Penawar Azab
Ilustrasi seseorang sedang menangis. (Ils: Josiah Davis/Dribbble)

Suaramuslim.net – Allah memberi kebebasan manusia untuk berbuat sekehendak hatinya, entah berbuat baik atau buruk. Namun Allah menunjukkan konsekuensi atas pilihan itu, dan manusia tidak bisa menolaknya. Bila pilihannya berbuat baik, maka kelak akan menerima balasan kebaikan dan kebahagiaan berupa surga. Sebaliknya bila pilihannya berbuat keburukan atau kejahatan, maka menerima balasan kesengsaraan dan kehinaan berupa neraka.

Kebebasan itu sengaja diletakkan dan diberikan hak penuh kepada manusia, dan pada akhirnya akan mempertanggungjawabkan pilihannya di hadapan Allah.

Manusia boleh dan bebas tidak mengakui eksistensi Tuhan dan menolak akhirat, sehingga mereka pun bebas untuk tidak menunaikan ibadah salat atau hilang kepeduliannya pada orang lain. Bahkan dia leluasa melakukan kemaksiatan, seperti menindas dan mengambil hak orang lain hingga menyebabkan kesengsaraan dan penderitaan manusia.

Ketidakpercayaan adanya Allah dan penolakan eksistensi akhirat akan memperoleh balasan berupa hukuman yang menghinakan.

Peran akal dan hati nurani

Manusia diberikan akal dan hati nurani untuk membedakan perbuatan baik dan buruk serta dampak negatifnya. Pada saat yang sama manusia diberikan kebebasan untuk menentukan pilihan. Oleh karena itu Allah membebaskan manusia berbuat apa saja, seperti menipu, curang, atau membohongi orang lain.

Manusia sering mengira bahwa perbuatannya akan berlalu tanpa ada balasannya. Karena terkadang tidak ada dampak langsung yang dirasakannya ketika berbuat zalim. Terlebih lagi, ketika sedang berkuasa penuh dan memiliki pengikut yang banyak dan setia, sehingga apapun perbuatannya tanpa ada yang menghalanginya.

Namun dalam pandangan Islam, orang seperti ini tidak akan merasa aman saat menghadapi kematian. Allah akan menegakkan keadilan dengan seadil-adilnya. Siapa pun yang berhadapan dengan pengadilan Allah bukan hanya menegangkan urat leher, tetapi akan membuat manusia tercengang dan meruntuhkan nyalinya.

Mereka yang berbuat baik pun, khawatir perbuatan baiknya tertolak, dan berbalik akan menerima siksaan. Sementara bagi mereka yang berbuat jahat, jiwanya ketakutan dan yakin akan memperoleh hukuman yang menghinakan dan menyakitkan dirinya, sebagaimana firman-Nya:

يَوۡمَ تَجِدُ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا عَمِلَتۡ مِنۡ خَيۡرٖ مُّحۡضَرٗا وَمَا عَمِلَتۡ مِن سُوٓءٖ تَوَدُّ لَوۡ أَنَّ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَهُۥٓ أَمَدَۢا بَعِيدٗاۗ وَيُحَذِّرُكُمُ ٱللَّهُ نَفۡسَهُۥۗ وَٱللَّهُ رَءُوفُۢ بِٱلۡعِبَادِ

“(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan (hari) itu. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya. Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya.” (Ali Imran: 30).

Mereka yang telah melakukan kejahatan sudah menduga akan menerima hukuman dan akan terhina. Mereka akan menerima siksa pedih karena berani menentang kebenaran, dan telah melakukan kejahatan besar. Allah secara tegas memastikan bahwa setiap manusia akan berhadapan secara langsung guna mempertanggungjawabkan apa yang menjadi telah diperbuatnya.

Balasan Allah dari perbuatan zalim, semata-mata menghilangkan kezaliman dan tegaknya keadilan, sebagaimana firman-Nya:

فَكَيۡفَ إِذَا جَمَعۡنَٰهُمۡ لِيَوۡمٖ لَّا رَيۡبَ فِيهِ وَوُفِّيَتۡ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا كَسَبَتۡ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ

“Bagaimana jika (nanti) mereka Kami kumpulkan pada hari (Kiamat) yang tidak diragukan terjadinya dan kepada setiap jiwa diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya dan mereka tidak dizalimi (dirugikan)?” (Ali Imran: 25).

Ketika di akhirat keadilan Allah tersingkap dan terbukti, sehingga keputusan-Nya akan menentramkan hati mereka yang percaya akan janji-janji Allah, saat di dunia. Sebaliknya, mereka yang terjerembab dalam perbuatan buruk, akan merasa ketakutan dan menyadari bahwa pilihannya salah, dan menyesali seluruh perbuatannya yang menolak kebenaran.

Nabi sebagai manusia pilihan

Allah tidak hanya membebaskan manusia untuk menentukan perbuatan, tetapi Allah ikut campur dengan menunjukkan pilihan terbaik agar manusia memperoleh bimbingan menuju keselamatan. Untuk membimbing jalan keselamatan, Allah mengutus orang terbaik di zamannya. Mereka adalah para nabi dan rasul yang siap membimbing dan mengarahkan umatnya meraih kemenangan hakiki.

Allah menjamin kecintaan pada hamba-hamba yang mengikuti petunjuk utusan itu dengan mengampuni dosa dan kesalahannya, sebagaimana firman-Nya:

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ

“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31).

Ketika diampuni dosa-dosanya, Allah akan membalas surga dengan segala kenikmatannya. Allah menunjuk manusia terbaik di zamannya guna dijadikan panutan dan rujukan meraih petunjuk mulia. Mereka ini diakui oleh masyarakatnya sebagai manusia teladan dan layak dicontoh baik akhlak maupun perbuatannya. Manusia ini diakui keunggulan akhlak-perangainya, dan ini diketahui secara umum di masyarakatnya.

Sosok nabi atau rasul ini terlacak dengan baik latar belakang keluarganya, dan bahkan orang dan nenek moyangnya dikenal sebagai orang mulia. Allah mencatat manusia-manusia terbaik, yang dekat dan memperoleh kedudukan tinggi di sisi-Nya. Allah menyebut contoh-contoh sebagian manusia terbaik yang disebut di dalam Al-Qur’an:

إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰٓ ءَادَمَ وَنُوحٗا وَءَالَ إِبۡرَٰهِيمَ وَءَالَ عِمۡرَٰنَ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing).” (Ali Imran: 33).

Mereka adalah manusia pilihan serta pantas dijadikan panutan di tengah masyarakatnya. Mereka bukan hanya berakhlak tetapi siap berjuang membebaskan umat manusia dari keburukan dan meraih derajat kemuliaan. Utusan Allah ini sekaligus sebagai saksi terhadap orang-orang yang menentang kebenaran dan memilih jalan kemaksiatan sebagai pilihan hidup, serta bersungguh-sungguh dalam melakukan penyimpangan.

Surabaya, 14 Oktober 2020
Dr. Slamet Muliono Redjosari
Dosen Fakultas Ushuluddin & Filsafat
UIN Sunan Ampel Surabaya
Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.