Ilustrasi Generasi Milenial. (Ilustrator: Ana Fantofani)
Ilustrasi Generasi Milenial. (Ilustrator: Ana Fantofani)

Penulis: Grienda Qomara*

Suaramuslim.net – Era digital hari ini diikuti optimisme milenial dalam berbagai bidang. Dalam ekonomi ada sharing economy dan perlombaan menjadi founder start up. Dalam politik, milenial menujukkan aspirasinya baik dengan berpartisipasi langsung dan rayuan para jubir muda partai politik. Di balik optimisme dan euforia itu, milenial patut mewaspadai dua jebakan maut di hadapan mereka.

-Advertisement-

Penelitian We Are Social tahun 2018 menungkap bahwa orang Indonesia rata-rata menghabiskan 3 jam 23 menit sehari dengan bermedia sosial. Sebagian besar dari mereka menggunakan Facebook (41%) dan WA (40%), serta Instagram (38%). Lamanya waktu yang dihabiskan untuk bermedia sosial membuat milenial sulit membedakan realitas di dunia maya dan dunia nyata. Mereka terjebak pada apa yang dinamakan hiperrealitas.

Hiperrealitas adalah kondisi dimana realitas dunia maya dianggap nyata, bahkan mengalahkan realitas di dunia nyata. Hiperrealitas dikemukakan Jean Baudrillard sebagai kondisi berbaurnya antara kepalsuan dan keaslian, fakta dan rekayasa serta nyata dan semu. Media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter menyajikan realitas virtual yang seringkali dianggap sebagai realitas di dunia nyata atau mewakili dunia nyata.

Baca Juga :  Tuan Guru Bajang: Politik Adalah Ranah Dakwah

Padahal seringkali realitas virtual di media sosial sering menipu. Banyak milenial yang boros dan konsumtif termakan iklan gambar dan copywriting yang memikat di media sosial. Tidak jarang mereka juga silau dengan bahagianya hidup para selebgram. Tidak sedikit milenial yang bercita-cita mendirikan start up bermodal postingan para pendiri start up di akun mereka tanpa melihat proses kerja keras yang panjang sebelumnya. Yang ada kemudian adalah euforia pada realitas yang maya. Padahal kenyataanya tidak semudah itu.

Mungkin teknologi membuat segala sesuatunya menjadi lebih cepat, instan, dan mudah. Tetapi kenyataannya tetap sama. Kerja keras, sabar, kecerdasan dan kesuksesan tidak berubah hukum besinya. Butuh proses yang panjang, tanpa pamer di media sosial, dan ketekunan dalam kesunyian. Terlalu banyak melihat kebahagiaan palsu orang lain di media sosial dapat mengurangi semangat juang di dunia nyata. Terlalu terlarut dalam perdebatan politik di media sosial oleh akun-akun buzzer bayaran tidak akan berguna untuk masa depan.

Jebakan lain yang juga tidak kalah mematikan adalah pendangkalan cara berpikir. Milenial yang sering mengakses informasi melalui internet dan media sosial akan mengalami banalitas. Nicholas Carr dalam bukunya yang berjudul The Shallows menujukkan hasil risetnya bahwa otak juga beradaptasi dengan kebiasaan manusia mengakses informasi. Jalur neuronal otak yang lentur akan menyesuaikan dengan pencarian informasi yang instan, cepat, tidak mendalam (artifisial), dan sederhana. Maka otak akan mengubah cara kerjanya menjadi terbiasa dengan semua hal yang cepat, instan dan tidak mendalam. Akibatnya otak akan kesulitan menerima informasi yang mendalam, panjang, dan rumit. Kinerja otak akan mengalami pendangkalan.

Baca Juga :  Masduki Baidluwi: Agama Itu Politik

Padahal di era digital, permasalahan tidak semakin sederhana, justru semakin kompleks. Keterkaitan antar disiplin semakin kuat (interdisipliner). Kesaling-terhubungan antar pihak semakin kompleks dengan adanya teknologi komunikasi. Milenial tidak hanya dituntut untuk memiliki keahlian yang mumpuni di satu bidang tetapi juga mengetahui hal-hal mendasar di bidang lain. Mereka tidak cukup memiliki core competence di satu bidang tetapi juga memiliki keterampilan digital untuk menunjang bidang utamanya. Ini semua membutuhkan kesabaran, ketekunan, pikiran kritis, dan kedalaman dalam belajar. Tanpa itu, milenial akan terhanyut dalam distraksi informasi.

Maka, milenial harus menghindari jebakan ini dengan tetap menjaga nalar dan rasionalitas. Pada kenyataanya mereka harus tetap bersabar dalam belajar, kritis dalam berpikir dan cerdas dalam memilah informasi yang penting dan tidak.  Laporan World Economic Forum berjudul The Future Jobs meletakkan Complex Problem Solving, berpikir kritis dan kreativitas sebagai kemampuan yang paling dibutuhkan kedepan. Menyelesaikan masalah yang kompleks membutuhkan daya pikir dan kreativitas. Semua itu tidak bisa dimiliki dengan otak yang terlalu banyak sampah informasi.

Baca Juga :  Gerakan Penganut Khittah NU Gelar Bedah Buku Bertema NU Jadi Tumbal Politik Kekuasaan

Ke depan milenial dihadapkan pada tantangan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan teknologi. Milenial dituntut menjadi spesialis sekaligus generalis. Sepertinya milenial harus berhenti bereuforia dalam diskursus Revolusi Industri 4.0 dan bonus demografi tanpa persiapan yang matang. Karena jalan kedepan tidak semudah itu.

*Peminat Politik Digital
*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.