Istiqamah Menentramkan
Ilustrasi laki-laki bersujud. (Ils: Dribbble/Rinaldy Dwi Istanto)

Suaramuslim.net – Sikap istiqamah (lurus/konsisten) dalam menjalani hidup ini sangat penting. Istiqamah adalah sikap lurus dan taat, patuh dan setia dalam menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya; baik dalam keadaan suka maupun duka, dalam keadaan lapang maupun sempit. Kita diperintahkan untuk istiqamah dalam akidah, ibadah, muamalah, dan istiqamah dalam setiap keadaan.

Fastaqim kamaa umirta! Istiqamahlah engkau, wahai Muhammad, sebagaimana Allah SWT perintahkan kepadamu. Istiqamahlah engkau bersama orang-orang yang bertaubat; orang-orang yang senantiasa menegakkan salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan orang-orang yang senantiasa bersabar dalam menjalani perintah dan larangan Allah SWT.

Allah memerintahkan kepada Rasulullah SAW untuk istiqamah, padahal beliau adalah orang yang maksum (terjaga dari dosa). Kurang lurus apa hidup beliau? Kurang teguh apa pendirian hidup beliau? Kurang ibadah apa beliau? Namun, inilah jalan yang ditetapkan oleh Allah SWT agar sikap istiqamah Rasulullah bisa menjadi teladan bagi umatnya.

Allah SWT sudah menjamin bahwa Rasulullah SAW pasti masuk surga. Namun, sikap istiqamah beliau dalam menjalankan ibadah tak pernah surut barang sekali pun. Beliau tetap rajin ke masjid, rajin menolong kaum dhuafa, menjaga silaturahim, dan amal-amal kebaikan lainnya. Beliau tegak lurus menjalankan segala kebaikan meskipun Allah sudah menjanjikan kepadanya kenikmatan-kenikmatan di surga.

Beliau istiqamah menjalankan Qiyamul Lail, sujud berlinang air mata di gulitanya malam, memohon ampunan dari Allah SWT. Sampai sang istri, Aisyah ra heran, “Bukankah engkau ya Rasulullah, sudah dijamin masuk surga?”

Rasulullah menjawab dengan bahasa yang sangat indah, “Apakah kamu, duhai istriku, tidak menyukai aku menjadi hamba yang gemar bersyukur?” Inilah sikap istiqamah beliau dalam menjalankan ibadah.

Kenapa Rasulullah SAW tetap diperintahkan untuk istiqamah? Karena jalan dakwah yang ditempuh sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, adalah jalan terjal yang penuh ujian, tantangan, dan godaan. Banyak yang berusaha untuk menggelincirkan beliau dari jalan dakwah. Beragam usaha dilakukan untuk membendung risalah yang dibawanya. Namun, Allah memberi kekuatan dengan memerintahkan beliau untuk istiqamah, tegak lurus di atas jalan kebenaran.

Allah SWT berfirman, Maka boleh jadi engkau (Muhammad) hendak meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan dadamu sempit karenanya, karena mereka akan mengatakan, “Mengapakah tidak diturunkan kepadanya harta (kekayaan) atau datang bersamanya malaikat?” Sungguh, engkau hanyalah pemberi peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu. (QS Hud: 12).

Baca Juga :  Kemesraan Rasulullah Bersama Anak-anak

Pada ayat di atas, Allah SWT mengingatkan Rasulullah SAW bahwa boleh jadi engkau wahai Muhammad, sebagai manusia akan tergiur oleh godaan kekayaan yang akan melalaikan tugasmu sebagai pembawa risalah Islam. Karena itu, bersikaplah lurus (istiqamah) dengan tidak tergiur oleh bujuk rayu harta benda dunia, dan tetap menjalankan tugasmu sebagai pemberi peringatan. Allah lah yang akan menjadi Pemeliharamu, Pelindung hidup dan matimu.

Makhluk yang pertama kali ingin menggelincirkan dan menyesatkan kita dari jalan Allah SWT adalah setan. Dan, setan ini sangat istiqamah dalam menjalankan aksi jahatnya. Karena itulah setan bersumpah atas nama Allah SWT akan terus menggoda umat manusia, menggelincirkannya dari jalan kebenaran, menjerumuskannya ke dalam kubangan kemaksiatan, dari Nabi Adam as sampai Hari Kiamat kelak.

Allah berfirman, “Maka turunlah kamu (iblis) darinya (surga) karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Susungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina.” (Iblis) menjawab, “Berilah aku penangguhan waktu, sampai hari mereka dibangkitkan.” (Allah) berfirman, “Benar, kamu termasuk yang diberi penangguhan waktu.” (Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.” (QS Al-A’raf: 13-16).

Menariknya, dalam ayat tersebut Allah SWT menyebut jalan-Nya dengan sebutan “al-mustaqiin” (jalan yang lurus). Istiqamah dengan “shiraathal mustaqim” itu satu akar kata. Sebab, kata “mustaqim” itu berasal dari kata “istiqamah.”

