Apa Beda Membaca Surat Al Kahfi Malam dan Hari Jum’at

Suaramuslim.net – Bagi saya pribadi sebagai penyahadat Rasulullah Muhammad, fenomena wabah pandemi Covid-19 ini melahirkan dua perenungan; prihatin dan yakin.

Respons prihatin disikapi dengan senantiasa berdoa, tirakat kuat dan taat menjalani protokol sehat.

Selain prihatin, justru menambah mutu pilihan kepercayaan yakin beriman Al-Qur’an; ainul hingga haqqul.

Sebelum heboh berita karantina dan anjuran pembatasan kegiatan, Al-Qur’an sudah mewartakan dalam Al-Kahfi yang eposnya bersejarah membawa hikmah.

Cerita karantina mereka biasa ditadarusi santri tiap Jumat pagi. Terutama sepuluh ayat awal yang wajib dihapal.

Ayat ini mengisahkan 7 pemuda yang memilih isolasi mandiri hijrah ke dalam gua demi pemurnian akidah ilahiyah mereka. Sekaligus misi menyelamatkan diri dari terornya rezim penguasa lalim.

Pada latar cerita yang berbeda tempat dan waktunya, sirah nabawiyah juga memiliki relevansi faedah kisah seperti Al-Kahfi ini.

Para Rasulullah, di antara perjalanan spiritualnya, ditempuh dengan cara “pertapaan” dan karantina badan.

Atas mekanisme wahyu, mereka berdiam di satu tempat, berpindah sesaat, lalu munajat dan mendekat kepada Allah SWT.

Rasulullah Muhammad menyepi “karantina mandiri” di Gua Hira untuk membersihkan diri dari parasit peradaban dan penyakit lingkungan di jazirah Makkah, waktu itu.

Mereka berkhalwat dan tirakat selama prosesi bertapa ini. Kemudian masyhur disejarahkan, beliau mendapat mandat wahyu iqra saat ngelmu di Gua Hira; Nabi membawa misi pedagogi bagi umatnya yang berliterasi jahili.

Kalimullah Nabi Musa dikarantina 40 hari di Gunung Thur. Beliau diwahyukan untuk berdiam sementara dari penggembalaan umat Bani Israilnya.

Selama isolasi di Gunung Thur, Allah menurunkan suhuf-suhuf yang akan digunakan dalam misi pelayanan lanjutan.

Suhuf Taurat Musa yang diperoleh selama karantina mandiri ini berisi protokol kesehatan kelakuan berupa perintah dan larangan bagi umat Yahudi.

Nabi Nuh diisolasi mandiri dalam bahtera bersama umatnya yang selamat dari bencana banjir raksasa.

Beliau membawa pasangan-pasangan hewan beserta aneka tanaman flora yang dikarantina untuk misi pelestarian bumi dan pewaris habitat umat.

Isolasi mandiri Nabi Nuh bersama umatnya mengajari kita mitigasi bencana dan kontijensi semesta.

Khalilullah Nabi Ibrahim sebagai bapak ideologi keluarga Muslim, pun mengalami proses “isolasi” ini beserta keluarganya.

Cerita Ibu Hajar beserta Nabi Ismail kecil saat ditinggal di padang pasir Arafah, adalah protokol karantina tarbiyah rumah tangga sakinah mawaddah wa rahmah.

Dari isolasi yang amat berat ini, kita diajarkan makna cinta keluarga beragama yang berdimensi ukhrawi melalui tradisi napak tilas jejak rukun wukuf dan lari sa’i waktu ibadah haji.

Ruhullah Nabi Isa juga mengalami cerita serupa. Beliau sejak lahir bayi, sudah diisolasi mandiri bersama ibunya.

Sepanjang misi juang, beliau terus hijrah berpindah akibat dibully dan dikejar tentara Romawi yang diprovokasi Rabi ulama Yahudi.

Karantina mulia Ibu Maryam dalam mihrab saat perawannya, kemudian dilanjutkan perjalanan bersama sang putera, mengajarkan kepeloporan single parent seorang muslimah yang tangguh tanpa keluh. Pejuang mujahidah yang pantang menyerah.

Cerita isolasi Al-Kahfi yang juga dijalani rasul kategori ulul azmi ini memberikan ilham pelajaran kepada kita.

Pertama, tentang kaderisasi keluarga yang militan beriman dengan menjadikan rumah sebagai pusat madrasah sekaligus giat ibadah.

Pas dengan situasi terkini yang mengharuskan ketaatan protokol work from home (WFH).

Jadikanlah rumah sebagai ladang sawah pembibit pejuang bernutfah mujaddid.

Kedua, karantina mandiri saat ini berhikmah tarbiyah supaya keluarga kita bisa memurnikan ketauhidan di tengah wabah akidah masyarakat yang bermoral fasad dan bermental sesat.

Asumsikan rumah kita sebagai “gua alkahfi” yang berfungsi sebagai perimeter pertahanan sekaligus bunker perlindungan dari collateral damage amuk tubruk perang ideologi asimetri saat ini.

Ketiga, bila 7 pemuda Al-Kahfi dimukjizatkan Allah dengan hibernasi dan telinga mereka di-mute off 309 tahun lamanya, kita bisa juga menempuh karantina serupa.

Kondisikan keluarga supaya mengurangi kecanduan media sosial dan pola komunikasi viral selama bulan suci Ramadan ini.

Anggap saja terapi ruhani detoks digital dari arus informasi penyesatan massal oleh gedibal spekulan pemodal dan pasukan Dajjal.

Keempat, berangkat dari cerita Al-Kahfi dan perjalanan spiritual Nabi, kita diajarkan untuk fokus menjadikan keluarga sebagai aset utama yang mesti dilindungi dan niscaya dijaga.

Terutama jaman milenial ini, di tengah pengelolaan bumi yang dizalimi oleh mafia kleptokrasi dan penguasa jahili, pilihan kita hanya karantina bersama keluarga.

Jadikan masjid sebagai kekuatan spirit pertahanan di tengah musibah kerusakan mental dan kejahatan moral milenial.

Semoga saja lewat uji protokol isolasi ini, Allah SWT sengaja mencerdaskan kita supaya bisa mengkader pelopor keluarga survivor yang mulia berderajat selamat dunia akhirat.

Gus Adzim
Mengabdi di Ponpes SPMAA Turi, Lamongan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.