Jalan terdekat menuju surga melalui majelis ilmu

Jalan terdekat menuju surga melalui majelis ilmu

Artikel ini disarikan dari program Motivasi Al-Qur'an yang mengudara setiap Kamis 05.30-06.30 WIB di Suara Muslim Radio Network.

Suaramuslim.net – Patut direnungi sebuah doa Nabi Muhammad yang terekam dalam Surat Thaha ayat 114, spirit motivasinya sungguh mencerahkan.

فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡحَقُّۗ وَلَا تَعۡجَلۡ بِٱلۡقُرۡءَانِ مِن قَبۡلِ أَن يُقۡضَىٰٓ إِلَيۡكَ وَحۡيُهُۥۖ وَقُل رَّبِّ زِدۡنِي عِلۡمٗا

“Maka Maha-tinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya; dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”

Sekaliber Rasulullah saja masih bersemangat untuk mendapatkan ilmu, semestinya itu dapat memacu jiwa ini untuk lebih bersemangat.

Bahkan setelah turun ayat itu, beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

“Tidak ada keberkahan bagiku dengan terbitnya matahari jika hari itu aku tidak menambah ilmu yang dapat mendekatkan diriku kepada Allah.”

Karena itulah dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad senantiasa berdoa seperti ayat di atas itu namun lebih lengkap.

اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا علَّمتني، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Ya Allah, berilah aku manfaat melalui ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarilah aku hal-hal yang bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan, dan segala puji bagi Allah dalam semua keadaan.”

Sungguh teladan yang baik beliau ini, teladan yang abadi bagi kita. Begitu semangatnya mengejar ilmu.

So, bagaimana dengan kita, masihkah malas mengejar ilmu bahkan sekalipun banyak kemudahan untuk meraihnya?

Jika ilmu yang bermanfaat menjadi perlambang keutamaan yang agung, mestinya seorang muslim tidak akan pernah merasa puas dengan ilmu. Karena junjungan kita Rasulullah telah memberikan contoh dengan doanya.

Jalan terdekat menuju Allah

Manusia yang normal mestinya dia akan terus belajar dan belajar dengan ilmu. Inilah pula yang disabdakan oleh Nabi Muhammad.

“Ada dua orang yang begitu rakus dan tidak pernah merasa kenyang: (1) penuntut ilmu (agama) dan (2) pencari dunia.” (Riwayat Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 1: 92, shahih).

Semangatlah mengejar ilmu (agama), jangan hanya semangat mengejar dunia, karena semangat kita dengan ilmu, akan membuat jalan mulus menuju surga.

Nabi Muhammad telah memotivasi hal itu kepada kita.

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (Riwayat Muslim, No. 2699).

Seolah dari hadis itu menunjukkan bahwa jalan terdekat menuju surga adalah dengan ilmu.

Dr. Musthafa Dib Al-Bugha ketika menjelaskan hadis arbain ke-36, menyatakan, bahwa ilmu adalah jalan terdekat menuju Allah.

Karena itulah orang berilmu menjadi kekasih Allah (waliyullah). Ini diungkap oleh Imam Al-Ghazali.

“Jika orang yang alim (berilmu) itu tidak dianggap waliyullah, maka saya tidak tahu lagi siapa yang disebut waliyullah.”

Mendekatlah dengan para guru, karena mereka adalah wali-wali Allah.

Ilmu yang bagaimana yang bisa membuat jalan terdekat kepada Allah?

  1. Ilmu yang dilandasi oleh keikhlasan, hanya untuk menambah kedekatan kepada Allah bukan untuk sombong dan alat mendebat orang lain.

“Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan maksud untuk membanggakan diri di hadapan ulama atau untuk mendebat orang-orang bodoh, atau agar dengan ilmunya tersebut semua manusia memberikan perhatian kepadanya, maka dia di neraka.” (Riwayat Ibnu Majah).

  1. Ciri ikhlas sebagai dasar mencari ilmu adalah tidak malu berkata tidak tahu” jika memang benar tidak tahu.

Ada ungkapan para ulama, “pernyataan saya tidak tahu adalah separuh ilmu.”

