pergerakan islam

Penulis: Yusuf Maulana

Suaramuslim.net – Haji Rasul, Abdul Karim Amrullah, mengetahui kehebatan HOS Tjokroaminoto. Kendati begitu, Haji Rasul tak berkenan aktif di Sjarikat Islam. Tapi kelak anaknya, Abdul Malik Karim Amrullah, pada umur 16 tahun pergi ke Jawa menimba ilmu pada, salah satu, Tjokroaminoto.

Karena kebesaran dan karisma yang menyerupai nubuat sosok Ratu Adil, massa yang mengelu-elukan Tjokroaminoto acap kali berlebihan dan menjurus kultus. Ini yang tak disukai kawan berjuangnya, Masyudul Haq alias Agus Salim. Tjokroaminoto berbesar hati atas kritik kawan setianya itu.

Pada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawy, pemangku kehormatan ulama Tanah Jawi di Mekah, berguru ponakannya, Agus Salim, semasa bekerja di konsul Belanda di Jeddah. Pada Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawy pula sebelumnya pernah belajar Haji Rasul. Belajar dengan metode pengajaran berbeda karena dua nama anak didik berbeda masa itu miliki keunikan masing-masing.

Di Tanah Suci, Agus Salim bersua dengan anak dari murid gurunya yang bernama Abdul Malik Karim Amrullah atau akrab disebut ‘Hamka’. Atas nasihat Agus Salim, Hamka diperintahkan untuk mengabdi ke negerinya, bukan berdiam lama di Tanah Suci. Bertahun kemudian, Hamka syukuri pernah dinasihati Agus Salim Sosok yang seperti jadi gurunya di Jawa.

Baca Juga :  Jalan Tengah Bukan Jalan Pintas

Inikah jangkar ilmu, pergerakan, dan cita-cita memuliakan Islam. Mudah dipertemukan oleh sosok yang awalnya tak kenal sama sekali. Kelak pada masanya ruh mereka dipertautkan, dikaitkan dengan alam perjuangan yang sama.

Berbeda latar, modal pemikiran, kecenderungan minat, semua ini bukan masalah. Selagi jangkar masih sama, yakni cita-cita untuk agama, pelabuhan sandaran tetap sama. Meski di atas buritan bisa berbagai wadah berjuang atau alat berkiprah. Tapi semuanya berfokus pada kekurangan di tubuh umat untuk selanjutnya dibenahi bersama-sama.

Melampaui genetik, hubungan karena persaudaraan dalam berjuang bisa mengatasi beda yang ada. Asalkan tahu apa jangkar yang menyeret mereka mesti dan harus bersatu, yakni problematika umat. Haji Rasul dan Agus Salim berletih-letih belajar pada Syeikh Ahmad Khatib karena ingin benahi masalah masyarakatnya. Setali juga Tjokroaminoto dan Hamka. Di tiap masa masing-masing dengan cita-cita sama.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.