Keluarga Sekolah Utama
Misbahul Huda bersama isteri, anak-anak, dan cucu-cucunya. (Dok. pribadi)

Suaramuslim.net – Model pendidikan anak pada zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, bersandar pada keluarga. Kita sering mendapati hadis yang sanadnya berbunyi ‘an ‘Umar ‘an abihi ‘an jaddihi sami’tu rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam qala (dari Umar dari bapaknya dari kakeknya, saya mendengar Rasulullah bersabda). Jalur periwayatan hadis ini menandakan pendidikan masa itu terjadi sesuai dengan hierarki dalam keluarga, dari Rasulullah ke kakek Umar, dari kakek ke ayah Umar, dan dari ayahnya sampai ke Umar.

Kini, zaman berubah, demikian juga konsep dan model pendidikan. Ketika sains dan teknologi semakin maju dan berkembang, orang tua semakin sibuk dan tidak mempunyai waktu dan kompetensi ilmu yang memadai untuk mengajar anaknya. Maka lahirlah berbagai lembaga penitipan pendidikan anak, baik formal maupun non-formal, seperti sekolah, madrasah dan juga pesantren.

Sesuatu yang harus digarisbawahi, meski pengajaran bisa dialihperankan kepada sekolah atau pesantren, tetapi tanggung jawab pendidikan tidak serta merta bisa dialihkan kepada guru atau ustaz. Tanggung jawab pendidikan tetap bertumpu pada kedua orang tua di rumah, terutama ayah. Hal ini tidak bisa dialihkan dan dipindahtangankan, meskipun orang tua sudah merasa membayar mahal sekolah dan pesantren favorit pilihannya.

Baca Juga :  Harapan Baru Bagi Anak-Anak yang Terabaikan

Para orang tua, jangan sia-siakan masa-masa emas pembentukan otak anak (golden period) 0-10 tahun. Pengalaman saya dalam mengasuh anak, sebagai sekolah pertama dan utama, kami manfaatkan untuk memperkenalkan banyak hal pada anak-anak. Misalnya terhadap si sulung Mutik, saya kenalkan “cara cepat belajar membaca dan cara cepat belajar Matematika” versi Glein Domann sejak balita, bahkan sebelum dia bisa berjalan.

Saya buat sendiri flash card berukuran besar dari sisa kertas cetak, dan menulisi sendiri dengan kertas manila atau spidol marker warna merah-hitam-biru (warna mencolok yang disukai balita). Kami ajari sendiri dalam suasana riang gembira dengan flash card tadi, untuk memasukkan banyak informasi dan memperkaya memorinya. Tak ada pertanyaan, tak ada tes atau ujian, karena ujian dan pertanyaan itu beban bagi balita.

Saya dan istri juga begitu “kekeuh” mengajari sendiri Mutik mengaji. Hasilnya, saat masuk Taman Bermain (play group), si Mutik sudah bisa Matematika sederhana, mampu membaca buku dan membaca Al Quran dengan lancar. Bahkan sudah khatam Al Quran sebelum masuk TK. Modal awal itu menjadi bekal ananda menyerap ilmu-ilmu berikutnya.

Baca Juga :  Bentuk Sibling Rivalry Sesuai Tahapan Usia Anak

Ternyata usaha kami tidak sia-sia. Mutik dewasa tidak hanya piawai menulis tapi juga mempunyai talenta bahasa melebihi kedua orang tuanya. Ia menguasai Bahasa Inggris, Perancis, Jepang, Arab dan tentu saja Bahasa Indonesia.

Intinya, setiap orang tua wajib mengasuh, mendidik, memenuhi hak-hak awal anak dan mempersiapkan masa depan anak-anaknya. Pada saat yang sama orang tua harus tetap mau “sekolah” di rumah. Maksudnya mau belajar pada keunikan setiap anak yang dititipkan Allah padanya, agar menjadi orang tua piawai. Dengan penunaian hak-hak anak tersebut, menjadi sebab kepantasan turunnya hidayah (petunjuk) pada keluarga khususnya sang anak, serta menjadi faktor keberhasilan dan kebahagiaan mereka dalam kehidupan dunia maupun akhirat.

*Diambil dari buku “Bukan Sekadar Ayah Biasa” karya Misbahul Huda. Buku yang bercerita bagaimana pengalaman ayah hadir dalam pengasuhan anak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.