Mustaqim adalah jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah SWT, dan jalan orang-orang yang dijauhi dari kesesatan. Jalan, yang kita berdoa dan memohon kepada-Nya untuk tetap istiqamah berdiri tegak di atasnya dalam setiap salat.

Rasulullah SAW pernah mengambil ranting pohon, kemudian menggoreskannya di tanah dengan membuat banyak garis kecil yang menyimpang. Garis lurus itu adalah jalan Allah, sedangkan garis-garis yang menyimpang itu adalah jalan orang-orang yang menyempal, jalan yang membuat manusia tersesat dari apa yang digariskan oleh Allah.

Baca Juga :  Cara Menasihati ala Rasulullah, Agar Nasihat Tak Sekadar Lewat

“Dan inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah. Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain (yang menyimpang), karena jalan-jalan itu akan menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS Al-An’am: 153).

“Katakanlah: “Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku menyeru kepada Allah dengan keterangan yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108).

Istiqamahlah! Tegak berdiri di jalan yang lurus. Bersabarlah dalam menjalani hidup dan menyampaikan risalah dakwah. Jangan ingin cepat-cepat sampai. Jangan mencari jalan pintas. Jangan memanen di saat musim bercocok tanam. Jika belum masa memetik buah, maka cara yang terbaik adalah merawatnya sampai kita menuai panen. Kebanyakan yang menyempal dari jalan lurus adalah mereka yang tidak sabar dalam berjuang. Pragmatis. Menjalani hidup dengan kalkulasi dunia.

Sikap istiqamah kita akan diuji. Harta, tahta, dan wanita adalah ujian yang sudah ada sejak zaman purbakala hingga saat ini. Karena itulah, banyak orang yang berusaha mengejar kesenangan dan perhiasan dunia. Jika kita lulus dalam ujian itu, maka kita benar-benar menjadi pribadi yang istiqamah. Kata pepatah Arab, “Pada setiap ujian ada dua kemungkinan: lulus menjalaninya sehingga menjadi mulia atau gagal dan terhina.”

Istiqamah Adalah Jalan Terpuji

Sikap istiqamah adalah jalan terpuji. Namun, untuk membuktikannya, kita harus mengalami berbagai ujian dunia. Rasulullah SAW menegaskan bahwa kelak pada akhir zaman, orang-orang yang istiqamah (berpegang teguh pada jalan Allah) seperti orang yang memegang panasnya bara api. Karena itu, mereka istiqamah pada akhir zaman adalah “para pengenggam bara api” yang siap terbakar, hangus menjadi abu, demi tegaknya izzah Islam dan kaum Muslimin.

Siapa yang lidahnya istiqamah, maka hatinya akan istiqamah. Siapa yang istiqamah di jalan Allah, maka ketenangan dan kenyamanan batin akan diraihnya. Inilah jalan para Nabi dan Rasul, jalan para syuhada dan shiddiqin. Jalan yang kelak Allah curahkan segala nikmat yang tiada taranya di surga.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah pernah mengatakan, “Ketahuilah bahwa jalan Islam ini adalah jalan yang menyebabkan Nabi Nuh menjadi tua; Nabi Yahya dibunuh dengan keji; Nabi Zakariya digergaji; Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api yang membara. Jalan ini juga adalah jalan Muhammad SAW dan para sahabatnya yang disiksa oleh orang-orang Quraisy. Maka, apakah kalian berharap dapat menjalankan Islam dengan mudah, yang kemudian kemenangan itu datang menghampiri kalian? Tidak mungkin! Allah pasti akan menguji kalian!”

Mereka yang istiqamah akan diuji. Mereka yang komitmen berdiri tegak di atas kebenaran akan dihampiri oleh bujuk rayu dan godaan-godaan. Allah berfirman, Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan bahwa kami telah beriman, padahal mereka belum diuji. (QS Al-Ankabut: 2).

Baca Juga :  Menjaga Amanah, Menjaga Kemuliaan Diri

Buya Hamka pernah mendekam di bui selama dua tahun lebih tanpa proses hukum dan pengadilan di Era Orde Lama Soekarno. Sang ayah, Haji Abdul Karim Amrullah nyaris dipenggal kepalanya karena menolak untuk melakukan upaya menyembah matahari oleh pemerintah Jepang. Begitu juga Kiai Hasyim Asyar’i yang tetap teguh menentang penghormatan Dewa Matahari di zaman kolonial Jepang meski ia harus disiksa dan dipenjara. Ketiganya istiqamah, tegar menghadapi walaupun siksaan di depan mata, bahkan kematian mengintainya.

Sikap istiqamah ini harus menjadi karakter kita. Tegak lurus berdiri dan meniti jalan yang diridhai Allah SWT. Tak takut dengan hinaan dan cacian. Tak tergoda oleh segala kesenangan yang memikat. Itulah ciri mukmin sejati yang dicintai dan mencintai Allah SWT.

“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Ma’idah: 54).

Kalau sikap ini sudah menjadi karakter dalam diri kita, maka tak akan lagi berguna segala bujuk rayu dunia!

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.