Kampanye Pilpres Berebut Suara Milenial
Bustomi dan Rofi Arga dalam talkshow Ranah Publik di Radio Suara Muslim (26/12/18).

SURABAYA (Suaramuslim.net) – Suara generasi milenial dengan rentang umur 17-34 tahun tak bisa dipandang sebelah mata dalam Pemilu 2019. Sebab, menurut Saiful Mujani Research Consulting saat ini setidaknya 34,4 persen masyarakat Indonesia ada di rentang umur emas tersebut. Lantas ke mana arah suara generasi milenial ini pada Pilpres 2019 mendatang dan bagaimana upaya timses masing-masing pasangan capres cawapres dalam menarik suara milenial? Radio Suara Muslim menghadirkan program talkshow Ranah Publik edisi catatan akhir tahun, “Berebut Suara Milenial” pada Rabu (26/12/18) pukul 08.00-09.30 WIB.

Potensi Generasi Milenial

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Universitas Trunojoyo Madura Surochiem Abdusalam dalam talkshow Ranah Publik Suara Muslim Surabaya 93.8 fm (26/12) mengatakan, sebetulnya yang banyak diperbincangkan adalah milenial muda. Ia melanjutkan, meskipun ada beberapa kategorisasi milenial dari segi umur, namun yang paling rumit adalah milenial muda, yang baru pertama kali memilih, mereka mudah menerima informasi dari berbagai pihak, sangat dinamis, dan sulit menjadi pemilih loyal sehingga cenderung berpotensi menjadi swing voters.

“Milenial muda sulit menjadi pemilih loyal karena diterpa informasi yang sangat intens, maka dari itu mereka sebenarnya pemilih yang paling sulit untuk diraih,” ujar Surochiem melalui sambungan telepon.

Surochiem menyebut, meski sulit untuk pemilih muda menjadi loyal, namun seandainya ada capres dan cawapres yang bisa meraih suara pemilih milenial maka mereka dapat memberikan efek besar melalui pertemanan lintas batas di media sosial.

“Kadang-kadang jika dilihat tipenya milenial juga sangat agresif, oleh karenanya melihat tipikal yang seperti itu, jika calonnya seusia Kiai Makruf Amin, agak susah bisa memahami kaum milenial yang dinamis, muda, dan stylish. Ya agak sulit, karena berbeda kebiasaan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Sambangi Prabowo dan Salim Segaf, GNPF Ulama Serahkan Rekomendasi

Surochiem menjelaskan, menurut survei yang ia lakukan pemilih loyal dan bisa diandalkan adalah pemilih ibu-ibu, karena di samping tidak materialistik juga memiliki kesetiaan. Hal ini sangat jauh jika dibandingkan dengan pemilih muda, mereka sulit diraih dan setiap saat bisa berubah pilihan.

“Jadi tingkat partisipasi sejauh ini paling besar ibu-ibu maka bisa diandalkan untuk menjadi strong voters, makanya kadang-kadang saya mengatakan pemilih milenial itu dianggap sunnah saja lah,” tuturnya.

Era Milenial dan Emak-Emak

Berbeda halnya dengan Surochiem, peneliti politik internasional di the Initiative Institute, Bustomi dalam talkshow Ranah Publik Suara Muslim Surabaya 93.8 fm (26/12)  menyatakan, kadangkala pemahaman seseorang berbeda mengenai pemilihan milenial. Jika mereka berada di rentang usia 16-19 tahun maka total hanya ada 14 juta dari keseluruhan daftar pemilih tetap. Tetapi jika usianya 17-35 tahun maka jumlahnya naik menjadi 79 juta.

“Jika menggunakan data 17-40 tahun, jumlahnya menjadi 100 juta, jika menggunakan persepsi ini maka angkanya banyak,” paparnya.

Bustomi menjelaskan, sejak 2012 ada polarisasi yang semakin mengkristal terkait siapa yang harus dipilih, sebenarnya pemilih capres-cawapres nomor urut 01 dan 02 sudah mempunyai basis pendukung tradisional yang disebut cebong dan kampret.

