Bunda Asteria Ratnawati Saroinsong – Psikolog Layanan Psikologi Bijaksana, Wakil Ketua Yayasan Advokasi Sadar Autisme, Narasumber Bidang Psikologi Perkembangan & Pengembangan Diri. Foto: suaramusim.net

Suaramuslim.net – Saat ini memang banyak sekali yang berkaitan dengan sudut pandang berpikir atau sudut pandang melihat suatu masalah. Terutama terhadap perbedaan anak-anak kita. Makna anak-anak yang saya maksud ini luas. Tidak sekadar anak kecil, bahkan ketika sudah dewasa ada yang masih terbawa hal yang dulu mungkin dibanding-bandingkan secara tidak sengaja oleh orang tuanya.

Ada contoh kasus, seorang anak yang sudah dewasa punya anak, dan anak ini sering dibandingkan dengan keluarga yang lain yaitu kakak sepupunya. Dan sampai dewasa mereka tidak bermusuhan, tetapi ketika ada titik-titik tertentu dia bilang “kan kamu emang lebih baik.” Nah, seperti ini bisa terus terbawa sampai dewasa. Bisa berbahaya ketika terbawa semacam dendam pribadi. Pada akhirnya segala sesuatu selalu dibandingkan dulu dengan sepupunya.

Padahal kalau kita lihat sekilas pun baik-baik saja. Tetapi ternyata meskipun orang lain memandang baik-baik saja, dalam dirinya ia merasa “aku nggak seperti itu ya.”

Lalu dampak membandingkan itu sendiri apa?

Ketika masih anak-anak yang merasakan lebih kepada personal. Tetapi ketika mereka sudah menikah biasanya lebih kompleks. Biasanya kalau sudah berumah tangga perbandingan yang dilihat orang lebih mengarah seperti material, lebih mengarah terhadap status ekonomi.

Ini tidak terjadi kepada semua orang. Hanya beberapa saja orang yang mengalami hal demikian.

Ketika sudah berkeluarga sebenarnya banyak yang harus dijaga. Karena ketika sudah berkeluarga ada yang namanya pasangan, ada juga anak-anak. Saya pikir ketika sudah dewasa kita juga harus grow up. Jangan mudah terbawa dengan hal-hal seperti itu. Tetapi sudah saatnya kita menentukan langkah kita atau hidup kita. Kalaupun sudah terjadi ya abaikan. Problema-problema seperti itu merupakan bagian dari hidup. Dan saat ini kita harus lebih fokus agar hidup kita jauh lebih baik.

Bagaimana caranya?

Yang pertama, kita tidak harus terus menerus terbawa untuk dibanding-bandingkan diri kita dengan yang lain. Yang kedua, dengan menyibukkan diri melakukan hal-hal positif. Dan ketika perasaan itu datang, alangkah baiknya bercerita kepada pasangan. Jangan sampai membuat anak-anak terlibat terhadap perbedaan-perbedaan yang terjadi tersebut.

Dalam hidup kita harus bisa meraih meaningful life, apa pun keadaan kita, mari kita lakukan lebih baik agar hidup kita berarti. Meaningful life dalam setiap orang berbeda-beda. Jadi alangkah baiknya kita fokus menjalani hidup kita lebih berarti.

Bunda Asteria Ratnawati Saroinsong – Psikolog Layanan Psikologi Bijaksana, Wakil Ketua Yayasan Advokasi Sadar Autisme, Narasumber Bidang Psikologi Perkembangan & Pengembangan Diri.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.