inilah perayaan Idul Fitri di Penjuru Dunia

Suaramuslim.net – Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, setiap Hari raya Idulfitri, begitu akrab di telinga kita dengan kata kembali ke fitrah. Untaian kalimat yang begitu indah dan penuh berkah. 

Akan tetapi semua itu bukan sekadar kata penghias ucapan belaka, melainkan suatu ungkapan yang harus memotivasi kita untuk kembali kepada fitrah, sebagai kunci sukses seorang manusia di dunia dan akhiratnya. Maka dari itu kita harus memahami makna Idulfitri yang sebenarnya.

Idulfitri dimaknai kembali suci seperti lahirnya seorang bayi. 

Maksudnya tidaklah sekadar seperti bayi yang bebas dari dosa. Namun lebih mendasar dengan konotasi akidah islamiyyah. Sebagaimana Sabda Nabi:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ

Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?” (Al-Bukhari). 

Jadi, dalam hal ini, Idulfitri artinya kembali kepada Islam kaffah yang lurus, yakni ber-aqidah salimah (akidah yang selamat dari kemusyrikan) dan ibadah shahihah (ibadah yang benar). (QS.Ar Ruum: 30 dan Al A’raaf: 172).

Idulfitri juga dimaknai sebagai kemampuan diri dalam menilai baik-buruknya sesuatu

Pada dasarnya setiap manusia, apa pun latar belakngnya, bahkan orang kafir atau penjahat sekali pun sejatinya bisa melihat mana yang baik dan mana yang buruk, itulah fitrah manusia. 

Hanya saja mereka sudah ternodai dan dikotori oleh perbuatannya sendiri sebagai akibat dari hawa nafsu yang tidak terkendali. 

Maka, kembali kepada fitrah adalah kemampuan menilai baik dan buruk segala sesuatu, baik secara akal, berdasarkan wahyu maupun berdasarkan nurani. 

Orang yang kembali kepada fitrah akan berlaku lebih baik, karena dia mengetahui mana yang baik dan buruk dan dia akan cendrung memilih yang baik karena akidah yang lurus.

“Berdamai” dengan Virus Corona dalam berhari raya

Karakter mukmin adalah mampu beradaptasi dan bersosialisasi dalam setiap situasi dan kondisi. 

Rasulullah bersabda:

عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ . فكان خيرًا له . وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له

Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (Muslim).

Sudah selayaknya seorang mukmin menyambut dengan penuh suka cita dengan adanya momen hari raya Idulfitri ini. Kebahagiaan ini berjalan seiring dengan antusiasnya warga muslim dalam menyambut Ramadan, hingga akhirnya mencapai hari kemenangan pada tanggal 1 Syawal 1441 H ini, meskipun sedang dilanda pandemi.

Sebagaimana yang dilakukan masyarakat Indonesia pada umumnya saat lebaran tiba. Semangat berbagi, bermaaf-maafan dengan sanak keluarga, tetangga, rekan kerja hingga teman yang jauh. Silaturrahim semacam ini harus terus dilestarikan dengan tetap mempertimbangkan berbagai keadaan.

Virus corona yang sedang melanda di bumi tahun ini menjadi sejarah kelam bagi umat Islam ketika hendak berlebaran. 

Semula silaturrahim yang amat kental dengan nuansa seperti berjabat dan cium tangan, hingga saling berpelukan seperti menjadi sebuah keharusan. Akan tetapi kebiasaan dan ciri khas tersebut sementara ini harus ditiadakan sementara demi keselamatan dan kemaslahatan bersama. 

Kita sebagai umat muslim harus menjadi garda terdepan untuk menekan penyebaran wabah Covid-19 ini dengan cara mematuhi segala protokol kesehatan dan sosial distancing atau physical distancing.

Adapun silaturrahim, dapat kita ganti dengan berbagai cara dan gaya seiring dengan fenomena kemajuan teknologi yang makin canggih ini. Sehingga silaturrahim dapat dilakukan via daring (online) melalui berbagai platform dan akun. 

Menjaga fitrah di tengah wabah

Bulan Ramadan menjadikan diri kita kembali kepada fitrah. Dengan berbagai ibadah dan amal saleh meskipun harus dilaksanakan secara darurat Covid-19 dan cukup di rumah saja atau Work From Home (WFH). 

Selanjutnya, tinggal kita istiqamah-kan pada sebelas bulan yang akan datang, di samping juga mentransportasikan nilai-nilai Ramadan dalam segala aspek kehidupan sehingga tetap terjaga kefitrahan kita. (QS. Fussilat ayat 30 dan Al Ahqaf ayat 13).

Momen peningkatan takwa 

Intinya, output pendidikan Ramadan adalah mencetak seorang insan yang berjiwa fitrah, berupaya membentuk jati diri sebagai seorang mukmin yang bertakwa sesungguh-sungguhnya (QS Ali Imran: 102).  

Bahkan dengan Idulfitri seorang mukmin tidak hanya mempertahankan iman dan takwa. Melainkan juga harus dibarengi dengan tambahnya ketaatan kepada Allah SWT. Hal ini senada dengan maqalah yang berbunyi,

ليس العيد لمن لبس الجديد، إنما العيد لمن طاعته تزيد

Hari Raya (Idulfitri) bukan sekadar (tentang) baju yang baru, karena sesungguhnya Hari Raya (Idulfitri) adalah tentang siapa yang ketaatannya bertambah.

Alhasil, dengan jati diri yang mantap, iman takwa yang kuat inilah wujud dari insan kamil yang berjiwa fitrah. Insya Allah hidup makin berkah, membawa manfaat dan maslahat fiddini waddun-ya hattal akhirah… AAmiin.

Wallahu a’lam bis shawab

(Khozin Mustafid, S.Ag, M.Pd.I – Narasumber Program Solusi Ustaz Radio Suara Muslim)
Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.