  1. Bermanfaat untuk diri dan orang lain.

Karena ilmu cahaya dan cahaya itu pasti memberikan penerangan kepada diri dan orang lain.

Sebuah ungkapan menarik tentang ini, “Barang siapa ilmunya bertambah, namun tidak dibarengi dengan bertambahnya petunjuk (ketakwaan), maka ia semakin jauh dari Allah.”

Karena itu Nabi selalu mengulang doa ini;

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah. Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah merasa kenyang dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (Riwayat Muslim No. 6906).

Dengan ilmu bukan hanya tahu kebenaran tapi menjadi benar dan manfaat kepada orang lain.

  1. Ilmunya selalu menjadi dasar dalam beramal.

Siapapun yang beramal atas dasar ilmu, maka Allah akan mengajarkan ilmu yang tidak ia ketahui. Lihatlah surat Al Baqarah ayat 282.

وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱللَّهُۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ

“Dan bertakwalah kepada Allah; maka Allah akan mengajarimu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Masya Allah, inilah kenapa para ulama memiliki kemampuan yang luar biasa dalam memberikan penjelasan dari setiap kata dari Al-Qur’an dan Hadis.

Sungguh memalukan kalau ada ulama yang beramal tidak sesuai dengan ilmunya. Karena kelak di akhirat akan diperlihatkan oleh Allah.

Dari Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu anhu secara marfu’, “Pada hari kiamat nanti akan didatangkanlah seseorang, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka sehingga usus-usus dalam perutnya terburai. Lalu ia berputar-putar seperti keledai berputar-putar pada penggilingannya.

Para penghuni neraka mengerumuninya seraya bertanya, “Wahai fulan! Kenapa kamu? Bukankah engkau dulu memerintahkan perbuatan baik dan mencegah perbuatan mungkar?”

Ia menjawab, “Benar, dulu aku memerintahkan kebaikan tapi tidak melaksanakannya, dan aku mencegah kemungkaran tapi justru melakukannya.” Wal ‘iyadzu billah.

Datangilah dan dekatlah dengan waliyullah dan datangilah dan dekatlah dengan majelisnya mereka. Kumpul dan bareng berzikir dengan mereka, karena siapa saja yang dekat dengan majelis para ulama dan masuk dalam kumpulan majelisnya, maka akan mendapatkan empat manfaat yang luar biasa.

Semuanya terangkum dalam hadis shahih ini.

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikelilingi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (Riwayat Muslim, No. 2699).

  • Turunnya sakinah di hati kita

Diriwayatkan dari Al-Bara bin Azib radhiyallahu ‘anhu, “Ada seseorang membaca Al-Kahfi dan di rumah itu ada hewan. (Ketika orang itu baca surah Al-Kahfi) hewan itu bergerak ke sana ke mari lalu membacakan salam dan seketika ada kabut atau awan yang menaunginya. Kemudian ia menceritakan hal itu kepada Nabi. Beliau bersabda, “Bacalah terus wahai fulan karena itu adalah sakinah yang turun karena Al-Qur’an.” (Al-Bukhari & Muslim).

Kalau ada masalah sebelum berada di majelis ilmu, maka masalah itu akan terlupakan karena hati sudah tenang. Begitu tenangnya sehingga bisa tertidur.

  • Diliputi rahmat

Al-Hakim meriwayatkan hadis dari Salman bahwa ia berada dalam kelompok orang yang berzikir kepada Allah, Maka Rasulullah melewati mereka dan berkata: “Apa yang kamu zikirkan, karena aku melihat rahmat sedang turun kepada kalian. Dan aku ingin bergabung dengan majelis kalian.”

Di antara rahmat Allah itu adalah kehadiran syariat yang moderat dalam hidup Islam seolah dengan ilmu, kita dapat memahami syariat dengan utuh dan menjalankannya pun tidak berat.

Rahmat Allah yang lainnya adalah kasih sayang kepada sesama. Artinya semakin sering mendatangi majelis ilmu semestinya semakin toleran terhadap sesama karena memahami perbedaan itu rahmat.

Sehingga kalau ada orang sering datang ke majelis ilmu namun memiliki sifat yang tidak rahmat kepada seseorang, maka gantilah ke majelis ilmu lainnya.