“Jika dilihat dari pemilih tradisional, maka mereka tidak termasuk pemilih muda. Maka kita lihat di antara Pak Jokowi dan Mas Sandi berusaha tampil se-milenial mungkin, namun dari segi usia Sandi lebih dekat dengan milenial oleh karenanya dia menggunakan kaos saat awal pertama tampil,” ungkapnya.

Baca Juga :  Survei PUSAD UM Surabaya: 98,2% Masyarakat Jatim Terima Politik Uang

Bustomi menilai, saat ini terlihat ada 2 kelompok yang diperebutkan di pemilu 2019, tidak hanya pasangan calon presiden namun juga partai, mereka adalah pemilih milenial dan barisan emak-emak.

“Tetapi yang paling cair adalah kelompok milenial terutama usianya 17-30 tahun dengan jumlahnya 35 juta lebih. Mereka terkumpul di area Jawa. Makanya logis jika Sandi membuat Sahabat Sandi sementara Jokowi mendekati geng motor, karena jumlah milenial signifikan,” jelasnya.

Bustomi menjelaskan, dalam penelitian menyebutkan tidak semua pemilih partai, akan memilih calon presiden yang diusung partainya, 70 persen pemilih milenial ini menentukan pilihan pada detik-detik akhir.

“Seharusnya narasi yang diberikan agar menarik perhatian milenial adalah isu pengangguran, bagaimana ketersediaan lapangan kerja, ketersediaan perumahan, hal ini penting bagi kaum milenial, karena mereka memerlukan kepastian di masa mendatang,” paparnya.

Ada hal lain yang kadang dilewatkan lembaga survei, lanjut Bustomi, angka milenial yang signifikan itu terdapat kaum santri, dimana mereka masih berpotensi memilih Kiai Makruf.

“Jadi meskipun mereka sebagai milenial masih bisa sambung dengan Kiai Makruf dikarenakan kedekatan emosional antara santri dan guru,” paparnya.

Milenial di Kalangan Urban

Mewakili kaum milenial, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa ITS periode 2016-2017 Rofi Arga dalam talkshow Ranah Publik Suara Muslim Surabaya 93.8 fm (26/12) mengatakan, akun yang banyak dipakai oleh milenial adalah Instagram, sementara Facebook saat ini dipakai orang-orang tua.

Baca Juga :  Bertemu GNPF Ulama, UAS Siap Hadiri Deklarasi Prabowo - Salim Segaf

“Saat akan diundang ke studio, saya meminta pendapat melalui Instagram bagaimana pendapat teman-teman untuk kampanye pilpres tahun 2019. Mayoritas mereka memberi saran bagi pasangan capres cawapres untuk mengurangi gimmick,” jelasnya.

Arga menjelaskan, jika generasi milenial tidak tertarik dengan politik itu bukan karena sebab sesaat, tetapi akibat dari banyaknya kejadian politik yang diisukan kurang baik di berbagai media, akhirnya membuat generasi muda muak dengan itu semua.

“Misalkan saat politik identik dengan kasus-kasus korupsi, janji kosong, akhirnya kami yang muda ini menjadi aneh, itu orang sudah korupsi kok muncul lagi di media,” ungkapnya.

Menurut Arga, milenial saat ini tahu, mana yang alamiah dan hanya gimmick. Seperti yang banyak dibahas, saat terjadi bom di Surabaya, selang beberapa waktu Pak Presiden langsung turun melihat langsung ke TKP.

“Kalau kita mikirnya di mana-mana yang namanya Presiden harus terjaga dan steril dengan lokasi bahaya, saya kira itu bukan hal yang pintar dan cerdas karena itu membahayakan Presiden. Sementara Bang Sandi malah melakukan hal yang konyol saat kampanye di pasar dengan menaruh petai di kepala. Itu bagi kami hanya gimmick,” paparnya.

Arga menjelaskan, generasi milenial urban mungkin lebih tertarik saat timses mengadakan acara resmi seperti seminar, kemudian calon presiden dan wakil presiden menjelaskan tentang gagasan mereka untuk anak muda, dan mahasiswa diberikan ruang untuk bertanya.

“Ketika diberi wadah seperti itu, saya yakin pemuda akan tertarik datang dan mendengarkan,” ungkapnya.

Kontributor: Dani Rohmati
Editor: Muhammad Nashir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.