SURABAYA (Suaramuslim.net) – Di era ketika ruang komunikasi semakin tanpa sekat, jarak bukan lagi menjadi alasan untuk memperlambat sebuah ikhtiar. Informasi bergerak cepat, komunikasi dapat berlangsung langsung, dan berbagai urusan dapat dituntaskan tanpa harus selalu melewati panjangnya jalur birokrasi.
Semangat efisiensi dan progresivitas itulah yang turut mewarnai aktivitas di Yayasan Griya Al Qur’an Surabaya (YGAS).
Bahkan, informasi tentang kedatangan tamu dari Jakarta yang baru diterima sehari sebelumnya, dapat segera ditindaklanjuti hingga menjadi ruang silaturahmi dan diskusi tentang kebermanfaatan bagi umat.
Tamu tersebut adalah Dr. H. Rojikin, S.H., M.Si., QIA, salah satu Anggota Dewan Pengawas Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Republik Indonesia. Didampingi mitra penyelenggara Program Kemaslahatan BPKH di wilayah Jawa Timur, beliau bertandang ke Kantor Pusat Yayasan Griya Al Qur’an di Jl. Dinoyo 57 Surabaya, Senin (1/9/2026).
Kunjungan tersebut disambut oleh Ustadz Amirul Yatim, Head of Baitul Maal Griya Al Qur’an; Rosi, Corcomm YGAS; serta Muhammad Nashir, Direktur Commercial Suara Muslim Radio Network.
Meski merupakan kunjungan perdana Dr. Rojikin ke Griya Al Qur’an, banyak hal yang menjadi perhatian.
Selain menjalankan tugas dan fungsi pengawasan terhadap program kemaslahatan BPKH, beliau juga menyempatkan diri berkeliling melihat secara langsung aktivitas pembelajaran di lingkungan Dinoyo 57.
Mulai dari ruang-ruang kelas pembelajaran Al Qur’an hingga studio Suara Muslim tak luput dari kunjungan.
Dari sana, beliau melihat bagaimana pembelajaran Al Qur’an dan dakwah dikembangkan dalam satu ekosistem yang saling terhubung.
Monitoring program kemaslahatan
Yayasan Griya Al Qur’an Surabaya menerima amanah Program Kemaslahatan BPKH RI berupa satu unit mobil operasional yang diserahkan pada November 2025.
Kunjungan kali ini merupakan kunjungan kedua tim BPKH RI dalam rangka monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan serta kebermanfaatan program tersebut.
Turut mendampingi dalam kunjungan tersebut Adityo Negoro, Asisten Manajer Pelmonev (Pelaporan, Monitoring, dan Evaluasi).
Proses tersebut mencakup pengawasan pelaksanaan program, evaluasi dampak, serta penyusunan laporan atas Program Kemaslahatan BPKH yang dijalankan di YGAS.
Dalam sambutannya, Dr. Rojikin menjelaskan bahwa berbagai ikhtiar Program Kemaslahatan BPKH diarahkan untuk meningkatkan kemaslahatan umat Islam.
Hal tersebut merupakan bagian dari amanat Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Haji, yang menjadi dasar pembentukan BPKH.
“Selain punya peran penting dalam memudahkan layanan bagi para jamaah haji dan umat Islam yang belum berhaji, kami juga menjaga amanah dari jamaah ini dengan hati-hati, sangat prudent dan terbuka, tanpa kecurangan. Itu pula berdasarkan hasil audit WTP,” jelasnya.
Menurutnya, pengelolaan dana tersebut harus dijalankan secara amanah agar manfaatnya dapat dirasakan, baik oleh jamaah yang akan berangkat haji maupun masyarakat yang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji.
Salah satu bentuk pemanfaatannya adalah melalui berbagai program kemaslahatan, mulai dari dukungan terhadap penyelenggaraan ibadah haji hingga bidang sosial, pendidikan, dakwah, pemberdayaan ekonomi, kesehatan, dan sosial keagamaan.
Pemerataan manfaat tersebut terus diupayakan agar keberadaan dana yang dikelola dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

Apresiasi untuk pembelajaran Al Qur’an khusus dewasa
Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan simbolis Program Kemaslahatan berupa mushaf Al-Qur’an. Namun, perhatian Dr. Rojikin tidak hanya tertuju pada program yang mendapatkan dukungan BPKH. Beliau juga memberikan apresiasi terhadap program reguler YGAS, khususnya kelas pembelajaran Al Qur’an bagi orang dewasa.
“Terkait dengan Griya Al Qur’an ini, belajar itu adalah minal mahdi ilal lahdi. Sangat bermanfaat dan layak didukung. Untuk giat pembelajaran keagamaan, harus kita biayai sendiri,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan dukungannya terhadap upaya pembelajaran baca tulis Al Qur’an dan pendidikan agama bagi masyarakat.
“Saya mendukung pembelajaran Al Qur’an ini, baca tulis, belajar agama. Merupakan tanggung jawab kita untuk mendidik moral masyarakat dari penyimpangan yang kian marak,” tambahnya.

Memangkas jarak, memperluas jangkauan dakwah
Diskusi kemudian berkembang pada peran media dalam memperluas jangkauan dakwah. Jika teknologi telah memangkas jarak dalam komunikasi dan membuat informasi bergerak tanpa sekat, maka media dakwah memiliki peran serupa: memangkas jarak antara pesan kebaikan dan masyarakat yang membutuhkan.
Suara Muslim Radio Network menjadi salah satu ikhtiar untuk menghadirkan pembelajaran Al-Qur’an dan kajian keislaman lebih dekat kepada masyarakat.
Dakwah tidak hanya hadir melalui frekuensi radio, tetapi juga melalui berbagai platform digital, media sosial, radio streaming, hingga siaran langsung melalui YouTube dan event off air.
Muhammad Nashir, Direktur Commercial Suara Muslim Radio Network, menyampaikan optimisme bahwa sinergi program kemaslahatan BPKH dapat terus dikembangkan sehingga manfaatnya menjangkau lebih banyak masyarakat, khususnya di Jawa Timur.
Potensi kolaborasi pun terus dibuka dan dikemas dalam berbagai bentuk, sejalan dengan semangat menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas.
Sebab pada akhirnya, seperti halnya komunikasi yang hari ini tidak lagi mengenal jarak, dakwah pun diharapkan demikian: semakin dekat, semakin mudah diakses, dan semakin luas menjangkau umat.
Dari satu ruang pembelajaran di Dinoyo 57, pesan Al-Qur’an terus bergerak melampaui dinding kelas; menembus frekuensi, layar, dan berbagai platform digital.
Memangkas jarak komunikasi, untuk menghadirkan kemaslahatan; memangkas jarak dakwah, agar Al-Qur’an semakin dekat dengan umat.

