan saling ngobrol sambil nge-date. Itulah yang dilarang dalam agama. Berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram adalah terlarang dalam agama.

Maka dalam taaruf, untuk pertama kali kenal dengan calon suami atau istri adalah membaca biodata atau curriculum vitae (CV). Memang terkesan kaku dan formalistik. Jadi mirip melamar pekerjaan pakai CV segala.

Namun itulah bedanya dengan pacaran. Segala sesuatu yang mendekatkan diri secara fisik antara sejoli itu sebisa mungkin tidak diberi peluang. Berdekatan sejoli inilah yang menjatuhkan diri pada dosa dan perbuatan zina.

Memang tidak selalu harus menggunakan CV. Jika kamu sudah cukup kenal dengan sang yang dimaksud, maka CV itu tidak terlalu perlu. Namun jangan hanya mengandalkan perkenalan di online atau media sosial saja. Carilah tahu dalam kehidupan nyata. Jangan hanya mengandalkan dunia maya saja. Banyak hal misterius di dunia online.

Baca Juga :  Istikharahlah untuk Segala Urusanmu di Dunia

Maka mintalah bantuan orang yang kamu kenal. Atau kamu sudah kenal dengan dia. Misalnya dia masih saudaramu atau temanmu. Yang penting kamu paham siapa dia dan siapa keluarganya. Bagaimana lebih dekat lagi atau memahami karakternya jika hanya berbekal CV? Silakan baca poin no. 5

2. Mintalah bantuan seorang pendamping yang jujur dan bijak

Dalam teknis proses taaruf, ada fase saling bertemu atau tatap muka antara seorang pria dan seorang wanita. Istilah dalam hadits NAbi Muhammad: nadzor atau memandang si calon. Ini hanya untuk kepentingan persiapan menikah. Bukan kepentingan lain.

Yang membedakan dengan pacaran adalah adanya pendamping di antara mereka berdua. Bisa salah satu keluarga si wanita atau bisa juga ustadz atau sosok yang jujur dan bijaksana.

Pendamping inilah yang memandu diskusi dan obrolan. Jika keduanya canggung atau merasa minder, pendamping inilah yang mencairkan suasana. Intinya ngobrol santai sambil tanya ini itu satu sama lain.

3. Ikutilah Proses taaruf di tempat yang dipilih pendamping 

Berbeda dengan pacaran, taaruf sangat dianjurkan rumah sang pendamping atau ruangan khusus yang dipilih sang pendamping. Ini masih penjajakan. Belum keduanya saling cocok satu sama lain. Karena ini baru tahap taaruf awalan. Belum taaruf lanjutan.

Karena berbeda dengan pacaran, maka tempat taaruf ini bukan di tempat keramaian seperti nga-date. Tempatnya diusahakan nyaman dan terjaga namun juga tidak mengundang gunjingan orang.

Baca Juga :  Tawakal Menjemput Pasangan Halal

4. Bertemunya si pria dengan keluarga si wanita

Jika tahap tatap muka atau nadzor –bisa sekali atau beberapa kali tergantung kebutuhan- dirasa cukup dan ada kecocokan, kedua kandidat ini bisa melangkah ke tahap selanjutnya. Yaitu si pria berkunjung dan menemui keluarga si wanita. Biasanya si pria ini tidak datang sendiri. Sang pendamping atau salah satu kerabatnya bisa ikut menemani. Tujuan kunjungan ini si pria memperkenalkan diri ke keluarga si wanita, khususnya berkenalan dengan ayah atau walinya.

Dalam praktiknya, kadang kala si pria diperkenankan hadir sendirian setelah kunjungan pertama. Hanya saja yang perlu diingat adalah kunjungan sendirian seperti ini janganlah terlalu sering. Karena dikhawatirkan membuka pintu dosa (zina) dan juga berpotensi menjadi gunjingan tetangga. Sebab belum ada ikatan resmi antara sejoli ini. Jika sudah sama-sama ada kecocokan, maka sebaiknya teknis proses taaruf bisa ke tahap selanjutnya.

5. Si pria dan keluarganya datang ke keluarga wanita untuk meminang

Tahap ini sudah lazim di masyarakat Indonesia. Umumnya si pria dan keluarga berkunjung ke keluarga si wanita dalam rangka melamar. Dalam pertemuan kedua keluarga ini sangat dianjurkan untuk membahas tanggal pernikahan. Karena agama menganjurkan jika sudah sama-sama cocok maka pernikahan hendaknya disegerakan. Dalam Islam, ada lima ibadah yang harus disegerakan: bertobat, membayar utang, menguburkan jenazah, menjamu tamu, dan menikahkan anak gadis.

Dalam banyak adat, prosesi meminang seperti bisa sangat beragam. Ada yang sederhana, dan pula yang sangat meriah. Dalam ajaran Islam, yang terpenting adalah ada permintaan resmi untuk menikahkan kedua sejoli itu. Soal adat, hendaknya menyesuaikan dengan kemampuan dan tidak perlu memaksakan diri.

Baca Juga :  Amalan Untuk Mendapatkan Jodoh

Islam tidak mengenal istilah tunangan atau tukar cicin. Yang perlu dicamkan: mereka berdua belum resmi menikah dan belum halal bersentuhan. Dalam tukar cincin ada beberapa hal yang diharamkan. Misalnya pria diharamkan mengenakan perhiasan emas dan keduanya diharamkan bersentuhan tangan karena belum resmi menikah. Tunangan model seperti ini tidak sesuai dengan ajaran Islam. Harus kita hindari. 

Ada masa jeda antara meminang dengan akad nikah. Ada yang yang hitungan hari, ada bulan dan bahkan tahun. Namun sejatinya agama Islam memerintahkan agar proses pernikahan disegerakan dan dibuat sederhana. Jangan terlalu lama. Karena dikhawatirkan kedua sejoli ini sudah memendam gejolak cinta yang menggebu dan bisa terjerumus dalam zina.

Masa jeda ini sebaiknya tidak lebih dari empat bulan. Karena gejolak cinta bisa menggebu dan jarak yang terlalu lama bisa membuat kedua jatuh dosa besar yaitu zina. Bagaimana bisa mencapai pernikahan barakah jika diawali dengan dosa?

6. Proses akad nikah

Inilah batas antara haram dan halal antara kedua sejoli itu. Semua masih diharamkan sebelum ada ijab dan qabul. Haram bersentuhan (termasuk haram bersalaman) dan haram berduaan, semua haram terkait apapun tentang kamu berdua. Nah, setelah akad nikah, kamu berdua sudah halal. Cintailah pasanganmu dalam ridha ilahi. Kamu sudah dalam naungan cinta yang suci dan diharapkan mendapat berkah, baik di saat lapang maupun sempit. Barakallahu laka wa baraka alaika wa jama’a bainakuma fi khoir.  

Penulis: Oki Aryono
Editor: Muhammad Nashir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here