  • Para malaikat mengerumuninya dan selalu memantaunya

“Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda rida pada penuntut ilmu.” (Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, At-Tirmidzi. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini dha’if. Sedangkan Al-Albani menshahihkan hadis ini).

Maksudnya, para malaikat benar-benar menghormati para penuntut ilmu. Atau maksudnya pula malaikat turun dan ikut dalam majelis ilmu. (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 493).

Jika orang terkenal dikerumuni para fans itu artinya ia dicintai. Lalu kalau sudah dikerumuni seolah dilingkari pengawalan yang ketat dari malaikat, maka masihkah ada yang jahat dapat mendekatinya? Tentu akan kesulitan.

  • Allah akan membanggakan mereka di hadapan para malaikat

Kalau ada seorang prajurit yang dipuji di hadapan panglimanya oleh presiden sudah tentu bangganya luar biasa. Maka tidak terbayang kalau yang memujinya itu adalah Allah di hadapan para malaikat yang suci. Tentu ini menunjukkan bahwa orang yang datang ke majelis ilmu itu lebih suci dari malaikat.

Perhatikan hadis panjang ini;

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki malaikat-malaikat yang berkelana di jalan-jalan mencari ahli zikir. Jika mereka telah mendapatkan sekelompok orang yang berzikir kepada Allah, mereka duduk bersama dengan orang-orang yang berzikir.

Mereka saling mengajak: “Kemarilah kepada hajat kamu.” Maka para malaikat mengelilingi orang-orang yang berzikir dengan sayap mereka sehingga langit dunia.

Kemudian Allah bertanya kepada mereka, sedangkan Dia lebih mengetahui daripada mereka, “Apa yang diucapkan oleh hamba-hamba-Ku?”

Para malaikat menjawab, “Mereka mensucikan-Mu (mengucapkan tasbih: Subhanallah), mereka membesarkan-Mu (mengucapkan takbir: Allah Akbar), mereka memuji-Mu (mengucapkan Alhamdulillah), mereka mengagungkan-Mu.”

Allah bertanya, “Apakah mereka melihat-Ku?”

Mereka menjawab, “Tidak, demi Alah, mereka tidak melihat-Mu.”

Allah berkata, “Bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?”

Mereka menjawab, “Seandainya mereka melihat-Mu, tentulah ibadah mereka menjadi lebih kuat kepada-Mu, lebih mengagungkan kepada-Mu, lebih mensucikan-Mu.”

Allah berkata, “Lalu, apakah yang mereka minta kepada-Ku?”

Mereka menjawab, “Mereka minta surga kepada-Mu.”

Allah bertanya, “Apakah mereka melihatnya?”

Mereka menjawab, “Tidak, demi Alah, Wahai Rabb, mereka tidak melihatnya.”

Allah berkata, “Bagaimana seandainya mereka melihatnya?”

Mereka menjawab, “Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih semangat dan lebih banyak meminta serta lebih besar keinginan.”

Allah berkata: “Lalu, dari apakah mereka minta perlindungan kepada-Ku?”

Mereka menjawab, “Mereka minta perlindungan dari neraka kepada-Mu.”

Allah bertanya, “Apakah mereka melihatnya?”

Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rabb. Mereka tidak melihatnya.”

Allah berkata, “Bagaimana seandainya mereka melihatnya?”

Mereka menjawab, “Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih menjauhi dan lebih besar rasa takut (terhadap neraka).”

Allah berkata, “Aku mempersaksikan kamu, bahwa Aku telah mengampuni mereka.”

Seorang malaikat di antara para malaikat berkata, “Di antara mereka ada Si Fulan. Dia tidak termasuk mereka (yakni tidak ikut berzikir). Sesungguhnya dia datang hanyalah karena satu keperluan.”

Allah berkata, “Mereka adalah orang-orang yang duduk. Teman duduk mereka tidak akan celaka (dengan sebab mereka).” (Al-Bukhari dan Muslim).

Wallahu A’lam

M Junaidi Sahal
Disampaikan di Radio Suara Muslim Surabaya
18 November 2021/13 Rabiul Akhir 1443

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on whatsapp
Share on WhatsApp
Share on telegram
Share on Telegram

Leave a comment